IndoPetroNews

Headlines News :
SKKMigas

Translate by Google

Beyond Communication


ACT


PetroInfo

PetroComodity

Chairman IAPMigas : Kita Support Pembangunan Infrastruktur Migas dari Hulu Hingga Hilir

indoPetroNews- Pembangunan infrastruktur bidang minyak dan gas bumi (migas) oleh sebagian kalangan dikesankan lebih terfokus pada gas. Padahal sebenarnya sektor infrastruktur minyak bumi pun kini menjadi concern Ikatan Ahli Perpipaan Migas (IAPMigas).

Hal tersebut diungkapkan oleh Chairman IAPMigas Hendra Jaya. "Meskipun banyak dilihat kita sekarang fokusnya ke gas tapi juga kita lihat concern di bidang minyak juga," kata Hendra Jaya, Selasa (30/8/2016) di Jakarta.

IAPMigas adalah sebuah asosiasi profesional yang mendukung percepatan pembangunan infrastruktur migas untuk bisa menyalurkan sumur gas atau minyak sampai ke end user.

Menurut Hendra Jaya, selama ini biasanya terdapat ketidaksinkronan dan ketidaksinergian antara demand dan infrastrukturnya. "Kita mempersiapkan chicken-nya lah (infrastruktur) sehingga diharapkan demand gas dan minyak dapat bersinergi. Kenapa saya sebut gas duluan, karena itu hot isunya, sexy issue," tandasnya.

Diharapkan, lanjut Hendra Jaya, dengan pembangunan infrastruktur gas tadi maka pengguna gas di hilir bisa mendapatkan harga gas terjangkau. (Sofyan)

Pertamina Terus Genjot Pasokan Gas Domestik

indoPetroNews- PT Pertamina (Persero) melalui afiliasinya terus memberikan kontribusi konkret dalam penyediaan pasokan gas untuk industri strategis dan ketenagalistrikan.

Di sela-sela pelaksanaan IndoPIPE 2016 Conference & Exhibition, pada Selasa (30/8/2016) PT Pertamina Gas (Pertagas) menandatangani beberapa perjanjian kerja sama bisnis gas dengan beberapa pihak antara lain Perjanjian Pengangkutan Gas (PPG) antara PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Parna Raya dan PT Inti Alasindo serta Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) antara PT Pertagas Niaga dan PHE Offshore North West Java (ONWJ), EMP ONWJ Ltd, KUFPEC Indonesia (ONWJ) B.V.

PPG yang ditandatangani Pertagas dengan Parna Raya dan Inti Alasindo untuk pengangkutan masing-masing 40 million standard cubic feet per day (mmscfd). Sumber pasokan gas dari kedua perusahaan tersebut berasal dari Husky – CNOOC Madura Limited (HCML).

Gas akan disalurkan dari Lapangan BD ke Onshore Receiving Facilities (ORF) Kraton milik HCML selanjutnya disambung (tie in) ke pipa transmisi gas open access Porong-Grati, melalui pipa transmisi open access Semare sepanjang ± 12 km yang akan dibangun Pertagas dan direncanakan mulai beroperasi pada Kuartal Pertama (Q1) 2017.

Konsumen utama gas tersebut adalah pembangkit listrik milik Indonesia Power (IP) di Grati, Kabupaten Pasuruan. Kerja sama ini adalah salah satu bagian dari program 35.000 MW yang sudah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Gas milik Parna Raya digunakan seluruhnya untuk IP Grati, sedangkan gas milik Inti Alasindo sebagian akan digunakan untuk kebutuhan industri di Jawa Timur, memanfaatkan pipa eksisting milik Pertagas yang sudah ada dari Porong – Gresik selain nantinya memanfaatkan pipa Porong- Grati.

"Kerja sama ini adalah bagian dari pengembangan portofolio bisnis Pertagas terutama di bidang niaga dan tranportasi gas. Selain untuk keberlanjutan usaha Pertamina, kesepakatan yang ditandatangani hari ini tentu sangat dinantikan karena dampak positifnya bagi perekonomian nasional," kata Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya. (Sofyan)

Wakil Kepala SKK Migas : Di Masa Depan Pemanfaatan Gas Beralih dari Pipa ke LNG

indoPetroNews- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendukung berbagai upaya untuk mendukung pengembangan infrastruktur migas.

