IndoPetroNews

Headlines News :
SKKMigas

Translate by Google

Beyond Communication


ACT


PetroInfo

PetroComodity

Ditjen EBTKE Selenggarakan Lomba Hemat Energi antar Sekolah di Jabodetabek

indoPetroNews- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) menyelenggarakan acara Peluncuran Lomba Hemat Energi di rumah dan sekolah untuk daerah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Event ini dilaksanakan pada Senin (29/8/2016) di Jakarta Selatan.

Peluncuran lomba hemat energi ini juga turut dihadiri oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mariyam, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Dinas ESDM Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pendidikan Kota dan peserta lomba yang terdiri dari siswa, guru dan undangan lainnya.

"Perilaku hemat merupakan kewajiban bersama seluruh masyarakat. Saat ini kita masih tergolong boros dalam menggunakan energi. Konsumsi energi kita masih cukup tinggi. Karenanya perubahan perilaku menjadi penting," kata Direktur Konservasi Energi Ditjen EBTKE, Farida Zed, dalam sambutan saat meresmikan lomba hemat energi.

Menurut Farida, energi adalah kebutuhan dasar manusia selain pangan. Semakin sejahtera masyarakat suatu negara maka semakin tinggi pula kebutuhan energi. Sumber energi saat ini masih bertumpu pada minyak, gas bumi dan batu bara. "Sebesar 95% energi kita masih berupa energi fosil," terang Farida.

Sayangnya, lanjut Farida, energi fosil ini tidak dapat diperbaharui. Sekali diambil dan dipakai, energi fosil akan habis. "Tidak semua negara dikarunia potensi energi fosil. Indonesia memang tidak kaya sumber energi tetapi ada cadangan dan potensinya," tandasnya.

Cadangan energi fosil di Indonesia semakin hari semakin menipis. "Cadangan energi konvensional kita telah menurun 50%," ucap Farida. Oleh karena, Farida berharap agar masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan energi.

Dalam upaya menyosialisasikan program hemat energi inilah, lanjut Farida, pihaknya menyelenggarakan lomba hemat energi di sekolah. "Generasi muda menjadi ujung tombak dalam menyosialisasikan gerakan hemat energi. Hemat energi menjadi satu keharusan dan tanggung jawab moral," tegasnya. (Sofyan)

Pertamina Raih Laba Bersih US$1,83 Miliar

indoPetroNews- PT Pertamina (Persero) meraih laba bersih sebesar US$1,83 miliar hingga semester I 2016, naik 221% year on year (yoy) yang disokong oleh peningkatan kinerja operasi dan efisiensi dari berbagai inisiatif dan langkah terobosan yang dilakukan perusahaan.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan situasi industri minyak dan gas bumi (migas) global masih terus berfluktuasi sehingga menuntut perusahaan migas melakukan berbagai upaya untuk mengatasi lingkungan usaha yang semakin menantang. Di sisi lain, Pertamina sebagai National Oil Company (NOC) ikut memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi selalu dalam kondisi aman untuk ketahanan energi nasional.

“Dua kondisi tersebut melahirkan berbagai inisiatif-inisiatif yang bermuara pada peningkatan kinerja, efisiensi di segala lini dan upaya-upaya penciptaan nilai tambah dari hulu ke hilir. Dalam kaitan itu, kami sangat bersyukur karena hingga semester I 2016 langkah-langkah tersebut membuahkan hasil dengan raihan laba bersih sebesar US$1,83 miliar,” ungkap Dwi, Kamis petang (25/8/2016) di Jakarta.

Pertamina, tutur Dwi, terus fokus dalam mengimplementasikan 5 pilar strategi prioritas perusahaan, yaitu pengembangan sektor hulu, efisiensi di semua lini, peningkatan kapasitas kilang dan petrochemical, pengembangan infrastruktur dan marketing, serta perbaikan struktur keuangan. Sepanjang semester I 2016 Pertamina membukukan pendapatan sebesar US$17,19 miliar.

