IndoPetroNews

Headlines News :
SKKMigas

Translate by Google

Beyond Communication


ACT


PetroInfo

PetroComodity

Deputi Pengendalian Operasi SKK Migas : Permintaan Petrochemical Saat Ini Meningkat

indoPetroNews.com - Akhir-akhir ini terjadi peningkatan permintaan petrochemical di kalangan industri dalam negeri. Namun sayangnya terkendala oleh harga yang kecil sehingga  keekonomiannya tidak ketemu.

Demikian salah satu poin penting yang dikemukakan Deputi Pengendalian Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Muliawan  pada acara “Sharing Knowledge Petrochemical", Kamis (29/9) di Ruang Serbaguna SKK Migas, Gedung City Plaza Lantai 9, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

"Misalnya industri di Kaltim yang meminta pasokan petrochemical untuk pupuk. Karena tak terpenuhi, akhirnya petrochemicalnya diekspor," katanya. Muliawan  tidak menampik, ekspor gas dan petrochemical kurang memberikan nilai tambah (added value) bagi Indonesia.

Oleh sebab itu, Muliawan berharap, di masa mendatang dapat dibangun kompleks petrochemical yang holistik, dari upstream  (hulu) hingga downstream (hilir). "Bila ini dilakukan maka akan memberi nilai tambah bagi peningkatan industri dalam negeri," paparnya.

Dia juga menyatakan, persoalan harga petrochemical perlu ada kajian secara holistik. Kajian  yang dilakukan secara komprehensif dari upstream hingga downstream. "Apabila pembangunan kompleks petrochemical dapat dilakukan, pemenuhan kebutuhan dalam negeri bisa dipenuhi dengan harga yang ekonomis," kata Muliawan, sembari berharap forum ini dapat dimanfaatkan maksimal oleh karyawan SKK Migas untuk peningkatan wawasan dan pengetahuan, khususnya terkait petrochemical bagi pengembangan industri.

Sementara itu, James dari IHS Markit, mempresentasikan soal Global Energy & Petrochemical Industry Outlook Opportunities and Implicating for Indonesia. Menurut James industri petrochemical adalah
industri yang memproduksi barang berbahan baku minyak bumi dan gas. "Industri petrokimia mulai mengonversi produk dari minyak bumi dan lemak nabati pada tahun 1918," kata James. Proses industrialisasi petrochemical semakin meluas hingga saat ini.

James juga mengutarakan bahwa permintaan produk petrokimia di Asia, khususnya di Indonesia mengalami pertumbuhan permintaan yang tinggi dipicu oleh kombinasi faktor-faktor non-cyclical termasuk di dalamnya investasi dalam skala besar dari industri manufaktur, produk pengganti dari bahan dasar, naiknya tingkat pendapatan dan jumlah populasi yang meningkat.

Tema lain yang juga diulas dalam forum Sharing Knowledge Petrochemical ini adalah Petrochemical Business & Value Chain, Current practices of the global petrochemicals industry – insights from an integrated energy company, dan Overview Business Process Olefin Petrochemical Industry Indonesia & Relationship with Oil & Gas Sectors. (Sofyan)

Pertamina Gandeng Sonatrach Guna Tingkatkan Bisnis Migas

indoPetroNews- PT Pertamina (Persero) dan Sonatrach, pada Rabu (28/9/2016) bersepakat melakukan peningkatan kerjasama minyak dan gas bumi (migas) kedua perusahaan. Kerjasama ini merupakan kelanjutan dari kesepahaman yang sudah dicapai keduanya pada 2012.

“Pertamina memiliki aspirasi penting untuk meningkatkan eksistensinya di luar negeri, termasuk di Aljazair. Penandatanganan nota kesepahaman ini akan menjadi landasan bersama antara Pertamina dan Sonatrach untuk terus tumbuh dan berkembang tidak hanya di Aljazair, melainkan juga melihat kesempatan dan peluang kerjasama di belahan dunia lainnya,” kata Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto.

Seperti diketahui, melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Internasional Eksplorasi (PIEP) dan Produksi, Pertamina terus menggenjot peningkatan kontribusi produksi migas dari luar negeri. Hingga Agustus 2016, produksi PIEP telah mencapai 120.590 barrel oil equivalent per day (boepd) atau 15,38% di atas target perusahaan sebesar 104.950 boepd.

