IndoPetroNews

Headlines News :
SKKMigas

Translate by Google

Beyond Communication


ACT


PetroInfo

PetroComodity

Pertamina Raih Nilai Tambah US$174,11 juta dari Inisiatif Bisnis Pengolahan

indoPetroNews.com - Pertamina (Persero) meraup nilai tambah senilai US$174,11 juta per bulan dari berbagai program inisiatif bisnis pengolahan dalam kurun waktu 2015-2016.

Direktur Pengolahan Pertamina Rahmad Hardadi mengungkapkan pengoperasian Residual Fluid Catalytic Cracker Cilacap dan Kilang TPPI memberikan kontribusi terbesar dengan nilai US$131 juta per bulan. Nilai tambah tersebut bersumber dari pengurangan impor Premium sekitar 30-42% dan pengurangan impor Diesel sebanyak 44%.

Nilai tambah signifikan juga bersumber dari tidak adanya lagi impor HOMC dari semula sekitar 400 ribu barel per bulan. Nilai tambah dari penghilangan impor HOMC tersebut mencapai sekitar US$15 juta per bulan. Di sisi lain, Pertamina telah menghentikan ekspor LSWR dan Naphta untuk diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi di kilang dalam negeri, termasuk di antaranya memproduksi HOMC, Solar, dan Propylene.

“Sebelumnya, kelebihan naphta diekspor dengan nilai yang rendah, yaitu MOPS – US$6 per barel dengan volume ekspor mencapai 400-500 ribu barel per bulan. Begitu kami hentikan ekspor dan kami proses di dalam negeri, harga Naphta langsung melonjak menjadi MOPS + US$3,3 per barel sehingga seolah-olah kami mendapatkan nilai tambah sebesar US$9,3 per barel dari Naphta saja,” kata Rahmad Hardadi.

Selain itu, dia mengatakan sentralisasi pengadaan melalui manajemen kategori teroptimasi menghasilkan penghematan sebesar US$10,8 juta per bulan. Pertamina, katanya, telah melakukan ekspor kerosene menyusul kesuksesan program konversi Minyak Tanah ke Elpiji dengan nilai tambah bagi perusahaan sebesar US$7,1 juta per bulan.

“Kami juga memproduksi Pertalite, Pertamax Series, dan Dexlite dengan nilai tambah sekitar US$3,12 juta per bulan,” ungkapnya.

Selain memberikan nilai tambah melalui inisiatif-inisiatif, lanjut Rahmad, Pertamina juga berhasil melakukan akselerasi berbagai proyek, seperti RFCC Cilacap dari semula diperkirakan baru beroperasi pada April 2016 menjadi September 2015, dan PLBC Cilacap yang telah dua tahun tertunda, proses lelang tuntas dalam waktu 4 bulan dengan pengurangan biaya 16% dari estimasi awal. Pertamina juga melakukan percepatan untuk reaktivasi unit proses calciner di Kilang Dumai yang sudah 22 tahun berhenti operasi.

Pertamina juga telah melakukan inovasi in house untuk pengembangan minarex menjadi TDAE sebagai bahan baku rubber sintetis berkualitas tinggi. “Kalau menggunakan pihak ketiga, paten untuk teknologi ini cukup mahal dan kami akhirnya melakukannya sendiri.”

Untuk mengantisipasi terus berkurangnya pasokan minyak mentah untuk kilang Dumai dari sumur-sumur yang ada, Pertamina melakukan langkah terobosan untuk melakukan open access yang memungkinkan Kilang Dumai dapat dipasok dari minyak mentah impor. Percepatan terakhir adalah untuk pembangunan Single Point Mooring dan Subsea Pipe Line yang sudah tertunda perancangannya dalam jangka waktu 10 tahun, kini tuntas dan telah memulai kontrak EPC. (Sofyan)

Harga Minyak Mentah Hari Ini Menanjak

indoPetroNews.com - Harga minyak mentah menanjak lagi pada sesi perdagangan Rabu pagi ini (29/6/2016) setelah laporan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan persediaan minyak AS dalam jumlah besar. Sementara itu, investor kembali mengamati perkembangan Brexit, karena menguatnya spekulasi Skotlandia akan memisahkan diri dari Inggris.