Kinerja hulu pada periode semester I 2016 ini mencapai 640 ribu barel setara minyak per hari yang terdiri dari 305 ribu barel per hari minyak dan 1.938 million standard cubic feet per day (mmscfd) gas. Pencapaian tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 16,4% yoy.

Beberapa investasi hulu juga telah terealisasi, seperti Pembangkit Listik Tenaga Panasbumi (PLTP) Ulubelu 3 1x55 MW yang telah masuk ke sistem dan melistriki masyarakat. Kemajuan pesat juga terjadi pada proyek Lumut Balai 2x55 MW dengan tingkat kemajuan di atas 46%.

Efisiensi biaya operasi hulu sebesar US$595 juta yang menjadi penyokong utama bagi realisasi Breakthrough Project 2016 mencerminkan strategi perusahaan untuk fokus pada lapangan-lapangan kerja yang memberikan dampak finansial besar bagi perusahaan. 
Inovasi-inovasi pemasaran produk dan layanan unggulan Pertamina, sentralisasi pengadaan hydrocarbon dan non hydrocarbon, penekanan losses dari program pembenahan tata kelola arus minyak, inisiatif-inisiatif pengolahan, baik efisiensi maupun optimalisasi bottom products, serta pemangkasan biaya operasi kantor pusat pada umumnya memberikan dampak finansial di atas target. (Sofyan)

Indonesia Diperkirakan Alami Defisit Energi pada 2019

indoPetroNews- Upaya mengubah mindset tentang energi sebagai komoditas menjadi energi sebagai modal dasar pembangunan masih belum terlihat kemajuannya. Apa indikatornya?

“1, 1 milyar SBM (Setara Barel Minyak) pertahun konsumsi energi Indonesia naik dengan rata-rata 7% per tahunnya. Melihat tingkat konsumsi energi kita, Indonesia termasuk boros dalam pemakaian energi (jika diukur berdasarkan Intensitas Energi), jika dibandingkan dengan negara lain, namun dilihat dari pemakaian energi per kapita, Indonesia masih sangatlah rendah,” kata Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas, Agus Puji Prasetyono, kepada indoPetroNews.com Senin (29/8/2016) di Jakarta.

Menurut Agus, sebanyak 95% dari kebutuhan energi Indonesia masih berasal dari fosil (minyak, gas bumi dan batubara), dan baru 5% berasal dari energi baru/terbarukan (panas bumi, tenaga air, biomasa, tenaga surya, tenaga angin). Cadangan energi fosil Indonesia apabila diproduksi pada tingkat produksi (reserves to production ratio) diperkirakan akan habis dalam 12 tahun untuk minyak bumi, 34 tahun untuk gas bumi dan 61 tahun untuk batu bara.

“Apabila pengelolaan energi hanya secara bussiness as usual, Indonesia dipastikan menjadi negara defisit (pengimpor netto) minyak, dan akan mengalami defisit energi pada 2019,” tandasnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya defisit energi, imbuh Agus, harus dilakukan berbagai upaya terencana, holistikal dan terintegrasi secara serius. “Solusinya melakukan berbagai penelitian dan pemanfaatan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan pencapaian bauran energi secara terintegrasi guna mendukung konservasi dan diversifikasi energi,” kata Agus. (Sofyan)

Kerdilkan PGN, SP PGN Tolak Holding Migas

indoPetroNews- Serikat Pekerja (SP) PT Perusahaan Gas Negara (PGN) 'menolak' konsep holding migas yang digagas Kementerian BUMN. Pasalnya holding migas tersebut hanya sebatas PT Pertamina mengakuisisi PGN.

Ketua Umum Serikat Pekerja PGN M Rasyid Ridha mengungkapkan, akuisisi Pertamina terhadap PGN ujungnya hanya akan melemahkan atau mengkerdilkan PGN, karena bisnis PGN dengan Pertamina merupakan bisnis yang saling menggantikan.

"Bila PGN di bawah Pertamina maka akan terjadi conflict of interest. Pertamina tentu tidak ingin bisnis minyaknya berkurang karena penyaluran gas PGN terus meluas," ungkap Rasyid, Jumat petang (26/8/2016) di Jakarta.