"Pada dasarnya dari sisi hulu minyak dan gas bumi (migas) tentunya kita sangat mendukung aktivitas infrastruktur ini," kata Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) M.I Zikrullah, kepada sejumlah media, termasuk indoPetroNews.com Selasa (30/8/2016) di Jakarta. Seperti diketahui, pada masa mendatang sumber gas semakin berkurang dan semakin sulit.

Oleh karena itu, lanjut Pak Zik, demikian ia kerap disapa, pemanfaatan gas akan berpindah dari gas pipa ke Liquefied Natural Gas (Gas Alam Cair) LNG.

Dia menyatakan dengan perpindahan ini maka pemanfaatan yang ada, membutuhkan infrastruktur yang lebih untuk gas. Selain itu, lanjut Pak Zik, pemanfaatan gas di masa mendatang bukan hanya menyambungkan ke sumber gas tapi virtual pipeline. "Akibat lanjutannya adalah gas dapat dinikmati saudara kita di remote area sehingga terjadi optimalisasi gas," tandasnya.

Pak Zik juga menjawab saat ditanyakan infrastruktur apa saja yang menjadi kebutuhan pada masa mendatang. Katanya, "Pertama seperti untuk distribusi LNG untuk pulau-pulau terluar. Ada juga LNG carrier, kemudian ada receiving terminal dan ada juga regasifikasi serta distribusinya".

Saat ditanyakan apakah infrastruktur tersebut akan similar dengan yang ada sekarang, Pak Zik pun menjawab, "Sekarang ada teknologi yang dapat membawa LNG dalam small scale, seperti pakai iso tank, sehingga dapat dibawa LNG dengan berbentuk container."

Dengan demikian, imbuh Pak Zik, pendistribusiannya lebih merata. "Ini juga dapat memenuhi kebutuhan tenaga listrik di daerah remote area. Sehingga pemanfaatan gas lebih optimal," katanya. (Sofyan)

PHE, EMP dan KUFPEC ONWJ Tandatangani PJBG bersama PT Pertagas Niaga

indoPetroNews- PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), EMP ONWJ Ltd, dan KUFPEC Indonesia (ONWJ) B.V. selaku pemegang Participating Interest (PI) pengelolaan blok ONWJ menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) bersama PT Pertagas Niaga yang juga merupakan anak perusahaan PT Pertamina Gas.

Jumlah kontrak yang diperjanjikan sebesar 1,24 TBTU (Trillion British Thermal Unit) dengan Jumlah Penyerahan Harian 3 BBTUD (Billion British Therml Unit per Day) untuk tahun 2016 dan 8 BBTUD untuk tahun 2017. Gas dikirim melalui Onshore Receiving Facility (ORF) Cilamaya untuk mendukung kegiatan industri di wilayah Jawa Barat seperti keramik, kaca, pabrik otomotif, pabrik alat berat, pabrik bahan material bangunan dan pabrik makanan.

“Penandatanganan perjanjian ini menunjukkan komitmen kuat kami untuk mendukung industri strategis dalam negeri,” kata Direktur Utama PHE ONWJ Beni J. Ibradi dalam acara The 6th International Indonesia Gas Infrastructure Conference & Exhibition pada Selasa (30/8/2016) di Jakarta.

Perjanjian yang ditandatangani di sela-sela pelaksanaan IndoPIPE 2016 Conference & Exhibition tersebut berlaku untuk dua tahun hingga kontrak pengelolaan blok ONWJ habis pada 18 Januari 2017.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PHE ONWJ Beni J. Ibradi, bersama Presiden Direktur Pertagas Niaga Linda Sunarti. (Sofyan)

November, Qatar Luncurkan Proyek US$10 T Gas Barzan

indoPetroNews- Dalam memenuhi permintaan energi dalam negeri, Qatar sedang bersiap-siap memulai operasi proyek gas Barzan senilai US$10 triliun di November yang akan datang, dimana akan meningkatkan output gas nasional mencapai 2 triliun kubik kaki saat kapasitasnya tercapai di 2017.