Di New York Mercantile Exchange (NYMEX), WTI naik sekitar 1 persen ke $48.22, sementara Brent diperdagangkan di kisaran $48.86 per barel saat berita ini diturunkan. Kemerosotan harga yang telah berlangsung selama beberapa hari pasca Brexit tertahan oleh sejumlah kabar akan terganggunya produksi di beberapa wilayah kemarin, dan kemudian berbalik naik pasca publikasi laporan API.

API menyampaikan bahwa suplai minyak mentah AS berkurang sebanyak 3.9 juta barel dalam waktu sepekan yang berakhir tanggal 24 Juni. Angka tersebut tak sebesar penurunan di laporan pekan sebelumnya tetapi cukup membesarkan harapan pelaku pasar. Nanti malam, akan diamati pula data suplai minyak mentah dan turunannya versi pemerintah (US Energy Information Agency).

Di sisi lain, ancaman pemogokan karyawan besar-besaran di Norwegia menemukan titik terang setelah sebagian pekerja mendapatkan kenaikan gaji sebesar 0.5%. Kesepakatan final diharapkan bisa tercapai sebelum 1 Juli agar menghindarkan terjadinya pemogokan besar-besaran di negara yang memproduksi 2.1% dari total output bulanan pasar minyak dunia tersebut. (Sofyan)

Marak Ancaman Mogok Karyawan Ladang Migas di Norwegia

indoPetroNews.com - Saat ini di Norwegia sedang berkembang upaya mogok kerja di lapangan minyak dan gas bumi. Diantaranya adalah karyawan di tujuh ladang minyak dan gas di Norwegia.

Mereka mengancam akan mogok kerja mulai hari Sabtu (2/7/2016) jika kesepakatan sistem penggajian baru tidak bisa tercapai pada hari Jumat (1/7/2016).

Mediator dari negeri penghasil minyak terbesar di Eropa Barat tersebut akan memfasilitasi diskusi membahas topik tersebut antara tanggal 30 Juni-1 Juli. Menurut kalkulasi Reuters, jika diskusi gagal maka mogok kerja bisa memangkas 18 persen output minyak Norwegia, sekaligus 17 persen output gas alam.

Menurut catatan, pada 1970an Norwegia memiliki GDP perkapita 5% dibawah rata rata, tetapi akhir tahun 2010 meningkat menjadi 70% diatas rata rata OECD. Pencapaian tersebut karena keberhasilan mereka mengelola sektor migas dimana pemerintah melalui Norwegian Petroleum Directorate (NPD) bersama penentu kebijakan lainnya memiliki visi yang sangat brilliant yaitu: “The management of the petroleum resources reflects the view among Norwegian decision makers that the resources belong to the nation, and that the development should benefit the society as a whole, including future generations”.

Usaha eksplorasi cadangan minyak dimulai sekitar tahun 1960 an oleh perusahaan Phillips Petroleum Company (sekarang menjadi ConocoPhillips setelah merger dengan Conoco) dan menghasilkan produksi komersial pertama pada Juni 1971 dari lapangan Ekofisk. Masa masa awal perkembangan industri minyak ini, keterlibatan pemerintah Norwegia (dalam pengelolaan migas) masih minim dan pendapatan pemerintah mayoritas hanya berasal dari pajak. Mulai 1972, perusahaan negara (Statoil) mulai diberikan porsi kepemilikan saham (±50%) untuk setiap lapangan baru yang ditemukan.

Sama seperti kondisi produksi minyak di Indonesia, masa keemasan produksi Norway sudah lama lewat yaitu sekitar tahun 2000an, hanya beberapa lapangan baru ditemukan antara 2010-2012 setelah hampir 10 tahun sebelumnya tidak ada penemuan. Total cadangan minyak Norway 13.6 milyar Sm3 atau 86 milar barrel dimana sampai akhir tahun 2013, 44% nya sudah diproduksikan.

Untuk sistem kontrak kerja migasnya, Norwegia menganut sistem “licensing system” yang dibagi menjadi 2 jenis yaitu licensing untuk lapangan baru dan lapangan mature/tua yang disebut “Award in Predefined Area” atau APA. (Sofyan)

Pertemuan Menteri Energi G20 Beijing Serukan Pemenuhan Akses Energi untuk Semua

indoPetroNews.com - Pertemuan Tingkat Menteri Energi G20 yang berlangsung di Beijing, 29-30 Juni 2019 menyerukan pentingnya kerjasama global untuk mewujudkan akses energi untuk seluruh penduduk dunia pada tahun 2030. Pemenuhan tersebut dilakukan dengan semaksimal mungkin memanfaatkan energi bersih dan terbarukan. Saat ini masih ada 1,2 milliar penduduk dunia yang belum memiliki akses listrik, dan cara terbaik untuk menjangkaunya adalah dengan sistem micro grid memanfaatkan energi terbarukan.