Pekerja PGN tidak menentang rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk holding energi. "Konsepnya yang kami tentang, karena hanya sebatas akuisisi," ujarnya.

Konsep holding yang tepat adalah konsep holding energi yang memperkuat seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang energi, seperti PLN yang diperkuat di sektor kelistrikan, PGN di sektor gas bumi, dan Pertamina diperkuat dari sisi produksi hulu minyaknya. Jadi semestinya Holding Energi harus meliputi PGN, Pertamina, dan PLN.

"Hal ini akan meningkatkan kedaulatan energi nasional melalui sinergi nyata dan menghilangkan friksi yang kerap terjadi di ketiga BUMN tersebut dan tentu akan memperlancar program andalan pemerintah yaitu 35.000 MW. Holding Energi seyogyanya merupakan perusahaan baru seperti halnya Pupuk Indonesia dan Semen Indonesia, bukan hanya alih status dari salah satu BUMN saja," tegas Rasyid.

Hal itu juga untuk menjamin tidak adanya konflik kepentingan yang pada akhirnya justru menghambat atau malah bertolak belakang dengan tujuan awalnya yang mulia.

Untuk menjamin kendali Negara di dalam badan usaha di dalam Holding Energi, SP PGN meminta agar status PGN tetap sebagai BUMN. Hal ini penting untuk menjamin kendali Negara di dalam tata laksana organisasi tetap setia pada tujuan negara yaitu menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Ia menegaskan lagi, seluruh pekerja PGN menolak semua usaha untuk mengkerdilkan dan menghilangkan peran PGN sebagai BUMN yang menyalurkan dan menyediakan gas bumi yang ramah lingkungan buat seluruh pelosok negeri, baik setelah holding energi terbentuk maupun tidak.

"Kami menyayangkan pernyataan pihak-pihak yang seolah-olah ingin menjadikan PGN sebagai jaminan untuk memperkuat permodalan Pertamina dalam skema holding Migas di mana Pertamina sebagai Holding dijalankan," katanya.

Hal tersebut susah diterima karena akan mempengaruhi struktur pendanaan PGN untuk terus berkembang dan hanya memperlihatkan kesan bahwa Pertamina butuh pendanaan.

Terkait harga gas yang tinggi, karena alasan yang didengung-dengungkan adanya inefisiensi pembangunan infrastruktur yang tumpang tindih antara Pertagas dan PGN, semestinya hal tersebut bukan semata-mata menjadi alasan pembentukan holding karena hal tersebut seharusnya tidak terjadi apabila Kementrian BUMN punya sikap tegas dalam mengatur BUMN dan anak usahanya.

"Kiranya kementrian BUMN dapat berperan lebih besar untuk bertindak sebagai ‘Super Holding’ yang membawahi ratusan BUMN dan berperan sebagai dirigen dalam menyinergikan seluruh BUMN di bawahnya, tidak sekedar urusan administrasi dan birokrasi semata," katanya. (Sofyan)

Plt Menteri ESDM Ajak SKK Migas Bekerja Efisien dan Bangun Kebersamaan

indoPetroNews- Menteri Koordinator (Menko) Maritim dan Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan, mengajak seluruh karyawan dan pimpinan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk selalu membangun kebersamaan, khususnya dalam sektor migas di Indonesia Timur.

"Prioritas pemerintahan Jokowi - JK adalah membangun Indonesia bagian Timur yang selama ini tertinggal dibandingkan Indonesia bagian Barat. Apalagi cadangan migas Indonesia sangat banyak ditemukan di kawasan Timur," kata Luhut, kepada sejumlah media, seusai menghadiri acara Townhall Meeting dengan pimpinan, karyawan, dan manajemen SKK Migas, pada Jumat (26/8/2016) di Ruang Serbaguna Gedung City Plaza Lantai 9 Jl. Gatot Subroto Jakarta. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian ESDM, I Gede Nyoman Wiratmadjapuja.

