IndoPetroNews

Headlines News :
SKKMigas

Translate by Google

Beyond Communication


#LetsHelpRohingya


PetroInfo

PetroComodity

Miliki 25 Blok Migas, Maluku Duduki Propinsi Termiskin Ke-4

indoPetroNews.com - Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Engelina Pattiasina mengatakan Propinsi Maluku saat ini diketahui mempunyai 25 Blok Minyak dan Gas Bumi (Migas). Namun propinsi yang dikenal sebagai kepulauan rempah-rempah tersebut, masih mendapat predikat sebagai propinsi termiskin ke 4, di Indonesia.

Engelina menyebutkan, Provinsi Maluku memiliki 25 blok minyak dan gas (Migas). Sebanyak 15 blok di antaranya sudah dimiliki investor, sedangkan 10 blok sedang dalam proses tender untuk mencari investor di Ditjen Migas Kementerian ESDM.

"Dengan 25 blok Migas yang ada di Maluku, semestinya Maluku harus sejahtera dan tidak pantas berada di posisi empat besar provinsi termiskin di Indonesia. Sekarang bagaimana kekayaan besar itu berguna untuk kesejahteraan Maluku yang masuk provinsi termiskin," jelas Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Engelina Pattiasina dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (4/8).

Engelina mengatakan, dengan kekayaan seperti itu, pemerintah dan masyarakat Maluku harus memastikan kekayaan itu memiliki dampak nyata untuk kesejahteraan rakyat Maluku. Tidak boleh terjadi, rakyat pemilik kekayaan alam itu hidup miskin di atas sumber daya alam yang melimpah.

"Di mana-mana, daerah kaya selalu dilanda konflik. Coba dicek saja di berbagai dunia. Kita harus menyadari hal ini," ujarnya.

Menurutnya, Maluku akan tetap tertinggal dan miskin jika tidak memiliki pemicu pertumbuhan. Untuk itu, sumber daya alam yang ada harus menjadi pemicu utama perkembangan ekonomi. "Kalau ada pemicunya, maka pertumbuhan ekonomi akan sangat cepat. Maluku saat ini harus menjadikan Migas sebagai pemicu utama ekonomi," katanya.

Praktisi migas, Boetje HP Balthazar, menjelaskan, dari ke-25 blok itu, Blok Masela dengan cadangan gas abadi memiliki jangka waktu produksi komersil 30 tahun. Begitu juga candangan gas besar ada di Blok Babar Selaru. Saat ini, perusahaan Migas rakasasa dunia yang masuk ke Maluku, yakni Inpex dari Jepang, Shell BV dari Belanda dan Stat Oil dari Norwegia.

Boetje menyebut potensi Migas luar biasa di Maluku yakni selain Blok Masela, Blok Babar Selaru, juga ada Blok Pulau Moa Selatan, dan Blok Roma. Dia mengakui, blok itu berada di laut dalam dan berbatasan dengan negara lain. Untuk itu, perlu perhatian penuh sehingga tidak terjadi negara lain mengambil migas di wilayah Indonesia.

Boetje mengatakan, potensi sumber minyak dan gas di Maluku sebenarnya sudah lama diketahui para pemain di bidang minyak dan gas. Hal itu terbukti, adanya perusahaan raksasa yang menguasai 100 persen beberapa blok di Maluku.

"Ini tidak mungkin terjadi, kalau tidak memiliki data yang sangat-sangat valid," tegasnya.(ehs)

Semester I 2015, Pendapatan Pertamina Anjlok

indoPetroNews.com - Pertamina Persero mencatatkan laba bersih sebesar US$ 0,57 miliar per semester I 2015. Realisasi tersebut jauh di bawah semester I 2014 lalu yang mencapai US$ 1,1 miliar. Presiden Direktur Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan tergerusnya laba tersebut salah satunya akibat terus merosotnya harga minyak dunia. Hal ini menyebabkan pendapatan Pertamina ikut anjlok.

"Kami berada di bawah situasi gonjang-ganjing akibat penurunan harga minyak. Kami harus mengambil langkah agar bisa survive," kata Dwi saat paparan publik di Gedung Pusat Pertamina, Rabu (5/8).