Menteri ESDM, Sudirman Said, saat menyampaikan sambutannya, menyampaikan pentingnya membangun kemitraan berkelanjutan (sustainable partnership) berbagai pihak, melibatkan seluruh negara dan pemangkukepentingan dalam mewujudkan akses energi untuk semua. "Tidak ada negara yang dapat memenuhi kebutuhan energinya sendiri, dan kerjasama antar negara dan antar pemangku kepentingan adalah mutlak untuk terwujudnya akses energi untuk semua sesuai tujuan Agenda Pembangunan Berkelanjutan pada tahun 2030."

Indonesia berkomitmen untuk mewujudkan rasio elektrifikasi 100% pada tahun 2020. Ini membutuhkan berbagai terobosan mengingat 13% komunitas yg belum mempunyai akses listrik terletak didaerah yang terisolasi dan sulit dijangkau. Kementerian ESDM baru-baru ini telah mencanangkan Program Indonesia Terang, sebagai upaya mempercepat upaya melistriki 12.659 desa tertinggal menuju terwujudnya rasio elektrifikasi 100% pada tahun 2020.

Indonesia juga gencar mendorong pemanfaatan energi bersih dan terbarukan. Program kelistrikan 35.000 MW didorong dengan semaksimal mungkin memanfaatkan energi bersih baik yg berasal dari gas maupun energi terbarukan. Sudirman menyampaikan bahwa Indonesia siap memainkan peran sentral dalam mendorong percepatan pemenuhan energi untuk semua, baik dalam konteks nasional maupun regional. (Sofyan)

SKK Migas-KKKS Adakan Sosialisasi AFE Manager dan PTK AFE Revisi 1

indoPetroNews.com - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus berupaya untuk mempercepat proses peningkatan kualitas kinerja internal dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS). Tujuannya untuk menunjang pengembangan dan peningkatan industri hulu minyak dan gas bumi (migas).

Salah satunya, SKK Migas mengadakan sosialisasi Pengadaan Maintenance & Technical Support Authorization for Expenditure (AFE) Manager kepada para Kontraktor KKS. Acara ini bertajuk "Sosialisasi AFE Manager & Sosialisasi PTK AFE Revisi 1 (Modul Closed Out AFE)" yang diselenggarakan pukul 09.00 WIB pada Rabu (29/6/2016) di Plaza City Lt. 9 Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan.

Menurut Deputi Pengendalian Keuangan SKK Migas, Parulian Sihotang, masalah AFE Manager ini menjadi prioritas utama bagi SKK Migas. "Bahkan kita melakukan komitmen tertulis," tegas Parulian Sihotang dalam sambutannya di hadapan para peserta yang terdiri dari perwakilan Kontraktor KKS . Hal ini, lanjut Parulian Sihotang, agar pihaknya dapat memonitor sejauh mana program AFE Manager ini berjalan dengan baik.

Melalui AFE Manager ini, ungkap Parulian Sihotang, sebenarnya untuk mempermudah kinerja. "Sebab kita telah menggunakan teknologi komunikasi dan koordinasi yang berbasis IT," imbuh Parulian Sihotang, sembari berharap agar para peserta dapat menyampaikan AFE Manager kepada top manajemen dimana mereka bekerja.

Sedangkan Kepala Divisi Pemeriksaan Biaya Operasi SKK Migas, Agus Irawan, menyampaikan bahwa output dari AFE Manager ini adalah audit keuangan. "Misalnya soal nilai proyek yang telah disetujui oleh SKK Migas," ungkap Agus Irawan. Agus Irawan juga menambahkan bahwa dengan sosialisasi AFE Manager ini diharapkan selain mempercepat proses mempercepat proses pengajuan, evaluasi, dan persetujuan authorization for expenditure juga ada kesamaan pandangan antara Kontraktor KKS dengan SKK Migas.

Sementara Andi Arie, juga dari SKK Migas, memaparkan mengenai closed out AFE.