Menurut Luhut, dirinya diundang oleh Pak Amien Sunaryadi, selaku Kepala SKK Migas. "Kita datang untuk bincang-bincang dan tatap muka dengan kawan-kawan SKK Migas. Saya menyampaikan soal Poros Maritim, di mana di sana juga ada soal energi, yang juga menjadi bagian dari SKK Migas. Intinya kita membangun kebersamaan untuk membangun industri hulu migas, terutama di kawasan Indonesia Timur," papar Luhut.

Dia juga menyampaikan agar para karyawan SKK Migas bekerja lebih efisien, lebih banyak lagi memaksimalkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan bekerja dengan teamwork, memegang teguh garis komando ke atas serta loyal kepada pimpinan. "Itulah poin penting sharing dan arahan kita," ujarnya.

Saat ditanyakan soal Blok Mahakam, yang Pertamina akan ikut serta, Luhut menyatakan pihaknya tinggal menunggu draf payung hukumnya. "Saya nanti membaca dan tanda tangani. Insya Allah Senin pekan depan selesai," tandas Luhut, sembari mengimbuhkan pihaknya telah mendorong revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 agar lebih mempermudah proses eksploitasi dan eksplorasi migas di laut. Sebab, migas Indonesia ke depan cadangannya lebih banyak ditemukan di laut. "Mosok di laut juga dikenakan PBB (pajak bumi dan bangunan). Jangan di awal kita mencekik. Nanti kalau berproduksi, baru kita kenakan bea dan lain semacamnya," tegasnya.

Sementara Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, melaporkan jumlah produksi minyak, yang tidak terlalu buruk.

Menurut Amien, produksi minyak saat ini telah mencapai sebanyak 834.000 barel per hari. Data terakhir ini tercatat pada 30 Juni 2016. Namun berdasarkan Work Program and Budget (WP&B) 2016, produksi minyak ditetapkan sebesar 830.00 barel per hari tetapi direvisi menjadi 820.000 barel per hari.

Capaian tersebut, kata Amien, tidak lepas dari kerja sama dan usaha keras dari semua pihak, baik karyawan SKK Migas, pemerintah, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) dan para stakeholders.

Amien juga memaparkan jumlah Wilayah Kerja (WK). "Saat ini terdapat 286 WK (wilayah kerja), sebanyak 67 WK yang berproduksi dan 18 WK pengembangan. Volume produksinya mencapai 834.000 barel per hari," ujarnya. (Sofyan)

Pertamina dan 8 Anak Usahanya Raih Penghargaan Partra Nirbhaya Karya Utama 2016

indoPetroNews- PT Pertamina (Persero) dan anak usahanya meraih 8 penghargaan Partra Nirbhaya Karya Utama 2016, yakni penghargaan keselamatan migas tertinggi, yang diselenggaraakan oleh Forum Komunikasi Keselamatan Migas 2016, di Nusa Dua, Bali, Rabu (24/8/2016).

Penghargaan diberikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan. Bagi Luhut keselamatan migas merupakan faktor penting, karena itu Forum Komunikasi Keselamatan Migas merupakan forum yang penting karena menyangkut keselamatan pelaksanaan pekerjaan baik di eksplorasi maupun eksploitasi sumber daya mineral.

“Saya ucapkan selamat pada teman-teman yang mendapatkan penghargaan platinum. Dari 11 platinum (Adinugraha) Pertamina mendapat penghargaan paling banyak. Migas sebagai sektor yang sangat penting sehingga sangat diperlukan transparansi, ”kata Plt. Menteri ESDM dalam sambutannya.

Direktur Utama PT Pertamina Persero Dwi Soetjipto berterima kasih atas apresiasi yang diberikan pemerintah kepada Pertamina baik di unit operasi maupun anak perusahaan. “Hal ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam upaya menerapkan prinsip-prinsip HSSE dalam setiap kegiatan operasinya.

Selain delapan penghargaan utama, Pertamina group juga mendapatkan penghargaan di kategori lainnya,” jelas Dwi. Delapan penghargaan yang diterima Pertamina diantaranya diraih oleh Refinery Unit VI, PT Badak NGL,Refinery Unit III, PT Pertamina EP Exploration and New Discovery Project, BOB PT Bumi Siak Pusako – Pertamina Hulu, PT Pertamina EP – Matindok Gas Development Project, Refinery Unit V, dan PT Pertamina Gas Wilayah Timur.