Dwi menjelaskan pendapatan Pertamina tercatat US$ 21,79 miliar. Jumlah pendapatan setengah tahun tersebut setara dengan realisasi satu tahun pendapatan di tahun lalu.

Menurut Dwi, skema penetapan harga BBM yang tidak mengkuti harga pasar juga menyebabkan laba Pertamina tergerus. "Saat ini, pemerintah tidak mengkuti harga minyak dunia karena mementingkan daya beli masyarakat," kata Dwi.

Dalam semester I ini, Pertamina juga mencatat produksi minyak dan gas naik 6%. Untuk produksi, triwulan I 2015 sebesar 267.48 mbopd menjadi 274.04 selama triwulan II 2015. Sedangkan gas, produksi sebesar 1,60 bscfd selama triwulam II 2015 dari 1,5 bscfd pada triwulan I. EBITDA US$ 2,32 miliar.(ehs)

Ini Skema Kontrak Migas Baru

indoPetroNews.com - Direktur Pembinaan Hulu Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Djoko Siswanto mengatakan, pemerintah punya jurus baru untuk menarik minat para investor minyak dan gas bumi (migas), untuk wilayah kerja migas baru Agustus ini.

Cara tersebut adalah pemberian keleluasaan bagi investor untuk menggunakan skema kontrak migas baru, sehingga tidak terbatas pada kontrak bagi hasil (PSC).

"Aturan mengenai hal ini sedang dalam penyusunan," kata Djoko, seperti yang dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Djoko, dengan skema kontrak baru tersebut menjadi lebih banyak pilihan, serta akan menarik investor yang berujung pada peningkatkan kegiatan eksplorasi dan produksi migas.

Djoko menyebutkan skema baru tersebut adalah gross split atau sliding scale. Dengan sistem ini, pemerintah tidak lagi harus mengganti biaya operasi migas atau yang selama ini dikenal sebagai cost recovery.

"Sebagai gantinya, pada awal suatu proyek migas berproduksi, sebagian besar hasilnya menjadi bagian investor. Setelah investasinya hampir balik modal, maka bagi hasil untuk Pemerintah semakin besar," tambah Djoko.

Masing-masing skema kontrak kerja sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, pilihan tergantung pada KKKS.

"Sistem ini berlaku untuk blok baru. Terserah kontraktor interest (sistem) yang mana. Mungkin di antara mereka masih lebih suka PSC karena kalau cost recovery akan diganti (biaya operasi oleh pemerintah). Kalau dengan sistem ini, KKKS otomotis akan melakukan efisiensi karena cost-nya dari mereka sendiri," jelas Djoko.

Sistem kontrak migas gross split atau sliding scale ini, banyak digunakan di berbagai negara, seperti Australia. Di negara tersebut, dengan menggunakan sistem ini, pengelolaan migas di laut dalam dapat berkembang dengan baik. (she)

Daya Beli Rendah, BBM Tak Naik

indoPetroNews.com - Ternyata alasan pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), karena mempertimbangkan daya beli masyarakat saat ini. Demikian dikatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, di Jakarta, kemarin.

"Kami menyadari harga BBM lebih rendah dari harga keekonomian. Kami monitor. Kebijakan diambil, melihat daya beli masyarakat dan kemampuan pelaku usaha," tegas Sudirman

Dia mengatakan pihaknya masih perlu melihat perekonomian Indonesia secara keseluruhan untuk menentukan kebijakan perubahan harga BBM agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi yang berasal dari daya beli masyarakat.

"Akan kami lihat keseluruhan. Kebijakan subsidi tidak ada perubahan dan akan kami sesuaikan harga keekonomian," katanya.

Selain itu, dia mengatakan pemerintah ingin menjaga kestabilan harga BBM di masyarakat yang sebelumnya telah berubah empat kali sepanjang 2015.

Menurut Sudirman, pemerintah masih akan menunggu waktu yang tepat untuk mengubah harga BBM dengan beberapa pertimbangan tersebut.

Konsistensi reformasi subsidi energi, lanjut dia, merupakan salah satu kebijakan reformasi struktural yang ditempuh untuk memperkuat fundamental perekonomian dalam menopang pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Selain itu, Sudirman mengatakan dalam menghadapi tantangan ekonomi, diperlukan komunikasi antara pengambil kebijakan makro dan riil.