Closed out AFE, kata Andi Arie, adalah pertanggungjawaban pelaksana dan realisasi biaya proyek/AFE pada masing-masing WK KKKS berdasarkan AFE dan/atau revisi AFE yang disetujui oleh SKK Migas, baik secara bundling ataupun unbundling dengan persetujuan WP&B.

Menurut Andi Arie, berdasarkan data pihak SKK Migas, pada 2016 sebanyak 6.310 AFE Manager telah diselesaikan. "Di antaranya 31% dari Chevron," ujar Andi Arie, sembari menyatakan bahwa dalam closed out AFE diperoleh perhitungan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam forum sosialisasi ini juga dibuka sesi tanya jawab. Ada beberapa peserta yang mengajukan. Di antaranya adalah Sugiantoro dari Pertamina EP, Fei dari Chevron, Riza dari ConocoPhilips.

Seperti diketahui, SKK Migas telah meluncurkan sistem berbasis web bernama AFE Manager. Sistem ini ditargetkan mulai aktif dari 1 Agustus 2016.

AFE adalah otorisasi pembiayaan rencana kerja dan anggaran atas kegiatan yang berbasis proyek yang diberikan oleh SKK Migas kepada Kontraktor KKS berdasarkan hasil evaluasi teknis dan biaya. Prosedur ini diperlukan untuk memastikan bahwa program kerja yang direalisasikan sesuai dengan rencana kerja yang telah disetujui.

Selama ini proses pengajuan, evaluasi, dan persetujuan AFE ini dilakukan melalui dokumen cetak. Dengan adanya sistem AFE Manager nantinya, semua proses tersebut akan dilakukan secara online. (Sofyan)

MedcoEnergi Teken Kontrak Perpanjangan Blok Lematang PSC

indoPetroNews.com - PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) melakukan penandatanganan perpanjangan Kontrak Bagi Hasil untuk Wilayah Kerja Lematang (KKS) melalui anak perusahaannya PT Medco E&P Lematang, Lundin Lematang BV dan Lematang E&P Limited untuk jangka waktu 10 tahun yang akan berlaku efektif sejak tanggal 6 April 2017.

Setelah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) ini juga ditandatangani oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada Selasa (28/6/2016) di kantor ESDM, Jakarta.

PT Medco E&P Lematang adalah Operator dan bersama-sama dengan anak perusahaan MedcoEnergi lainnya memegang 100% hak partisipasi interes berdasarkan Kontraktor KKS. Rata-rata produksi harian gas dari Wilayah Kerja Lematang pada tahun 2015 adalah 38 Bbtud. Wilayah Kerja Lematang yang terletak di Sumatra Selatan, berdekatan dengan Wilayah Kerja South Sumatra yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT Medco E&P Indonesia, anak perusahaan dari MedcoEnergi.

Roberto Lorato, CEO MedcoEnergi mengatakan, “MedcoEnergi mengapresiasi kepercayaan yang diberikan Pemerintah Indonesia dan kesempatan yang diberikan untuk terus mengoperasikan KKS. Penandatanganan perpanjangan kontrak 10 tahun ini menegaskan kembali komitmen MedcoEnergi untuk memberikan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan energi nasional dan kemampuan Perseroan untuk terus menambah nilai sebagai Perusahaan energi independen terkemuka di Indonesia.”

Sebagai informasi, PT Medco E&P Lematang mengantongi saham sebesar 51.12% (Operator). Sedangkan Lematang E&P Ltd memiliki saham 23% dan Lundin Lematang BV memiliki saham 25.88%. (Sofyan)

Merosotnya Produksi Minyak Venezuela dan Melonjaknyai Minyak Nigeria

indoPetroNews.com-Resesi yang melanda Venezuela diperkirakan akan makin menekan output minyaknya. Saat ini produksi negeri yang beribukota di Caracas tersebut telah berkurang sekitar 120,000 bph akibat pemutusan aliran listrik harian.

Selanjutnya, Barclays mengestimasikan produksi Venezuela bisa berkurang nyaris setengah juta barel per hari dalam tahun ini akibat tekanan finansial, kurangnya perawatan, dan pemutusan aliran listrik.

Dari Afrika pun dikabarkan, produksi minyak Nigeria telah meningkat dari 1.6 juta bph ke 1.9 juta bph setelah sejumlah jalur distribusi yang disabotase akhirnya selesai diperbaiki pasca gencatan senjata. Serangan besar terakhir atas fasilitas minyak milik Shell juga telah nyaris sepekan berlalu.

