IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » SKK Migas Menjerit: Target Naik, Cost Recovery Dipangkas

SKK Migas Menjerit: Target Naik, Cost Recovery Dipangkas

Written By Indopetro portal on Thursday, 25 September 2014 | 14:19

indoPetroNews.com - Badan Anggaran (Banggar) DPR telah sepakat menetapkan target lifing minyak RAPBN 2015 sebesar 900 ribu barel per hari (bph). Target itu naik 55 ribu bph dari lifting minyak 2015 usulan pemerintah yang sebesar 845 ribu bph. Kendati target lifting naik, Banggar DPR menyetujui biaya operasi minyak dan gas bumi yang ditagihkan kepada negara (cost recovery) sebesar 16,5 miliar dollar AS dari yang diajukan pemerintah sebesar 17,8 miliar dollar AS.

Kondisi tersebut rupanya menuai keluhan. Salah satunya dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Sekretaris SKK Migas, Gde Pradnyana mengaku pesimis dengan target lifting minyak yang ditetapkan 900 ribu bhp. Soalnya, DPR memangkas usulan biaya cost recovery tahun depan.

"Secara teknis target tersebut sebenarnya sulit untuk dicapai. SKK Migas pun sudah mengusulkan target lifting minyak yang realistik sebesar 845 ribu bph," papar Gde kepada wartawan di Jakarta, (24/9).

Kendati begitu, lanjutnya, untuk meraih angka yang ditargetkan DPR bisa saja terjadi. Misalnya dengan menggenjot produksi dan memajukan proyek 2016 ke 2015.

"Dan angka itu bisa dicapai kalau Proyek Blok Cepu produksi puncak sebesar 165 ribu bph bisa dipercepat. Itu sedang kami upayakan. Sebab, mencapai puncak produksi itu tidak mudah," akunya.

Menurutnya, upaya yang akan dilakukan dipastikan bakal mengalami kendala. Soalnya, keputusan DPR untuk menetapkan cost recovery pada 2015 sebesar USD 16,5 miliar. "Padahal, pemerintah sudah mengusulkan besaran biaya tersebut USD 17,8 miliar dengan pertimbangan investasi percepatan proyek," ungkap Gde. 
 
Menurutnya, DPR memang penyusun anggaran. Sehingga, pihaknya akan melaksanakan ketetapan itu. "Tapi ini, logikanya terbalik. Kalau investasi dikurangi, tidak mungkin produksi naik. Seharusnya, lifting naik kalau cost recovery ikut naik," paparnya.

Produksi minyak Indonesia saat ini memang sedang dalam tahap penurunan yang cukup tinggi. Selain Blok Cepu dan Pertamina, kebanyakan proyek onstream pada 2015 masih cukup kecil. Hanya cukup untuk menekan decline rate yang mencapai 10-20 persen per tahun. 

Ia mengaku perlu adanya dorongan investasi untuk menemukan cadangan baru. Menurutnya, Indonesia masih punya potensi sekitar 45-50 juta barel dalam tahapan sumber daya. Potensi itu membutuhkan perusahaan yang berani untuk melakukan eksplorasi dengan resiko tinggi.

Menurutnya, kondisi produksi minyak tidak bisa mengejar konsumsi tak hanya di Indonesia. "Tiongkok saja sekarang menjadi net importer dengan 95 persen BBM haru diimpor," terangnya. Ia berharap, Indonesia bisa mendorong ketahanan energi dengan menarik investor masuk ke Indonesia. Selain itu, Pertamina juga didorong untuk menambah cadangan minyak di luar negeri.(ris)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login