Sebelumnya Sudirman menegaskan harga BBM per 1 Agustus 2015 tidak akan diubah.

Sedangkan pemerintah sebelumnya berencana menetapkan perubahan harga BBM menjadi lebih tinggi, yang dipertimbangkan berdasarkan hasil kajian Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.(ehs)

Kurtubi: Pertamina dan PGN Mesti Akur

indoPetroNews.com - Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi meminta agar pemerintah mendamaikan para calon agregator gas yakni PT. Pertamina (Persero) dengan PT. Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN), sebelum membentuk perusahaan holding energi yang akan menjadi penanggungjawab tersedianya gas dalam negeri.

Menurut Kurtubi, dalam pembentukan perusahaan holding antara Pertamina dan PGN, pemerintah harus benar-benar turun tangan, karena selama ini keduanya dianggap tidak akur. Dan jika tetap dibiarkan justru akan merugikan negara. "Pertamina dan PGN saat ini kan saling sikut," sebut Kurtubi, di Jakarta, Selasa (4/8).

Menurut Kurtubi, Pertamina dan PGN saat ini juga tengah memperebutkan peran agregator gas di dalam negeri. Pemerintah telah menetapkan badan usaha yang bisa menjadi agregator gas adalah BUMN. Dan hingga saat ini belum ditetapkan siapa yang akan menjadi agregator gas.

Selain itu, sebelum membentuk perusahaan holding tersebut, menurut anggota Komisi VII DPR ini, pemerintah harus melakukan buy back saham milik PT PGN Tbk. yang dikuasai publik. Karena saat ini, sekitaar 40 persen saham milik PGN dikuasai swasta.

"Untuk memperbesar perusahaan energi nasional di Indonesia, saya setuju dijadikan perusahaan holding," ujar Kurtubi. (ehs)

Total E&P Indonesie: Lapangan Bekapai Siap Berproduksi

indoPetroNews.com - PT. Total E&P Indonesie sepertinya terus melakukan percepatan dalam mengoperasikan proyek gas di tanah air. Terbukti, blok Bekapai Fase 2B Mahakam tengah dipasang pipa berdiameter 12 inch sepanjang 12,6 km dari anjungan BA (di Lapangan Bekapai) ke anjungan SWP-K (di Lapangan Peciko).

"Karena keseluruhan kegiatan, mulai dari pengadaan barang dan jasa, engineering, fabrikasi, instalasi, pre- commissioning, commissioning, maupun start-up berjalan sangat aman, tanpa Lost Time of Injuries (LTI) atau zero LTI," kata President & General Manager Total E&P Indonesia Hardy Pramono dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (3/8).

Pramono menyebutkan, start up ini terjadi satu minggu lebih cepat dari komitmen Ready for Start Up (RSFU), yaitu 1 Agustus 2015, seperti yang tertera pada persetujuan FID. "Juga menghemat biaya sebesar USD10 juta (lebih dari Rp130 miliar)," ucap dia.

Dia menjelaskan, jaringan pipa baru berkapasitas 60 MMSCFD ini akan mengurangi beban jaringan pipa Bekapai-Senipah berdiameter 12 inch yang saat ini ada, demi meningkatkan kapasitas pengiriman gas pada produksi mendatang dari Lapangan Bekapai.

Dengan beroperasinya pipa baru ini, Ia menambahkan, produksi gas Bekapai telah meningkat menjadi 49 MMSCFD sejak 29 Juli 2015, dan diperkirakan akan mencapai 75 MMSCFD setelah dilakukan kegiatan perawatan sumur pada akhir Juli 2015 ini.

"Prestasi penting ini tercapai berkat tekad kuat, profesionalisme, dan kerja sama yang sangat baik dari semua pihak yang terlibat," tutupnya. (ehs)

Pemerintah Siapkan Minyak Bumi Sesuai Kebutuhan

indoPetroNews.com - Direktur Pembina Program Migas Dirjen Migas Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, mengatakan hingga saat ini pemerintah belum melakukan pembelian minyak mentah besar-besaran. Alasannya, karena minyak membutuhkan tempat penampungan atau tangki yang saat ini masih terbatas.

"Kita belum borong minyak, beli masih sesuai kebutuhan. Cadangan penyangga masih sekitar 22 hari," ujar Agus di Jakarta, Senin (3/8).