Namun, muncul klaim baru dari kelompok gabungan militan Delta Niger bahwa orang dalam angkatan bersenjata Nigeria telah menghubungi mereka agar terus melancarkan serangan ke infrastruktur perminyakan di wilayah Delta Niger guna memberikan alasan untuk melengserkan Presiden Nigeria Muhammadu Buhari. (Sofyan)

Harga Minyak Mentah Hari Ini Tertahan

indoPetroNews.com - Anjloknya harga minyak (crude oil) akhirnya tertahan di awal perdagangan sesi Asia pada Selasa ini (28/6/2016) setelah terpuruk ke level rendah tujuh pekan akibat menguatnya Dolar pasca pengumuman hasil referendum Brexit. Sejumlah gangguan produksi disinyalir mengancam keberlangsungan output minyak global.

Brent diperdagangkan di kisaran harga $47.65 per barel, sedangkan WTI naik ke $46.77. Masing-masing meningkat hampir satu dolar dibanding harga settlement sebelumnya.

Namun demikian, harga minyak masih dibebani oleh penguatan Dolar pasca brexit yang menjadikan komoditas ini lebih mahal bagi negara-negara pengguna mata uang lain. Sedangkan para spekulan juga menghindari aset-aset berisiko sehubungan dengan tingginya ketidakpastian pasar saat ini.

Di sisi lain, lansekap negara-negara produsen minyak mengindikasikan ketidakstabilan baru.

Saat ini, pasar juga menantikan data persediaan minyak Amerika Serikat yang akan dirilis oleh American Petroleum Institute (API) hari Rabu esok (29/6/2016) dan Energy Information Administration (EIA) hari Kamis lusa (30/6/2016). (Sofyan)

SKK Migas Hadirkan Schlumberger dalam Workshop Teknologi Oil & Gas Jilid II

indoPetroNews.com - Untuk meningkatkan kapabilitas dan kualitas dari karyawan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) salah satu upayanya adalah penyelenggaraan workshop teknologi. Kali ini SKK Migas menghadirkan Schlumberger untuk mengelaborasi sekaligus berbagi pengalaman  tentang teknologi terbarunya. Dikemas dengan tajuk Oil & Gas Technology Update Workshop II, workshop ini diselenggarakan pada Selasa (28/6/2016) di Lt. 9 Plaza City Jakarta.

Hadir dalam kesempatan tersebut Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas, Rudianto Rimbono dan Deputi Pengendalian Operasi SKK Migas, Muliawan, Presiden Direktur (Presdir) Schlumberger Rony Hendrawan dan jajarannya.

"Tidak ada pilihan bahwa teknologi harus kita serap," kata Rudianto, dalam sambutannya. Sebab, katanya, sesuai arahan  Kepala SKK Migas, SKK Migas harus memahami semua karakter dari para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS). Selain itu, lanjut Rudianto, SKK Migas harus menjadi pusat ilmu pengetahuan tentang  minyak dan das bumi (migas).

Rony Hendrawan mengapresiasi kepercayaan SKK Migas kepada Schlumberger. "Ini langkah positif. Kita percaya bahwa teknologi yang digunakan sebenarnya dapat menurunkan cost of  production," ucap Rony, yang juga memaparkan soal the hydrocarbon pathway.

Menurut Rony, melalui teknologi, dapat pula dicari peluang-peluang dalam industri hulu migas. "Sebab 90% keberhasilan industri hulu migas di berbagai dunia ditentukan dalam fase eksplorasi dan eksploitasi," tandasnya.

Dalam workshop ini dibahas berbagai tema tentang migas, diantaranya soal mengoptimalkan produksi dan aset, disinggung juga soal drilling, serta production services dan pemanfaatan data analitik.

Terkait data ini juga dielaborasi oleh Arief Darmawan, salah seorang penyaji workshop dari Schlumberger.

Menurut Arief yang membedakan antara perusahaan migas yang berhasil dan perusahaan migas yang kurang berhasil terletak pada upayanya menggunakan data. "Inpex misalnya berhasil dalam menangani dan mempergunakan data," ungkap Arief. Karena itu, data harus dipergunakan dan kemudian disimpan dengan benar. "Pengelolaan data loading, processing, data analisa, data dikomunikasikan atau divisualisasikan," kata Arief, sembari menawarkan solusinya, asset optimization.

