IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Subsisi Energi 2015 Sebesar 344,7 Triliun, Struktur APBN Dinilai Buruk

Subsisi Energi 2015 Sebesar 344,7 Triliun, Struktur APBN Dinilai Buruk

Written By Indopetro portal on Tuesday, 23 September 2014 | 10:14

indoPetroNews.com - Pagu anggaran subsidi energi 2015 ditekan untuk bisa lebih rendah dari 2014. Panitia Kerja Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Panja Banggar DPR) menetapkan subsidi energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2015 sebesar Rp 344,7 triliun. Angka ini lebih rendah dari jatah APBN Perubahan 2014 yang mencapai Rp 453,3 triliun. 

Wakil Ketua Banggar DPR, Tamsil Linrung memaparkan, Banggar DPR dan Pemerintah menyepakati subsidi energi dalam RAPBN 2015 sebesar Rp 344 triliun. "Anggaran tersebut terdiri atas anggaran Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Elpiji sebesar Rp 276 triliun dan anggaran untuk subsidi listrik sebesar Rp 68 triliun," papar Tamsil dalam acara Pembahasan RAPBN 2015 di Gedung DPR, Jakarta, (22/9). 
 
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Andin Hadiyanto memaparkan, angka Rp 344,7 triliun terdiri dari subsidi bahan bakar minyak jenis tertentu Rp 194,6 triliun, subsidi elpiji 3 kilogram Rp 55,1 triliun, dan subsidi listrik Rp 68,69 triliun. Di samping itu juga ada pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bahan bakar jenis tertentu Rp 26,3 triliun.

Menurutnya, untuk kuota bahan bakar minyak bersubsidi dijatah 46 juta kiloliter dengan komposisi Premium 29,48 juta kiloliter, minyak tanah 0,85 juta kiloliter, dan solar 15,76 juta kiloliter. "Untuk BBM belum ada keputusan, apakah volume bahan bakar bersubsidi ini akan dikunci atau tidak. Itu diputuskan nanti, tapi kami ingin agar volumenya tidak dikunci," ungkap Andin. 

Subsidi energi tersebut disepakati dengan asumsi kurs Rp 11.900 per dolar Amerika dan harga patokan minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) US$ 105 per barel. 

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulistyo menilai sebaiknya subsidi energi dicabut. "Semua subsidi-subsidi itu dihilangkan deh. Mendingan kita kasih bantuan langsung ke rakyat," ujar Suryo di sela-sela Rakernas Kadin, (11/9) lalu.

Ia berpandangan, pagu anggaran subsidi akan lebih baik dimanfaatkan untuk program-program yang berdampak langsung pada masyarakat. Sebab, jika subsidi masih diberikan secara terbuka dan bebas maka cenderung salah sasaran.

"Kalau subsidi itu yang tidak terlalu terukur, misalnya nanti dimana orang-orang bisa beli 3 kg padahal mereka orang-orang mampu. Kan banyak yang pakai gas subsidi orang-orang mampu, restoran, dan sebagainya. Biar saja mereka beli dengan harga lebih pantas. Kalau mau dikasihkan kembali subsidi itu, berikanlah kepada sasaran yang lebih tepat dan bisa terukur manfaatnya," harapnya.

Di sisi lain, Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik, Tony Prasetiantono menyatakan, subsidi energi merupakan sentimen di dalam negeri yang negatif bagi nilai tukar rupiah. "Subsidi ini sudah membahayakan. Subsidi energi mengerikan. Dari tahun 2009 hingga 2014 subsidi energi meningkat. Tahun ini subsidi energi Rp 349,5 triliun," kata Tony.

Menurutnya, Subsidi energi yang terlalu besar membuat struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia buruk. Oleh karena itu, pola seperti ini harus diubah. Terlebih, lanjutnya, untuk subsidi BBM itu lebih banyak dirasakan oleh masyarakat kelas menengah dan bukan masyarakat bawah yang seharusnya menikmati subsidi.(ris)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login