IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Kilang Mini, Menjadi Solusi Tingginya Impor BBM

Kilang Mini, Menjadi Solusi Tingginya Impor BBM

Written By Indopetro portal on Thursday, 25 September 2014 | 06:37

indoPetroNews.com - Rencana pembangunan dua kilang minyak berkapasitas 300 ribu barel per hari sulit diharapkan lagi realisasinya. Soalnya, saat ini rencana itu seolah tenggelam dan semakin tak menentu. Kendati sempat ada dua perusahaan migas asing yang berniat membangun kilang di Indonesia, yakni Kuwait Petroleum Company dan Saudy Aramco Asia Company Ltd.

Dua perusahaan asing tersebut sudah menjajaki pembangunan kilang minyak hingga rencana akan mengandeng PT Pertamina (Persero). Hanya saja, tak menemukan kemajuan yang berarti dan sepertinya batal terlaksana.

Menanggapi kondisi tersebut, Rudy Tavinos, Pengusaha Nasional Kilang Mini kepada indoPetroNews.com di Jakarta (24/9) mengatakan, sebaiknya bangsa Indonesia bisa lebih kreatif dalam menghadapi persoalan bangsa, termasuk pada sektor energi atau minyak.

Menurut pria yang juga CEO PT Tri Wahana Universal ini, untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) sifatnya mutlak harus memiliki kilang pengolahan minyak mentah. "Kalau kilang besar berkapasitas 300 ribu bph belum ada, saya usulkan untuk membanyak membangun kilang minyak mini," ungkap Rudy penuh semangat.

Ia menambahkan, saat ini kilang mini yang dirinya kembangkan itu mulai kapasitas 6000 bph, 12 ribu bph dan lainnya. Uniknya, kilang yang dikembangkan Rudy itu mudah bongkar pasang. Sehingga, saat satu sumur minyak mengalami kering bisa dipindahkan ke sumur lain yang produktif."Perbanyak saja kilang mini, misalkan hadir di setiap mulut sumur blok migas agar lebih efisien. Daripada sekarang apa? Kilang besar nggak kebangun-bangun,” ujar Rudy.

Terlebih, ujar Rudy, saat ini lifting minyak itu terus menurun. "Iya katakan saat ini lifting minyak mentah 900 ribu bph. Setelah bagi hasil dan lainnya yang tersisa sebutkan 700 bph. Kemudian diambil kilang yang ada. Sehingga, sisa minyak mentah kita berapa? sebut 200 bph. Saya yakin kilang mini itu akan mampu mengeloh minyak mentah yang ada sesuai kriteria minyaknya itu sendiri," papar Rudy.

Ia menegaskan, kilang mini akan mudah diseting sesuai dengan kriteria minyak. "Istilahnya, mesin itu disesuaikan dengan minyak yang akan dimasak, agar menghasilkan produksi yang optimal dan maksimal," terangnya.

Rudy juga menjamin, saat ini anak bangsa mampu membangun kilang mini itu. "Tinggal komitmen semua pihak, agar minyak mentah itu alokasinya tidak ekspor mulu," terangnya. Apabila kilang mini banyak terbangun, ungkap Rudy, bayangkan berapa besar daya dongkrak multiplier ekonominya karena tercipta banyak lapangan kerja baru, dan lainnya hingga terciptanya ketahanan energi nasional.

Ia mengakui, perusahaannya memiliki kilang mini berkapasitas 6.000 barel per hari di Bojonegoro, Jawa Timur, dan juga membangun kilang mini kedua di Cilacap, Jawa Tengah. Menurutnya, investasi untuk membangun kilang mini berkapasitas 18.000 barel bph hanya mencapai US$ 150 juta. Investasi itu jauh lebih murah dibandingkan membangun kilang besar berkapasitas 300.000 bph yang menghabiskan investasi lebih dari US$ 10 miliar.

"Dan kondisi seperti saat ini, saya merasa kalau ini ada desain besar dari asing yang mengkondisikan Indonesia seperti ini, agar senantiasa ekspor minyak mentah dan kita membelinya kembali bahan bakar minyak jadinya dengan harga lebih mahal," paparnya. Ia menambahkan, gagasan itu sebenarnya sudah sering dikomunikasikan kepada para pihak pemangku kewenangan, namun belum mendapat respons yang terlalu menggembirakan.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian, M.S. Hidayat mengakui, membangun kilang minyak sebenarnya tidak mudah. Sebab, untuk membangun kilang berkapasitas 300 ribu bph dibutuhkan dana investasi mencapai US$ 9 miliar. Selain itu, investor juga harus mampu mensuplai minyak mentah sebanyak selama 30 tahun. "Suatu kewajaran tatkala investor kilang meminta kelonggaran perpajakan lebih banyak, dibandingkan dengan proyek lain," paparnya.

Di tempat berbeda, Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengakui, rencana pembangunan kilang minyak dengan mekanisme Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) masih tetap berjalan. Hanya saja pembahasannya masih berkutat dengan persoalan market consultation terkait spesifikasi pembangunan kilang.

Menurtunya, sejumlah Term Of Reference (TOR) yang berkaitan dengan spesifikasi kilang masih digodok. "Iya ada keterlambatan dalam rencana market consultation. Lagi dibikin TOR-nya. Jadi memang ada perubahan dari sisi TOR," ungkap Susilo kepada wartawan, (19/9).

Ia mengatakan, dari upaya perubahan TOR belum ada pembahasan ulang lantaran menunggu waktu yang pas untuk bertemu dengan Kementerian terkait. "Dari pertemuan ini diharapkan, upaya TOR dari spesifikasi pembangunan kilang bisa diselesaikan secepatnya. Masih nunggu pertemuan kedua. Share visit yang belum," katanya.

Dalam pembahasan ini, lanjut Susilo, pihaknya masih menunggu kehadiran Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro. Pejabat dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tersebut sedang bertolak ke luar negeri.(ris)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login