Kontribusi terbesar produksi dari asset luar negeri Pertamina, bersumber dari Irak dengan tingkat produksi net to share 43,7 ribu boepd. Di susul dengan Aljazair dengan produksi net to share sebesar 41,13 ribu boepd dan Malaysia 35,77 ribu boepd.

Berbekal nota kesepahaman ini, Pertamina dan Sonatrach akan melakukan analisis dan evaluasi atas peluang ekplorasi produksi baik di Aljazair, Indonesia, dan negara lain. Pertamina dan Sonatrach juga memiliki peluang untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek hulu, hilir, dan services migas di kedua negara.

Beberapa peluang kerjasama lainnya juga dijajaki, seperti pertukaran informasi industri gas alam dan turunannya, termasuk kerjasama di bidang LNG, bisnis minyak mentah, kondensat, petrokimia, LPG, dan optimasi pemasaran migas. Selain itu, kedua perusahaan juga dapat melakukan kerjasama riset dan pengembangan serta peningkatan kapabilitas dan pertukaran ahli. (Sofyan)

PLTU Nasional Diharapkan Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Tanah Air

indoPetroNews- Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencanangkan program Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nasional untuk meningkatkan pemanfaatan tingkat kandungan dalam negeri.

PLTU Nasional ini akan menggunakan bahan bakar kalori rendah, yang akan dibangun dengan segenap potensi bangsa dan menggunakan produk-produk buatan industri dalam negeri melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Strategis dan akan melibatkan kontraktor Nasional. Direncanakan pemanfaatan kandungan dalam negeri ditargetkan mencapai lebih dari 50 %.

Sebagai catatan, PLTU adalah pembangkit yang mengandalkan energi kinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik.

Saat ini sedikitnya terdapat 201 unit PLTU skala kecil dan menengah yang terdiri dari 30 unit PLTU 100 megawatt (MW), 37 Unit PLTU 50 MW, 37 Unit PLTU 25 MW dan 72 Unit PLTU di bawah 25 MW dengan kapasitas total 6.550 MW. Pembangunan PLTU skala kecil dan menengah ini membutuhkan dana investasi lebih dari Rp 150 triliun.

Berdasarkan data yang dimiliki PLN yang mengacu pada Kementerian Perindustrian terkait kemampuan pabrikan dan kontraktor dalam negeri, hampir seluruh komponen pembangkit tersebut dapat dibuat dalam negeri, hanya beberapa komponen yang masih harus diimpor yaitu generator dan turbin.

Bila 50 % dari pembangkit skala menengah dan kecil tersebut dibuat di dalam negeri, secara langsung akan menghidupkan lebih dari 14 perusahaan BUMN Strategis yang sebelumnya memiliki utilitas rendah dan lebih dari 190 perusahaan swasta.

“Bayangkan, jika 50% saja pembangkit skala menengah dan kecil menggunakan tingkat kandungan dalam negeri sudah bisa menghidupkan lebih dari 200 perusahaan BUMN dan swasta, berapa besar pertumbuhan ekonomi secara langsung yang dihasilkan dari program PLTU Nasional ini,” kata Direktur Pengadaan PLN
Iwan Supangkat, di sela-sela acara pembukaan rangkaian Hari Kelistrikan Nasional, pada Rabu (28/9/2016) yang digelar di JCC Jakarta.

Lebih lanjut Iwan menambahkan, PLTU kapasitas menengah kebawah itulah yang akan diarahkan untuk menjadi PLTU Nasional dengan tingkat kandungan dalam negeri mencapai lebih dari 50% dalam pembangunannya.

Rencananya PLTU Nasional pertama yang akan dibangun, adalah PLTU Madura dan PLTU Tarahan masing-masing kapasitas 2 x 100 MW serta PLTU Boroko berkapasitas 2 x 50 MW di Sulawesi Utara.

Program pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan 35.000 MW memiliki dimensi yang luas bagi pengembangan perekonomian Nasional. Selain mendorong pertumbuhan industri dan kesejahteraan masyarakat, Program ini juga memberikan multiplier effect bagi pelaku usaha yang terlibat saat pembangunannya. Hal ini sesuai dengan gagasan awal program 35.000 MW demi kesejahteraan nasional.