Pertamina memenangkan penghargaan hampir di seluruh kategori yakni Patra Nirbhaya Karya Utama (Adinugraha), Patra Nirbhaya Karya Utama, Patra Nirbhaya Karya Madya, dan Patra Nirbaya Karya Pratama.

Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) IGN Wiratmadja Puja selaku penyelenggara Forkom Keselamatan Migas 2016 menyampaikan, pemberian penghargaan keselamatan migas ini dilaksanakan berdasarkan Undang-undang Nomor 22 tahun 2001, Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2004.

Penghargaan tersebut merupakan apresiasi terhadap keberhasilan suatu perusahaan dalam menjamin kelangsungan keselamatan kerja di kegiatan usaha minyak dan gas bumi. Dimana untuk penghargaan keselamatan migas 2016 diberikan untuk kategori tanpa kehilangan jam kerja sebagai akibat dari kecelakaan.

Perusahaan yang menerima penghargaan dinilai telah memenuhi persyaratan dan telah melalui proses evaluasi serta verifikasi oleh tim juri yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Migas, Kementeriam ESDM.

Adapun total penerima penghargaan sebanyak 77 perusahaan, terdiri dari 11 perusahaan penerima kategori Adinugraha, 27 perusahaan penerima penghargaan Karya Utama, 20 perusahaan penerima Karya Madya, serta 19 perusahaan penerima Karya Pratama. Sementara bidang kerja yang dinilai meliputi kegiatan eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan kegiatan niaga. (Sofyan)

PSC East Natuna Diteken September Nanti


indoPetroNews- Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan dokumen production sharing contract (PSC) Blok East Natuna yang nantinya akan diteken oleh PT. Pertamina (Persero) dan mitranya.

“Kami siapkan dokumennya dulu, diharapkan PSC bisa ditandatangani September”, jelas Direktur Migas ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja saat mengisi acara Forum Komunikasi Keselamatan Migas 2016 di Nusa Dua, Bali (25/8).

Beliau menjelaskan, setelah PSC diteken September nanti, pemerintah baru akan memastikan fiskal untuk pengembangan cadangan minyaknya. Ini dikarenakan terms and condition untuk minyak sudah ada kepastian dan pemerintah ingin produksi minyak Blok East Natuna dilakukan lebih dulu.

Jika PSC diteken September, Wiratmaja berharap kegiatan eksplorasi di Blok East Natuna dapat dilakukan tahun ini juga.

“Kami berharap tiga tahun ke depan sudah bisa berproduksi,” ujar Wiratmaja. Direncanakan blok tersebut akan dapat menghasilkan minyak sekitar 7.000 sampai 15.000 barel per hari (bpd).

Menurutnya, percepatan pengembangan Blok East Natuna ini perlu dilakukan untuk menjaga kedaulatan Indonesia. Pasalnya, saat ini ada upaya negara lain yang menarik garis batas wilayahnya melewati batas Indonesia.(Gadih/IDI)

Demi Maksimalkan Pendapatan, Irak Genjot Produksi Minyak

indoPetroNews- Di tengah melemahnya harga minyak mentah di pasar dunia, Irak berambisi kuat untuk menaikkan produksi minyak mentah sebelum pertemuan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) di Aljazair pada September 2016.

Pemerintah setempat, melalui Menteri Perminyakan Irak, Jabal Ali al-Luaibi, meminta perusahaan-perusahaan migas asing yang beroperasi di negara tersebut meningkatkan produksi dan ekspor minyak dan gas alam demi memaksimalkan pendapatan negara.

Juru bicara Kementerian Perminyakan Irak Asim Jihad mengungkapkan Luaibi telah mengadakan pertemuan di Baghdad dengan perwakilan dari seluruh perusahaan asing yang beroperasi di Irak.

"Menteri (Luaibi) telah menegaskan kembali dukungan terhadap kegiatan perusahaan-perusahaan internasional untuk memompa tingkat produksi dan ekspor minyak mentah serta gas alam," kata Jihad, Selasa (23/8/2016).