Padahal, sebelumnya, dengan kondisi harga minyak dunia yang mencapai level US$50 per barel, pemerintah berniat "menimbun" untuk dijadikan cadangan penyangga.

Diakuinya, sebelumnya pemerintah telah mencoba meminjam tangki-tangki milik perusahaan BUMN atau swasta, bahkan pemerintah telah melakukan MoU dengan Adaro terkait peminjaman tangki.

Sebelumnya, pengamat kebijakan energi Puskepi, Sofyano Zakaria, mengatakan dengan kondisi harga minyak dunia yang menurun saat ini, PT Pertamina Persero untuk tidak mengambil tindakan gegabah, seperti memborong minyak secara besar-besaran. Karena nantinya justru akan menjadi bumerang bagi Pertamina sendiri.

Menurut Sofyano, selain tangki penampungan yang terbatas, pergerakan harga minyak dunia sulit diprediksi. Jika Pertamina memborong minyak besar-besaran saat ini, belum tentu ke depan harga minyak akan naik, bahkan bisa turun lagi, dan itu akan menimbulkan kerugian besar.

Di saat harga minyak di level terendah beberapa waktu lalu, pemerintah menolak menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan alasan ingin membangun cadangan. (ehs)

Tiga Pondasi Penting Racikan Sudirman Said

indoPetroNews.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengatakan, instansi yang dipimpinnya harus mempunyai tiga pondasi penting yang harus dibangun.

Pertama, Kementerian ESDM harus membangun sumber daya manusia (SDM) yang bermutu tinggi. "Jadi, mutu SDM kita, baik di (Kementerian) ESDM, di SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi), di BPH (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi), dan juga di institusi penunjang lainnya harus diperkuat," sebut Sudirman Kepada wartawan, di Jakarta, Senin (3/8).

Kedua, lanjut Sudirman, pihaknya juga harus membangun kapasitas nasional (national capacity) agar dapat berhubungan dengan dunia internasional. Caranya dengan ditingkatkannya teknologi, industri, dan database.

"Sehingga kita bisa bergaul dengan dunia internasional. Bukan malah ngumpet, mengisolasi diri," lanjutnya.

Menurutnya, data geologi Indonesia bisa menjadi basis untuk pembangunan tambang maupun mineral. Selain itu, Kementerian ESDM juga harus membangun transmisi supaya peran industri nasional semakin besar selama 5 tahun ke depan.

Pondasi ketiga, Sudirman menambahkan, adalah tata kelola (good governance) yang berprinsip, transparansi, integritas, dan akuntabilitas dapat dibangun. Menurutnya, Kementerian ESDM memiliki otoritas untuk memutuskan hal teknis sesuai dengan arahan strategis dari Presiden.

"Hanya dengan membangun otoritas ilmiah atau otoritas keteknisan, maka intervensi bisa kita jawab dengan baik," katanya. (ehs)

Produksi Puncak Blok Cepu Diperkirakan Tertunda

indoPetroNews.com - Pengawas proyek Blok Cepu dari SKK Migas, Yulius Wiratno menyatakan produksi puncak minyak Blok Cepu 165 ribu barel/hari di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang dijadwalkan berkisar Agustus-September 2015, bisa mundur.

"Jelas produksi puncak minyak Blok Cepu 165 ribu barel/hari, akan mundur, terkena dampak aksi massa tenaga kerja proyek Blok Cepu kemarin," katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan perbaikan lokasi kerja proyek Blok Cepu akan membutuhkan waktu cukup lama, karena banyaknya peralatan kantor yang rusak akibat amuk massa tenaga kerja.

"Belum bisa ditentukan kapan produksi puncak 165 ribu barel bisa terealisasi, sebab banyak peralatan kantor yang rusak," tegasnya.

Ditanya apa saja kerusakan yang terjadi? ia mengaku tidak hapal, tapi di antaranya, komputer juga benda-benda lainnya di dalam kantor, termasuk kaca sejumlah gedung perkantoran milik PT Tripatra-Samsung, Jakarta.

"Kaca-kaca gedung perkantoran hampir semuanya pecah, karena dilempari massa dengan berbagai benda, termasuk alat perkantoran juga dirusak," jelas Yulius, yang ketika terjadi amuk massa berada di dalam salah satu gedung PT Tripatra di lokasi kejadian.