Program ketenagalistrikan 35.000 MW mencakup 35.000 MW pembangkit, 46.000 kilometer sirkuit transmisi dan 108.000 mega watt volt ampere gardu induk. Pembangunan jaringan distribusi, transmisi dan gardu induk sebagian besar telah menggunakan komponen dan kontraktor dalam negeri.secara keseluruhan target penggunaan kandungan dalam negeri lebih dari 40% dari seluruh pembangunan.

PLN berharap dengan pemakaian Tingkat Pemakaian Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi pada PLTU Nasional akan berdampak langsung bagi perekonomian sejak pertama pembangunannya. (Sofyan)

Wapres JK : Energi Listrik Jadi Kebutuhan Utama Pembangunan Indonesia

indoPetroNews- Energi listrik menjadi kebutuhan utama masyarakat dan pembangunan Indonesia. Demikian ditegaskan oleh Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla (JK), saat membuka Seminar Hari Listrik Nasional, dalam peringatan Hari Listrik Nasional ke-71 Tahun 2016, Rabu (28/9/2016) di Jakarta.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan sejarah ketenagalistrikan di Indonesia yang mengalami pasang surut. Apalagi, menurutnya listrik jadi sebuah barang dalam kategori mewah.

"Di mana 50 tahun listrik umumnya di perkotaan, di pedesaan listrik menjadi sebuah kemewahan. Tapi sekarang sudah berubah sesuai zaman," kata Wapres JK.

Peringatan Hari Listrik Nasional ke-71 Tahun ini berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

JK menambahkan bahwa ditengah fluktuasi dan menipisnya cadangan energi konvensional, energi listrik merupakan barang yang jadi kebutuhan utama. Bahkan katanya dalam hitungannya listrik jadi nomor keempat terpenting setelah sandang, pangan dan papan.

"Saya kira energi listrik kebutuhan dasar manusia di Indonesia. Mau mendapatkan komunikasi, informasi, membaca hingga sektor industri butuhkan listrik untuk itu listrik merupakan kebutuhan dasar keempat," ungkapnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, diantaranya adalah Pelaksana tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto serta Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir. (Sofyan)

Kebakaran, Shell Nigeria Tutup Pipeline Bonny Light

indoPetroNews- Divisi Nigeria Shell telah menutup satu dari dua pipeline yang menyalurkan Bonny Light crude ke terminal Forcados di Delta, Nigeria. Disebutkan bahwa terjadi kebakaran di jalur pipa. Penutupan tersebut akan mengurangi ekspor Shell Nigeria sebesar 180.000 barrel per day (bpd).

Pada waktu yang bersamaan, Shell masih tetap menolak konfirmasi ataupun menyangkal pengumuman dari Niger Delta Avengers (NDA), kelompok militan Delta Nigeria, dari Sabtu lalu. Dimana mereka akan meledakkan pipeline Bonny Light.

Disebutkan bahwa api ditemukan di Trans Niger Pipeline (TNP). Masih belum diketahui apakah api ini merupakan konsekuensi dari serangan NDA ataukah memang kecelakaan dari jalur pipa lainnya.

Sebelumnya Africa News juga menyebutkan bahwa Shell juga menutup TNP bulan lalu, setelah dideteksi adanya leak di section yang melewati Ogoniland, lokasi yang sama dengan tempat ditemukannya api.

NDA mengatakan bahwa pihaknya menyerang pipeline tersebut sebagai tanggapan dari upaya pemerintah atas “menyudahi dramatisasi” dari proses dialog dan negosiasi dengan Presiden Muhammadu Buhari dan pemerintahanya. Kelompok tersebut menambahkan pada pernyataannya bahwa pemerintah nantinya harus berusaha keras untuk meyakinkan NDA.

Dengan serangan tersebut, kelompok militan ini telah memecah 60 hari gencatan senjata yang rencananya dilakukan selama proses negosiasi dengan pemerintah federal dan mengakhiri kekerasan di Delta.

