IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Produksi Migas dan Pelabuhan Cilamaya: Mungkinkah Ada Peluang Sinergi?

Produksi Migas dan Pelabuhan Cilamaya: Mungkinkah Ada Peluang Sinergi?

Written By Indopetro portal on Wednesday, 17 September 2014 | 12:02

indoPetroNews.com - RENCANA pengembangan Pelabuhan Cilamaya terus menuai kontroversi. Pasalnya agenda pembangunan pelabuhan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat itu mengancam produksi sumur minyak dan gas (migas) yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengaku, Pelabuhan Cilamaya di Karawang, Jawa Barat akan mulai dibangun akhir tahun depan. "Pelabuhan Cilamaya kemungkinan jika tidak ada halangan akan dimulai pembangunan akhir tahun 2015," ujar Hidayat kepada wartawan di Jakarta, Kamis(24/7).

Ia menuturkan, selama ini investor mengeluh pengangkutan logistik di Pelabuhan Tanjung Priok yang jauh dari kawasan Cikarang. Dengan adanya Pelabuhan Cilamaya, sekitar 2 ribu hektar lahan di Cikarang siap digunakan untuk pengembangan industri mesin, elektronik, dan teknologi informasi.

"Maka pemerintah sepakat dengan pemerintah Jepang untuk menangani proyek strategis ini tanpa APBN," kata dia. Selain Jepang, sebenarnya investor Korea Selatan juga berminat membangun pelabuhan penyangga Tanjung Priok tersebut.

Menurutnya, dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) serta proyek kerja sama pemerintah dan swasta (KPS) sudah selesai sejak tahun lalu.

Padahal, Communication & Relations Manager PHE ONWJ, Donna Priadi mengakui, lapangan ONWJ merupakan produsen keempat terbesar minyak di Indonesia. "Demikian pula, produksi gasnya mempunyai arti penting bagi industri nasional. Produksi PHE ONWJ terus meningkat sejak tahun 2009 lalu, sehingga SKK Migas menarget 40.600 barel per hari dari angka semula yang direvisi 39.400 barel per hari," papar Donna. 

Ia menambahkan, target tersebut bisa terlampaui. Bahkan produksi blok ONWJ memecahkan rekor 46.400 barel per hari. Selain menyuplai BBM, Blok ONWJ juga memasok gas pembangkit listrik PLN di Jakarta yang menerangi wilayah DKI serta penyuplai gas bagi PT Pupuk Kujang serta BBG. ONWJ juga merupakan penghasil APBN sekitar Rp 20 triliun per tahun.

Produksi migas Blok ONWJ juga menopang ketahanan energi nasional. "Kondisi tersebut, saat ini terancam dengan adanya rencana pelabuhan Cilamaya, karena pembangunan pelabuhan akan masuk wilayah operasi ONWJ," terangnya.

Menurutnya, dengan rencana pengembangan pelabuhan akan membuat alur pelayarannya berada di wilayah operasi produksi migas. “Seluruh fasilitas kami di tengah laut, mulai dari anjungan, flow station, sampai pipa-pipa di dasar laut," paparnya.

Donna mengatakan, seandainya rencana Pelabuhan Cilamaya tetap dilanjutkan akan terdapat sejumlah risiko. "Risiko yang paling utama adalah soal keselamatan. Migas yang diproduksi adalah hidrokarbon yang sangat mudah terbakar," paparnya.

Kendati dilema begitu, ada hal menarik yang diungkapkan Ketua Ikatan Umum Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Rovicky Dwi Putrohari. Ia menyatakan pemerintah perlu melanjutkan eksplorasi minyak dan gas (migas) yang ada di Cilamaya. "Dan setelah habis kandungan migasnya, barulah lokasi tersebut boleh dibangun pelabuhan. Untuk menghabiskan cadangan migas tersebut, tidak perlu waktu lama. Setelah cadangan migasnya habis maka dapat dibangun pelabuhan yang akan dimanfaatkan selamanya,” papar Povicky kepada wartawan, (16/9).

Menurutnya, apabila pemerintah memaksa untuk membangun Pelabuhan Cilamaya sebenarnya proses eksplorasi tetap dapat dilakukan, hanya saja akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi atau high cost untuk meningkatkan faktor keamanan dan kenyamanan. “Tentunya ini akan mengurangi pendapatan pemerintah dari hasil migas," paparnya. 

Dengan begitu, Ia menilai, hal yang paling tepat dilakukan pemerintah adalah melanjutkan eksplorasi migas di lepas pantai Karawang tanpa terganggu, karena hal ini tidak akan memakan waktu lama. 

"Setelah selesai eksplorasi, baru dilakukan reklamasi, sehingga pembangunan pelabuhan dapat segera dilakukan. Saat ini pemerintah harus tegas dan segera mengambil langkah yang tepat,” pintanya.

Menurutnya, rencana menggeser lokasi pelabuhan sekitar 3 km dari lokasi semula tidak akan banyak artinya. Pasalnya, kandungan migas di utara Jawa Barat itu ada di area yang luas, sehingga jaringan pipa penyaluran migas juga merata di utara Karawang. 

"Apalagi di area tersebut, terdapat sumur-sumur migas yang masih berproduksi, anjungan-anjungan lepas pantai yang aktif beroperasi, dan potensi migas untuk masa depan," terangnya.

Di tempat berbeda, Pengamat ekonomi Ichasanudin Noorsy kepada wartawan mengatakan, awal masalah dalam proyek pembangunan pelabuhan Cilamaya terjadi karena kajian awal Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). Mulai posisi pelabuhan yang kurang tepat karena kedalaman laut yang kurang mendukung serta mengenai masalah produksi migas. "Benturan proyek pembangunan pelabuhan Cilamaya dengan produksi migas mencerminkan buruknya perencanaan pembangunan. Konsep tidak terintegerasi, bahkan rencana pembangunan satu sektor mengancam sektor lainnya," terangnya.

Menurutnya, apabila dipandang dari kepentingan kemudahan akses bisnis, maka usulan pelabuhan Cilamaya ini sangat bagus. Pembangunan pelabuhan menghubungkan antara moda transportasi darat dengan laut. Akan tetapi, lanjutnya, hal itu berbenturan dengan kepentingan yang lebih urgent. 

"Solusinya, pelabuhan Cilamaya dipindah ke lokasi yang tidak menganggu sektor migas. Alternatifnya, dipindahkan ke Jawa Tengah, lantaran Pemerintah daerahnya siap mendukung pembangunan baru," terangnya.(*/ris)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login