Permintaan Luaibi ini disampaikan menjelang pertemuan OPEC di Aljazair bulan depan.

Sebagai catatan, produksi minyak mentah Irak pada 2016 mencapai puncaknya Januari lalu, yaitu sekitar 4,51 juta barel per hari, namun turun menjadi 4,36 juta barel per hari bulan lalu. (Sofyan)

Indonesia Siapkan Kerjasama Pembangunan Kilang dengan Arab Saudi

indoPetroNews- Pemerintah Indonesia menyiapkan beberapa proyek pengembangan kilang minyak untuk dibahas dengan pemerintah Arab Saudi. Pasalnya, Raja Salman bin Abdul Aziz, akan melawat ke Tanah Air pada Oktober 2016.

"Kami sedang mengejar komitmen. Aramco ini agak lambat prosesnya," kata Pelaksana Tugas (Plt.) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan, di Jakarta (25/8).

Ia mengatakan telah menyiapkan beberapa proyek akan dibahas dalam kunjungan penguasa Arab Saudi tersebut. Pertama, janji investasi pada proyek kilang minyak. Salah satunya adalah Kilang Cilacap, membutuhkan investasi US$ 5,5 miliar.

Persoalannya, Saudi Aramco sebagai mitra strategis PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan kilang tersebut, meminta pengurangan kepemilikan saham dari 45 persen menjadi 30 persen. Usulan itu akan memperberat Pertamina karena harus menyiapkan uang lebih banyak.

Selain Kilang Cilacap, Luhut bakal mengejar komitmen Saudi Aramco untuk menggarap proyek kilang Dumai di Riau dan Balongan di Jawa Barat. Janji tersebut tertuang dalam perjanjian awal diteken bersama Pertamina pada Desember 2014 dan akan berakhir November 2016.

Pertamina saat ini menunggu Aramco untuk membuat kesepakatan lanjutan dalam head of agreement. Sedangkan pihak Saudi Aramco belum juga menyepakati besaran investasi dan jangka waktu proyek, meski berencana merampungkan pada 2022. Padahal pemerintah Indonesia ingin kilang itu selesai satu tahun lebih cepat.

Luhut menduga lambatnya sikap Aramco lantaran keuangan mereka sedang ditimpa krisis. Dia meminta Pertamina bersiap bila akhirnya Aramco mundur dari kongsi bisnis ini. "Pertamina saja, punya uang kok," ujarnya. (Sofyan)

Ditjen Migas Keluarkan e-HSSE dan SMS Center

indoPetroNews- Kementerian Energi dan Sumber Daya Energi (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) membuat Sistem Administrasi Online dan SMS Center terkait pelaporan keselamatan kerja. Hal ini ditujukan untuk mempermudah segala informasi mengenai keselamatan kerja.

“Kami mempunyai responsive center, yakni 15503,” kata Kepala Sub Bagian Pengelolaan Informasi Ditjen Migas Agus Mendrofa saat mengisi Forum Keselamatan Migas di Nusa Dua Bali (24/8).

Beliau menambahkan, pelaporan atas kecelakaan dan kondisi tidak aman akan keselamatan kerja dapat melalui SMS Center lewat nomor 0812-9000-1717.

Agus pun menginformasikan saat ini Ditjen Migas telah membuat beberapa kanal komunikasi Migas, berupa website (www.migas.go.id) dan sistem online yang dibagia dua yaitu e-HSSE Hulu dan e-HSSE Hilir. Secara umum e-HSSE memberi informasi pendaftaran kepala teknik/penyelidik dan pelaporan kecelakaan migas.

“Kami masih menerapkan sistem online dan manual pada Oktober-Desember 2016 untuk saling melengkapi,” ujar Agus. Agus menambahkan bahwa per 1 Januari 2017 semua sistem administrasi akan dilakukan secara online. (Gadih/ESDM)
 

Majalah IndoPetro

Loading...

Web Desain App Builder


___________________________________

IndoPetroNews
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login