Sementara itu, Pemerintahan Nigeria kini tengah menuntut Shell, bersamaan dengan Eni, Chevron, Total dan Petrobras, atas dugaan mencuri minyak senilai US$12,7 miliar dengan melaporkan jumlah yang lebih kecil untuk kapal tanker dari pantai Nigeria dibanding denga jumlah yang sampai di Amerika Serikat, atau dengan tidak melaporkan kargo minyak mentah sama sekali. (Gadih)

Terungkap Minyak Bodong Glencore ke Pertamina, Siapa Bakal jadi Kambing Hitam?

indoPetroNews- Suplai minyak bodong dari Glencore kepada PT Pertamina (Persero) kian menghebohkan. Betapa tidak, komposisi minyak mentah yang dipesan jauh melenceng dari spesifikasi seperti tertuang dalam kontrak.

Seperti diketahui, minyak mentah tersebut rencananya akan dipasok sebanyak 4 kargo untuk memenuhi kebutuhan kilang Pertamina. Yakni, minyak mentah “aseng” sebanyak 600 ribu barel untuk kilang Balongan, dan minyak 600 ribu barel Bonny Light untuk kilang Balikpapan.

Namun faktanya, minyak yang didatangkan adalah minyak oplosan Sarir dengan Mesla sebanyak 1.2 juta barel dengan komposisi terbalik yang perbandingan seharusnya 70% Sarir dan 30% Mesla.

“Anehnya, ISC Pertamina baru menolak saat kedua kapal tanker MT Takiki dan MT Stavenger Blossom yang membawa minyak tersebut sudah merapat di pelabuhan di Dumai dan Balikpapan sekitar tanggal 19 September 2016,” kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman kepada indoPetroNews.com Rabu (28/9/2016) di Jakarta.

Padahal, lanjut Yusri, kalau merujuk notifikasi "Bill of Lading " yang lebih awal diterima oleh ISC , seharusnya sejak awal sebelum kapal bergerak dari Libya sudah bisa diperintahkan oleh ISC untuk dibatalkan, dan tidak merugikan ISC Pertamina dengan mencari minyak mentah pengganti di pasar bebas dan bisa lebih mahal sekitar USD 1 per barel.

“Diduga dengan komposisi yang terbalik antara minyak Sarir dengan minyak Mesla ada potensi selisih harganya sekitar USD 10 perbarel sehingga kalau minyak oplosan itu diterima oleh Pertamina maka ada potensi kerugian sebesar USD 120 juta,” paparnya.

Bila dikatakan pada awal proses pemilihan minyak oplosan Sarir dengan Mesla berdasarkan kajian Direktorat Pengolahan dengan menggunakan perangkat lunak linier program GRTMPS, maka patut diduga, kata Yusri, mengandung keanehan dan bertentangan dengan prinsip yang sudah baku dilakukan oleh ISC dengan cara Crude Oil Management System (COMS), yang melarang impor minyak mentah yang dicampur di kapal dan akan mengandung risiko aspek kualitas dan kuantitasnya.

Dia menuturkan percampuran minyak mentah dari berbagai sumber adalah tugas dan tanggung jawab kilang Pertamina yang dikenal dengan produk cocktail crude, dan digunakan komposisinya sebagai bahan baku kilang sesuai dengan program produk bahan bakar minyak (BBM) yang akan diproduksi dan dengan mempertimbangkan kehandalan kilang Pertamina.

Anehnya lagi, imbuh Yusri, minyak sarir ini sudah sangat lama tidak digunakan oleh kilang Pertamina. “Awalnya dimulai pada akhir September 2006 sesuai surat Pertamina Nomor 2252/E20200/ 2006- SO tanggal 31 Agustus 2006 atas rekomendasi kilang dan temuan audit BPK RI bahwa mengolah minyak Sarir di kilang telah menghasilkan residu yang amat besar, sehingga untuk mengolah residu menjadi Low Sulfur Waxy Residue (LSWR) dibutuhkan ADO (Automotive Diesel Oil ) yang lebih banyak dan harganya sangat tinggi,” papar Yusri. Dengan kata lain, minyak sarir dinilai tidak ekonomis.