Investasi luar biasa besar Qatar di FIFA World Cup 2022 yang akan datang dan ekspansi industri penerbangan sipil mendorong permintaan terhadap energi, dimana permintaan negara atas produk refined oil telah berlipat ganda sejak lima tahun lalu.

Berdasarkan laporan Reuters (29/8), proyek ini merupakan joint venture antara Qatar Petroleum dan Exxon Mobil, dimana keduanya telah sepakat untuk mengembangkan Barzan offshore platform di North Field pada tahun 2011. Proyek ini akan mendorong banyak produksi yang akan diarahkan untuk sektor listrik dan air.

Sambil berusaha meningkatkan suplai dalam negerinya, Qatar merupakan eksportir liquefied natural gas (LNG) terbesar di dunia, hal ini didapat dari data Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat. Pada awal tengah tahun ini, ekspor LNG Qatar ke Asia Selatan dan negara Timur Tengah lainnya melonjak.

Saat ini, Qatar sedang menahan diri dalam proyek baru di North Field dengan tujuan untuk melihat keberlanjutan output dalam jangka waktu panjang. Menurut EIA, proyek Barzan adalah satu-satunya yang berpotensi untuk meningkatkan produksi gas alam dalam waktu singkat. Proyek ini adalah proyek North Field terakhir yang disetujui selama waktu pengangguhan.

Menurut International Energy Outlook 2016 dari Mei tahun ini, EIA mengatakan bahwa Qatar diperkirakan akan melanjutkan peringkat pertama dalam ekspor LNG di dunia dan akan menjadi supplier jangka panjang hingga akhir dekade ini, dengan Amerika Serikat dan Australia pada urutan berikutnya.

Akan tetapi Qatar tetap masih memutuskan untuk memperpanjang penangguhan pengembangan bagian lainnya di North Field, dan tidak menerima proyek apapun hingga 2020 nanti. (Gadih/oilprice)

Awal September 2016, Harga Bensin di Kuwait Naik 80 Prosen

indoPetroNews- Dampak fluktuasi harga minyak mentah di pasar dunia mengimbas negara-negara teluk, diantaranya Kuwait. Mulai awal September 2016 harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dinaikkan. Tidak tanggung-tanggung, 80 prosen.

Melalui keterangan tertulis, pemerintah Kuwait menjelaskan harga bensin beroktan rendah akan naik sampai 41 persen menjadi US$ 28 sen seliter, bensin beroktan tinggi melonjak hingga 61 persen ke angka US$ 35 sen per liter.

Keputusan tersebut diambil melalu sidang kabinet Kuwait, medio Agustus silam. Sidang memutuskan untuk menaikkan harga bensin hingga lebih dari 80 persen mulai 1 September mendatang.

“Kebijakan ini buat mengatasi defisit akibat melorotnya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014. Kuwait juga memutuskan buat menaikkan harga bensin beremisi rendah sampai 83 persen menjadi US$ 55 sen tiap liter,” demikian bunyi keterangan tertulis dari Kabinet Kuwait.

Keterangan tersebut juga menyebutkan bahwa keputusan kenaikan harga bensin adalah yang pertama di Kuwait dalam dua dasawarsa terakhir.

Seperti diketahui, Kuwait menjadi negara anggota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) terakhir menaikkan harga bensin. Lima anggota GCC lainnya - Arab saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman - sudah menghapus seluruh atau sebagian subsidi atas bahan bakar minyak sebagai akibat dari anjloknya harga minyak mentah di pasaran dunia. (Sofyan)

Penguasaan Teknologi Mutlak agar Harga EBT Kompetitif

indoPetroNews- Penguasaan teknologi di bidang energi baru terbarukan harus dikuasai agar harga energi alternatif dapat kompetitif jika dibandingkan dengan energi konvensional berbasis fosil.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Farida Zed. Farida meyakini bahwa harga minyak mentah di pasar dunia akan segera terkoreksi dan energi baru terbarukan akan kembali tumbuh dan berkembang.

