IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Presiden Jokowi Bersikukuh Naikkan BBM, Walau Tidak Populer

Presiden Jokowi Bersikukuh Naikkan BBM, Walau Tidak Populer

Written By Indopetro portal on Tuesday, 21 October 2014 | 13:37

indoPetroNews.com - Sesaat setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla dilantik dan selesai menyusun formasi kabinet, publik diminta menerima kebijakan  kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak Bersubsidi) yang akan dilakukan pemerintah segera.

Presiden Joko Widodo dalam sebuah wawancara eksklusuf dengan Radio Elshinta di Istana Negara pagi tadi, Selasa (21/10) mengatakan, "kita akan naikkan BBM. Karena beban subsidi sudah terlalu besar. Subsidi 70 persen terlalu besar," katanya. 

Menurut Jokowi,subsidi perlu dialihkan pada usaha produktif di kampung, usaha mikro di desa. Juga jelas Dia lagi, dialihkan  untuk pupuk,  dan irigasi. "Bila subsidi dialirkan untuk solar nelayan atau pembelian mesin untuk kapal, itu akan  lebih produktif lagi, " katanya. "Meskipun kebijakan yang dia ambil ini mengandung risiko untuk tidak populer," tegasnya.

Jokowi yang baru hari pertama ini tinggal di Istana melanjutkan, "Kita itu memimpin sebuah negara. Yang paling penting masyarakat dijelaskan, dibuka secara jelas kepada masyarakat biar semua tahu bahwa semua yang kita lakukan itu dipakai untuk kita sendiri," paparnya.

Seperti diketahui, problem besar Indonesia saat ini terkait energi, khusunya minyak adalah konsumsi yang tinggi sementara tingkat produksi yang terus turun dan sulit mencapai target. Sektor transportasi telah menjadi wilayah penyerapan energi terbesar. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010 mencatat, dengan asumsi penduduk Indonesia sekitar 234 Jiwa, penyerapan migas untuk sektor transportasi masih terbilang besar, sekitar 47%, rumah tangga 22%, industri 22%, dan pembangkit listrik 9%.

Pada sisi produksi, dengan decline rate sebesar 8-12%, lifting minyak bumi tidak pernah mencapai target. Dalam 4 tahun terakhir, lifting minyak Indonesia selalu mengalami penurunan. Tahun 2011, lifting minyak Indonesia hanya mampu menembus angka 899.000 bph, 2012 sebesar 861.000 bph, dan 2013 sebesar 826.000 bph. Sementara 2014 ini, lifting minyak dipatok pesimis, sekitar 813.000 bph. Hasl lifting minyak hingga Juli 2014 hanya berada di kisaran 799.000 bph. Produksi minyak pun disebut mencapai titik nadhir.

Kesenjangan antara produksi dan konsumsi yang semakin memuncak di awal pemerintahan baru Jokowi-JK, memang memunculkan spekulasi yang tinggi. Kepada sejumlah media Jokowi pernah menyatakan akan  menaikan harga BBM bersubsidi dari Rp. 6.500 ke level Rp. 9000-9.500,-, sehingga ada kenaikan sekitar Rp. 3000,-. Tentu bukan langkah mudah. Mengingat tiap kenaikan BBM bersubsidi pasti akan memicu inflasi yang tinggi dan gejolak di masyarakat lantaran selama ini sudah “dimanjakan” dengan harga BBM yang murah.

Sebelumnya ada usulan dari pengamat yang meminta margin kenaikan BBM sekitar Rp. 1.500-1.800,- sehingga mampu menghemat anggaran hingga 55 triliun rupiah. Bila kenaikan BBM bersubsidi sampai menembus angka Rp.3000 per liter, maka penghematan anggaran dapat mencapai angka 110 triliun rupiah. Rencana kenaikan yang, kalau jadi, dinilai fantastis ini karena pemerintah baru dinilai  “tak kuasa” menanggung beban subsidi yang besar. Tahun 2014, anggaran subsidi BBM mencapai angka Rp. 246,5 triliun, sementara pada 2015, anggaran subsidi meningkat hingga mencapai angka Rp. 276,01 triliun. Kus
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login