Menurut pemaparan Yusri, bila mau sedikit merunut ke belakang (sejak 2004 hingga kini dengan melihat pejabat-pejabat yang pernah duduk di Petral dan ISC) maka kasus "minyak bodong Glencore" bisa menjadi biasa bagi pejabat Pertamina saat ini. “Karena seperti hal mengulang kasus yang lama dengan orangnya ya itu itu juga sih. Hanya sedikit berganti kulit, bermetamorfosis saja,” cetusnya. (Sofyan)

Tiga Opsi SKK Migas Versi Komisi VII DPR RI

indoPetroNews- Peran dan posisi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) kini banyak disorot seiring dibahasnya kembali Revisi Undang-undang Minyak dan Gas Bumi (RUU Migas) Nomor 22 Tahun 2001. Bahkan ada yang mengusulkan agar SKK Migas direposisi karena kedudukannya dianggap tidak jelas. Bagaimana reposisinya?

“Posisi SKK Migas selama ini kan tidak jelas. Di mana posisinya sekarang ini,” tegas anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Inas Nasrullah Zubir kepada sejumlah media, termasuk indoPetroNews.com Senin (26/9/2016) di Jakarta.

Di mana letak ketidakjelasannya? “Di dalam Undang-undang Migas dan di dalam segi pemerintahan kita. Karena itu ada Komisi VII DPR mengusulkan bebera opsi terkait kedudukan SKK Migas,” ucap Inas.

Diantara usulannya, kata Inas, adalah mengembalikan SKK Migas ke Pertamina seperti pada masa lalu. Usulan kedua adalah membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus, yang akhirnya menjadi lex spesialis. Kalau BUMN khusus maka tidak berada di bawah Undang-undang BUMN dan juga tidak berada di bawah Kementerian BUMN tetapi berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Persoalannya, lanjut Inas, apakah ini tidak akan menimbulkan perdebatan panjang oleh berbagai kalangan. “Ada usulan yang menarik, yaitu tentang otoritas migas. Selama ini fungsi SKK Migas lebih pada pengawasan saja minus pengelolaan. Termasuk juga nanti masalah perizinan. Perizinan ini kan panjang birokrasinya,” tandasnya.

Dia juga mengungkapkan bila kewenangan atau otoritas ini juga diberikan maka tentu akan jauh lebih baik. “Dan banyak investor akan masuk. Termasuk untuk mengerjakan proyek IDD (Indonesia Deepwater Development) yang selama ini terkatung-katung karena terkendala perizinan yang bertele-tele,” ujarnya. (Sofyan)

Tugu Pratama, Perusahaan Asuransi Migas Pertamina, Raih Rating Internasional A-

indoPetroNews- PT Tugu Pratama Indonesia (TPI), anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bisnis asuransi, mendapatkan peringkat "A-" (Excellent) untuk Financial Strength Rating dan "A-" untuk Long Term Issuer Credit.
Pemeringkatan yang dilakukan oleh A.M. Best, perusahaan rating internasional khusus perusahaan asuransi global berkedudukan di Amerika Serikat ini menempatkan TPI sebagai satu-satunya perusahaan nasional yang mendapatkan peringkat rating A-.

"Rating tersebut mencerminkan profil bisnis TPI yang baik, kinerja operasional yang kuat, dengan risiko kredit yang sangat baik. Pertamina sebagai induk usaha tentu saja sangat bangga atas hasil pemeringkatan ini karena TPI menjadi satu-satunya perusahaan nasional yang memperoleh rating A-," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro kepada kalangan media, Selasa (27/9/2016) di Jakarta.

Pertamina mengendalikan 65% saham TPI yang didirikan pada 1981 untuk memenuhi kebutuhan pasar asuransi di sektor minyak dan gas bumi di Indonesia. Selain tumbuh bersama Pertamina yang menjadi pasar captive TPI, dalam beberapa tahun terakhir TPI juga memperkuat rekam jejaknya pada segmen asuransi komersial non life lainnya, seperti aviasi, engineering, dan properti.

TPI juga memiliki profit margin yang baik, dimana laba usahanya meningkat tajam karena dipicu oleh hasil dari portofolio investasinya yang besar. Neraca yang kuat merupakan faktor lain yang mendukung diraihnya peringkat rating ini. (Sofyan)

Peluang Terjadi Kesepakatan OPEC di Aljazair Sangat Kecil

indoPetroNews- Akan ada satu kesepakatan konkrit dalam menjaga stabilitas harga minyak mentah. Ini bisik-bisik sekaligus rumor yang beredar terkait seputar pertemuan informal antara negara-negara Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Rusia yang digelar di Aljazair pada 26 - 28 September 2016. Persoalan tersebut diprediksi bakal menjadi fokus utama para pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan.