“Dengan menguasai teknologinya sehingga kita mempunyai produksi nasional yang baik. Bila kita kapasitas produksi turun tentu harga teknologi akan turun. Trend harga peralatan teknologi energi terbarukan terus turun,” kata Farida Zed kepada indoPetroNews.com Senin (29/8/2016) di Jakarta.

Farida menambahkan strategi untuk menguasai teknologi tersebut dapat dilakukan melalui riset. “Riset kita harus diperkuat,” cetusnya sembari mengimbuhkan pihaknya juga mempunyai Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang). Riset energi baru terbarukan juga dilakukan Kemeterian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). “Kolaborasi dari lembaga-lembaga riset akan memperkuat penguasaan kita di bidang teknologi energi baru terbarukan,” tandasnya.

Kendati demikian, Farida juga mengakui bahwa selama ini teknologi energi baru terbarukan masih mengimpor. “Ini yang terus kita perkecil. Dan selama ada subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) maka harganya akan menjadi murah. Dan subsidi tidak akan membangun riset. Riset akan berhenti kalau harga yang diriset itu rendah. Ini yang harus kita perbaiki,” katanya.(Sofyan)

Pengamat : Kalah Gesit, Pertamina Gagal Beli 30% Saham LukOil di West Qurna 2

indoPetroNews- Impian PT Pertamina (Persero) yang ingin menjadi perusahaan energi kelas dunia mendadak terhenti sejenak. Pasalnya, tanpa alasan jelas, Pertamina ibarat melepaskan kesempatan emas menyusul batalnya rencana akuisisi blok minyak dan gas bumi (migas) West Qurna 2 yang berada di Irak.

"Diketahui, West Qurna 2 termasuk blok migas paling subur di Irak. Bahkan termasuk terbesar nomor 2 di dunia setelah blok Ghawar di Saudi Arabia," kata kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman kepada indoPetroNews.com pada Senin (29/8/2016) di Jakarta.

Menurut Yusri, pembatalan pun makin janggal karena Pertamina pada Oktober 2015 telah menyewa lembaga auditor PricewaterhouseCoopers (PwC) untuk melakukan audit finansial terhadap blok yang dikelola LukOil.
"Adapun hasil audit finansial tersebut adalah sangat baik dan positif. Kemudian, due diligence (uji kelayakan) pun sudah dilakukan tim teknis Pertamina yang dilakukan pada periode Februari hingga Juni 2015," ungkapnya.

Celakanya, lanjut Yusri, beredar kabar, sejak pertengahan Agustus 2016, LukOil asal Rusia, pemilik hak pengelolaan Blok West Qurna 2, telah menutup peluang Pertamina untuk mengakuisisi sahamnya sebesar 30 persen dari nilai 75 persen milik LukOil. "Ada apa dibalik ini," tanya Yusri.

Kemudian Yusri mengutip penyataan Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman (26/8/2016), yang mengatakan, “Produksi West Qurna 2 sekarang sekitar 450 ribu barel per hari (bph) dan 2019 akan mencapai 1,2 juta bph. Maka coba bandingkan dengan saham milik Jean Prancois Heinin melalui perusahaan Pasifico yang dibeli Pertamina sekarang di Prancis (Maurel & Prom), itupun bukan beli aset melainkan membeli saham induk (holding), dengan harga 201, 2 juta Euro setara Rp 2, 9 triliun".

Padahal, kata Yusri, produksinya hanya sekitar 25.000 barel perhari (bph) di 3 negara Gabon, Tanzania dan Nigeria serta total cadangannya hanya sekitar 250 juta barel.

Berdasarkan data yang diperoleh, lanjut Yusri, semula LukOil menawarkan kepemilikan 30 persen sahamnya di West Qurna 2 seharga sekitar USD 1,2 miliar atau setara Rp 15,864 triliun (kurs Rp 13.220), dengan asumsi harga minyak saat itu USD 70 per barel. “Kalau saat ini harga minyak rata-rata di bawah USD 45 per barel, tentu kalau Pertamina serius melakukan negosiasi bisa dapat harga di bawah USD 1 miliar. Tapi kini peluang itu sekarang sudah tertutup dan hilang. Hal itu disebabkan pada batas terakhir Pertamina tidak memberikan harga indikasi kepada LukOil. Harganya juga relatif murah. Anehnya, kenapa Pertamina melepas kesempatan tersebut. Hal itulah yang segera harus dijelaskan Pertamina ke publik, sehingga tidak ada kesan membeli bajaj kok seharga 2 bus jumbo,” ujar Yusri.