Sebelum aksi massa, menurut dia, produksi minyak Blok Cepu di Kecamatan Gayam sekitar 80 ribu barel/hari.

Namun, kata dia, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menghentikan produksi minyak di dua lapangan Blok Cepu, yang bisa menghasilkan sekitar 50 ribu barel/hari. Dihentikannya produksi minyak di dua lapangan, karena berdekatan amuk massa.

"Satu lapangan minyak Blok Cepu masih tetap berproduksi sekitar 30 ribu barel/hari, karena lokasinya jauh dari lokasi kerusuhan," ucapnya.

Data yang diperoleh, aksi massa tenaga kerja proyek minyak Blok Cepu sehari lalu yang dipicu sulit keluar dari lokasi untuk makan siang, telah merusak, antara lain, sejumlah perkantoran PT Tripatra, yang disebut Gedung Tripatra "site office".

Massa juga mengambil dan merusak 135 AC, dan menjarah puluhan tabung pemadam kebakaran untuk dilempar-lemparkan. Selain itu, ada sejumlah mobil yang rusak, salah satunya dibakar oleh massa.

Mobil yang rusak yaitu Innova warna putih Nopol S-1950-AK, milik Firmansyah (manajer konstruksi), dan Fortuner perak L-1965-ZB milik Carly, warga Irlandia.



Pajero S-1044-AM, milik CV Prima Abadi, Honda Mobillio L-1963-AZ, milik tamu, Nissan Avara S-9934-D, milik Kamidin.(ehs)

LNG Terbesar Ke-4 Ogah Terima Cost Recovery

indoPetroNews.com - Dua proyek utama PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) yaitu, Fasilitas Produksi Hulu Gas Senoro dan Fasilitas Hilir Kilang LNG Donggi Senoro (DSLNG) telah selesai. Hal tersebut terjadi ketika Presiden Jokowi meresmikan proyek berkapasitas 2,1 juta ton LNG per tahun ini, Minggu (2/8).

"Pencapaian ini merupakan tonggak penting bagi MedcoEnergi karena telah berhasil memonetisasi lapangan gas Senoro, yang 15 tahun silam masih dianggap sebagai stranded gas, hingga dapat memasok gas ke Kilang DSLNG," ujar Lukman Mahfoedz, Direktur Utama MedcoEnergi, melalui keterangan persnya, Senin (3/8).

Mahfoedz mengatakan DSLNG merupakan kilang LNG ke-empat di Indonesia dan yang pertama dikembangkan dengan skema yang memisahkan bisnis hulu dengan bisnis hilir pengolahan LNG.

Keuntungan lainnya bagi pemerintah adalah risiko investasi dan operasi kilang LNG ditanggung oleh PT DSLNG selaku pengelola, dan pemerintah tidak perlu menanggung dan mengembalikan investasi kilang LNG melalui skema cost recovery. Pengembangan dan pengoperasian hulu dan hilir ini dapat memberikan kontribusi pendapatan kepada Pemerintah Indonesia sebesar AS$ 6,4 milyar pada harga minyak AS$ 70 per barel selama periode 13 tahun, sampai berakhirnya masa kontrak PSC pada tahun 2027.

PT Donggi Senoro LNG (PT DSLNG), merupakan joint venture antara PT Medco LNG Indonesia (11,1%), PT Pertamina Hulu Energi (29%), dan Sulawesi LNG Development Ltd (59,9%), perusahaan patungan antara Mitsubishi Corporation dengan Korean Gas (KOGAS).

Kilang ini telah menjalani tahap uji coba (commissioning) dengan sukses dan aman sejak Oktober 2014. Sementara, Fasilitas Produksi Hulu Gas Senoro dioperasikan oleh Joint Operating Body Pertamina – Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB-PMTS), dimana pemegang sahamnya terdiri dari MedcoEnergi (30%), PT Pertamina (50%), dan Tomori E&P Ltd (20%).

Lapangan ini memiliki dua Train fasilitas produksi dengan kapasitas gas 310 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) dan kondensat 8.500 barel per hari.(ehs)

 

Ads Google


Majalah IndoPetro

Loading...

___________________________________

IndoPetroNews

Web Desain App Builder


Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login