Asset optimization ini terdiri dari tujuh (7) hal pokok, yaitu reservoir optimization, lifting and pumping, well performance, integrity & safety, field operation, flow assurance, asset management. Ketujuh hal pokok persoalan tersebut, kata Arief, harus dicarikan solusinya secara komprehensif. "Petronas adalah contoh yang mengimplementasikan data untuk meningkatkan produksinya," tutur Arief.

Sementara Sugiarto Hartono, Data Management Advisor Schlumberger, memaparkan tentang kunci keberhasilan penggunaan data management. "Ada tiga kunci, yaitu adanya data proses, people dan teknologi," tandasnya. (Sofyan)

Presiden Jokowi : Migas dan Perikanan Fokus Pembangunan Natuna

indoPetroNews.com - Pembangunan yang selalu terpusat di Pulau Jawa, Jawa sentris, seringkali menjadi sorotan Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan. Oleh karenanya, sejak awal pemerintahannya, Presiden bertekad untuk lebih memprioritaskan pengembangan wilayah terluar, pulau terdepan dan kawasan perbatasan di Indonesia. Presiden menyadari, wilayah terluar Indonesia berperan sebagai gerbang kedaulatan negara. Kali ini, perhatian Presiden Joko Widodo ditujukan kepada Kepulauan Natuna sebagai salah satu pulau terdepan di Indonesia.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, hari ini, Kamis (23/6/ 2016), Presiden Joko Widodo bertolak menuju Kepulauan Natuna untuk melihat langsung potensi ekonomi di garis batas antara Indonesia dengan sejumlah negara yakni Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Di tempat yang sama, Presiden menggelar rapat terbatas dengan beberapa menteri kabinet kerja mengenai percepatan pembangunan di Natuna. Bukan di dalam ruang rapat maupun kantor sebagaimana biasanya, rapat terbatas kali ini digelar di atas kapal KRI Imam Bonjol 383.

Dalam rapat terbatas di wilayah Natuna hari ini, Presiden Jokowi menginstruksikan kepada menteri terkait agar dilakukan percepatan pembangunan di Natuna. Natuna merupakan salah satu pulau terdepan di Indonesia sehingga pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas maupun pembangunan ekonomi seperti industri perikanan, gas, dan pariwisata bahari perlu segera dilakukan. Presiden juga berpesan agar patroli dan penjagaan kawasan Natuna harus ditingkatkan.

"Saya minta kemampuan TNI dan Bakamla dalam menjaga laut harus lebih ditingkatkan, baik dalam hal kelengkapan teknologi radar maupun kesiapannya," tegas Presiden Joko Widodo dalam rapat tersebut

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memberikan keterangannya kepada para jurnalis. Retno mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar pengembangan ekonomi di wilayah Kepulauan Natuna dan sekitarnya difokuskan pada industri perikanan dan migas.

"Dalam ratas tadi, Presiden sudah mendengarkan paparan dari semua menteri dan menyampaikan beberapa pesan atau arahan. Presiden meminta agar perkembangan ekonomi di wilayah Kepulauan Natuna dan sekitaranya dikembangkan terutama dua hal, yaitu untuk perikanan dan kedua migas," ujar Menlu memulai keterangannya.

Pada saat rapat terbatas dilaksanakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said memberikan informasi terkait 16 blok migas yang ada di sekitar wilayah Kepulauan Natuna di mana 5 blok sudah menjalankan produksinya sementara 11 lainnya sedang dalam tahap eksplorasi. Selain itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga menerangkan rencana pembangunan sentra kelautan dan perikanan secara terpadu di wilayah tersebut.

"Nah poin yang ketiga, selain pengembangan ekonomi di bidang perikanan dan juga migas, Panglima TNI tadi juga menyampaikan rencana pengembangan pertahanan di wilayah Natuna dan sekitarnya," tambah Menlu.

Menanggapi pertanyaan jurnalis mengenai ketersediaan listrik di wilayah tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan yang turut hadir dalam keterangan pers tersebut menyebut pasokan listrik sedang dipersiapkan.

"Bapak Menteri ESDM tadi sudah mengatakan bahwa gas sedang dialihkan ke Pulau Pemping dan itu akan menyediakan pasokan listrik sekitar 50 MW," terang Luhut. (Sofyan)
 

Majalah IndoPetro

Loading...

Web Desain App Builder


___________________________________

IndoPetroNews
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login