"Peluang akan tercapainya suatu aksi konkrit dari pertemuan di Aljazair sangat kecil," kata Fabby Tumiwa, seorang pakar migas kepada sejumlah media, termasuk indoPetroNews.com Selasa (27/9/2016) di Jakarta.

Kebanyakan para analis meyakini bahwa negara-negara produsen minyak masih akan memantau pasar dan menunda keputusan hingga pertemuan resmi OPEC di Wina, Austria, pada 30 November 2016.

Di samping itu, terdapat beberapa agenda lainnya yang diamati pelaku pasar mengingat kuatnya kerisauan tentang limpahan surplus minyak.

Diantaranya, rilis data persediaan minyak AS versi American Petroleum Institute (API) pada Selasa, data persediaan minyak AS resmi versi United State Energy Information Administration (US EIA) pada Rabu, dan data jumlah sumur pengeboran minyak versi Baker Hughes di penghujung hari Jumat depan. (Sofyan)

Sekjen APMI : 300 Juta USD Tunggakan Hutang PSC Belum Dibayar

indoPetroNews- Sejumlah Production Sharing Contract (PSC) belum membayar tagihan hutang kepada beberapa perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas dan Panas Bumi Indonesia (APMI). Konon karena mereka terlilit kesulitan keuangan akibat fluktuasi harga minyak di pasar dunia.

"Kalau kesulitan keuangan, kenapa mesti kami yang menanggung," kata Sekretaris Jenderal APMI Dharmizon Piliang kepada sejumlah media, termasuk indoPetroNews.com Senin (26/9/2016) di Jakarta.

Pada intinya, ungkap Dharmizon, setelah perusahaan anggota APMI bekerja mengerjakan kontrak pendek (untuk 3 - 4 sumur) telah selesai dan ter-deliver-i, sumur pertama dibayar tetapi sumur kedua dan ketiga belum dibayar. "Ini terus berlanjut sehingga tagihannya berjalan terus hingga ulang tahun belum juga dibayar," katanya.

Ketika ditanyakan jumlah nominal tunggakan yang belum dibayar, Dharmizon mengatakan,
"Yang sudah secara pasti menyerahkan data survei kepada kita, termasuk data penunjang hulu, ada sebesar 300 juta USD".

Umur penagihannya pun beragam. "Ada yang sudah 2 tahun dan setahun setengah. Bahkan ada yang sudah tiga tahun," tandasnya.

Saat ditanyakan apakah para PSC yang menunggak pembayaran tersebut telah dilaporkan kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK MIgas), Dharmizon mengakui telah melaporkannya.

"Sudah pernah kita komunikasikan dengan stakeholder di SKK Migas tapi kita belum menyampaikan data secara keseluruhan," tandasnya.

Dia menyatakan pihak SKK Migas berkomitmen untuk membantu dan menyelesaikan persoalan tersebut. "Dalam Forum Komunikasi Keselamatan Migas di Bali, juga sampaikan ke stakeholder (Dirjen Migas dan SKK Migas). Mereka akan membantu. Bahkan kita akan juga melibatkan Bapak Luhut Binsar Pandjaitan," tegas Dharmizon, sembari menyampaikan pihak APMI akan melakukan deklarasi pada Oktober 2016.

"Pada forum itu, kita akan menyerahkan bundel data-data. Biarlah mereka yang akan men-treatment seperti apa. Kita hanya mendorong aspirasi dari perusahaan-perusahaan anggota asosiasi agar apa yang alami ini bisa diselesaikan oleh regulator dan pemegang kebijakan," pintanya.

Pihaknya, lanjut Dharmizon, berharap agar masalah piutang ini segera dibayar. PSC yang belum melunasi piutang tersebut terdiri dari perusahaan asing dan ada pula  joint venture. Total jumlah perusahaan yang menunggak terdapat belasan PSC.

Akibat tersendatnya pelunasan hutang ini, lanjut Dharmizon, tidak sedikit perusahaan di bawah APMI mengalami efisiensi dan merumahkan sejumlah karyawan. Bahkan ada perusahaan yang dinyatakan pailit. (Sofyan)
 

Web Desain App Builder


___________________________________

IndoPetroNews
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login