Lantaran kalah cepat, ungkap konsultan beberapa perusahaan migas ini, kesempatan membeli 30 persen saham LukOil di West Qurna 2 pun ditelikung oleh Petronas, Mitsubishi, dan CNPC.

Situs resmi LukOil menjelaskan, pada 12 Desember 2009, konsorsium LukOil dan perusahaan asal Norwegia, StatOil, memenangkan tender pengembangan Blok West Qurna 2. Diperkirakan cadangan minyak di blok tersebut total mencapai 13 miliar barel, yang dihasilkan dari dua formasi utama, yakni Mishrif dan Yamama. Blok West Qurna Barat 2 adalah salah satu ladang minyak terbesar di dunia.

West Qurna 2 berlokasi di Irak selatan, 65 km di sebelah barat laut dari kota pelabuhan utama Basra. Lapangan migas tersebut ditemukan pada 1973, setelah sebelumnya pada 1970-an ahli geologi asal Soviet (Rusia) melakukan sejumlah kegiatan eksplorasi. Saat ini luasan kontrak area West Qurna 2 mencapai 300 kilometer persegi.

Pada 31 Januari 2010, pengembangan dan kontrak servis produksi (production service contract) untuk West Qurna (Tahap 2) diteken. Kontrak ini telah diratifikasi oleh Dewan Menteri Irak.

Adapun komposisi pemegang saham blok tersebut adalah, Iraqi South Oil Company (perusahaan BUMN Irak) dan konsorsium termasuk LukOil yang memiliki 75 persen saham, perusahaan asal Irak bernama National Iraqi North Oil Company (25 persen), dan StatOil memiliki 18,75 persen saham sebelum saham tersebut akhirnya pada Mei 2012 dialihkan ke LukOil.

Selanjutnya, pada Januari 2013, amandemen kontrak ditandatangani, antara lain, menargetkan produksi hingga 1,2 juta bph dengan masa produksi 19,5 tahun dan perpanjangan masa kontrak untuk periode 25 tahun. (Sofyan)

Jaminan Ketersediaan Pasokan Energi Syarat Mutlak Majukan Industrialisasi

indoPetroNews- Tidak dapat disangkal, industrialisasi, apa pun jenis industrinya, selayaknya disertai dengan jaminan pasokan energi.

Dalam roadmap industri perikanan harus ada jaminan ketersediaan pasokan energi, terutama listrik untuk industri pengolahan dan penjaminan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sentra perikanan. Karena sentra-sentra perikanan akan jauh dari Pulau Jawa dan rata-rata berada di Kawasan Timur yang infrastruktur energinya masih sangat minim.

“Sebab itu, kawasan-kawasan ini harus dibangun infrastruktur energi, jalan dan sebagainya, baru kemudian akan menarik minat investor.Kalau tidak ada, ya susah investornya masuk. Tidak feasible,” kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kawasan Timur Indonesia (KTI) H. Andi Rukman Karumpa, Senin (29/8/2016) di Jakarta.

Oleh karena itu, Kadin menyambut baik Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional. Inpres ini dianggap menjawab mandegnya industrilisasi perikanan akibat pengetatan regulasi.

“Inpres ini sangat bagus, integratif dan mengikat kementerian terkait. Arahnya juga jelas, kendala-kendala yang harus diselesaikan oleh menteri terkait juga jelas. Tinggal implementasinya bagaimana,” ujar Andi. Hanya saja, masalah yang perlu segera diselesaikan oleh Inpres ini adalah minimnya pasokan listrik ke industri perikanan nasional.

