IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Mafia Migas Bercokol di Hulu dan Hilir

Mafia Migas Bercokol di Hulu dan Hilir

Written By Indopetro portal on Thursday, 25 September 2014 | 07:05

indoPetroNews.com - Pertamina Energy Trading Limited (Petral) dituding sarang para mafia migas yang banyak merugikan uang negara.Tak mengherankan, saat ini banyak kalangan menuntut pemerintah agar menutup anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut.

Terkait tuntutan pemburan Petral, Sekretaris SKK Migas, Gde Pradnyana menyatakan, pembubaran Petral tidak akan menyelesaikan persoalan mafia migas di Tanah Air. Soalnya, keberadaan mafia migas berada dari hulu hingga hilir.

"Saya kira tidak cukup membubarkan Petral. Petral dibubarkan tidak berarti persoalan selesai," ungkap Gde pada acara peluncuran buku "Nasionalisme Migas" karya Pradnyana dan takshow "Gilas Mafia Migas dan Tambang" di FX Senayan, Jakarta, (24/9).

Menurutnya, hal yang kerap membuat rugi Indonesia adalah sistem yang diterapkan dalam ekspor dan impor minyak Indonesia sendiri. Soalnya, kegiatan itu masih menggunakan harga spot market.
"Selisih antara konsumsi dengan produksi minyak di Indonesia juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi tata kelolanya oleh pemerintah," terangnya. 

Di tempat yang sama, Pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy mengaku mendukung rencana pembubaran Petral. Pertral merupakan anak usaha PT Pertamina (persero) yang bermarkas di Singapura.

Menurutnya, selama ini Indonesia tidak bisa secara langsung mengimpor minyak dari negara produsen minyak karena harus melalui agen yang ditunjuk Petral.

"Tidak boleh beli ke spot market. Seharusnya pemerintah melakukan pendekatan G to G, misalnya melalui pendekatan nilai, nanti nilainya bisa di-hedging," terang Noorsy.

Ia menambahkan, ada pihak-pihak tertentu yang menikmati pengadaan impor melalui Petral. Itu terlihat dari tidak adanya transparansi terkait biaya pokok produksi BBM. Ditambah lagi biaya distribusi impor BBM dinilai lebih mahal daripada biaya impor langsung dari negara produsen minyak.

"Saat ini, siapa yang tahu biaya pokok produksi BBM? Enggak ada yang tahu! Saya berhipotesa kalau kita turunkan biaya distribusi di atas suku bunga AS 0,25 persen maka ada masalah," terangnya.

Noorsy juga mengusulkan pengganti Petral harus Badan Usaha Miliki Negara (BUMN). Kemudian, dalamnya harus diisi oleh orang-orang yang berintegritas.(ris)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login