Hal ini disebabkan oleh tingginya konsumsi listrik nasional sedangkan cadangan sangat terbatas. Bahkan Proyek pembangkit listrik 35.000 MW terancam tidak memenuhi target hingga tahun 2019. Andi mengatakan setiap tahun akan terjadi peningkatan konsumsi listrik rata-rata sebesar 10,1%. Dengan demikian, diproyeksikan kebutuhan listrik nasional sebesar 171 terawatt hour (TWh) akan menjadi 1.075 TWh pada tahun 2031. Namun dengan kapasitas listrik terpasang saat ini dan masih rendahnya pasokan listrik baru, Indonesia masih akan mengalami krisis listrik. “Idealnya kan ada tambahan 7000 MW per tahun. Tapi ini cukup berat,” ucap Andi.

Sedangkan cadangan listrik Indonesia saat ini masih sangat rendah sehingga rentan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Andi mengatakan, cadangan listrik ideal sebuah negara adalah sebesar 30%. Sedangkan cadangan listrik nasional masih sangat rendah hanya sebesar 10%. “Krisis listrik ini akan berpengaruh besar pada industrilisasi perikanan. Semoga Inpres ini bisa menjawab masalah ini,” tandas Andi.

Sebagaimana diketahui, guna percepatan pembangunan industri perikanan nasional, Presiden Joko Widodo pada 22 Agustus 2016 telah menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional. Inpres tersebut ditujukan kepada 25 (dua puluh lima pejabat), yaitu Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Menko Kemaritiman, Menko Perekonomian, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Luar Negeri (Menlu), Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan (Menhub), Menteri Perindustrian (Menperin), Menteri Perdagangan (Mendag), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Riset, Teknologi  dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Koperasi dan Usaha Kelas Mengengah (Menkop dan UKM), Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri), Jaksa Agung, Kepala Badan Keamanan Kelautan RI (Bakamla), Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kepala Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), para gubernur, dan para bupati/walikota.

Kepada para pejabat di atas, Presiden menginstruksikan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara terkoordinasi dan terintegrasi sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing Kementerian/Lembaga untuk melakukan percepatan pembangunan industri, termasuk sektor perikanan nasional. (Sofyan)

Ditjen EBTKE Selenggarakan Lomba Hemat Energi antar Sekolah di Jabodetabek

indoPetroNews- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) menyelenggarakan acara Peluncuran Lomba Hemat Energi di rumah dan sekolah untuk daerah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Event ini dilaksanakan pada Senin (29/8/2016) di Jakarta Selatan.

Peluncuran lomba hemat energi ini juga turut dihadiri oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mariyam, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Dinas ESDM Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pendidikan Kota dan peserta lomba yang terdiri dari siswa, guru dan undangan lainnya.

"Perilaku hemat merupakan kewajiban bersama seluruh masyarakat. Saat ini kita masih tergolong boros dalam menggunakan energi. Konsumsi energi kita masih cukup tinggi. Karenanya perubahan perilaku menjadi penting," kata Direktur Konservasi Energi Ditjen EBTKE, Farida Zed, dalam sambutan saat meresmikan lomba hemat energi.

Menurut Farida, energi adalah kebutuhan dasar manusia selain pangan. Semakin sejahtera masyarakat suatu negara maka semakin tinggi pula kebutuhan energi. Sumber energi saat ini masih bertumpu pada minyak, gas bumi dan batu bara. "Sebesar 95% energi kita masih berupa energi fosil," terang Farida.

Sayangnya, lanjut Farida, energi fosil ini tidak dapat diperbaharui. Sekali diambil dan dipakai, energi fosil akan habis. "Tidak semua negara dikarunia potensi energi fosil. Indonesia memang tidak kaya sumber energi tetapi ada cadangan dan potensinya," tandasnya.

Cadangan energi fosil di Indonesia semakin hari semakin menipis. "Cadangan energi konvensional kita telah menurun 50%," ucap Farida. Oleh karena, Farida berharap agar masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan energi.

Dalam upaya menyosialisasikan program hemat energi inilah, lanjut Farida, pihaknya menyelenggarakan lomba hemat energi di sekolah. "Generasi muda menjadi ujung tombak dalam menyosialisasikan gerakan hemat energi. Hemat energi menjadi satu keharusan dan tanggung jawab moral," tegasnya. (Sofyan)
 

Majalah IndoPetro

Loading...

Web Desain App Builder


___________________________________

IndoPetroNews
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login