IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Tunjuk Sudirman Said sebagai Menteri ESDM, Jokowi Ingin Basmi Mafia Migas?

Tunjuk Sudirman Said sebagai Menteri ESDM, Jokowi Ingin Basmi Mafia Migas?

Written By Indopetro portal on Monday, 27 October 2014 | 19:15

indoPetroNews.com - Nama Sudirman Said tiba-tiba saja mencuat dan langsung bertengger sebagai calon kuat di detik-detik akhir hingga akhirnya dipilih Jokowi untuk mengisi pos Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Minggu (26/10) lalu. Padahal sebelumnya banyak beredar sejumlah nama dengan berbagai macam spekulasi. Harus diakui, kementerian ini memang menjadi salah satu sektor yang banyak menyedot perhatian publik dan sejumlah kalangan. Tidak hanya terkait stigma penguasaan asing atas sumberdaya alam Indonesia, tetapi juga perannya dalam menjamin keberlangsungan kontrak sejumlah perusahaan kontraktor asing dalam mengelola kekayaan minyak bumi dan gas Indonesia.

Kementerian ESDM ini, mengapa menjadi penting, biasanya juga punya cap sebagai “jatah” atau “logistik” partai, terutama yang berkuasa dan memimpin pemerintahan. Sehingga hampir dapat dipastikan, siapa yang mengisi kementerian tersebut, bila tidak langsung menjadi orang partai, minimal punya kedekatan dengan orang-orang partai atau yang menguasai pemerintahan. Karenanya, di samping menjadi andalan dalam mengisi pundi-pundi APBN (Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara), kementerian ESDM, bersama-sama kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara), dapat dipastikan akan diisi oleh anggota partai, minimal yang menjadi koleganya.

Tentu saja “kebiasaan” dan “stigma” ini tidak mudah dihilangkan. Yang terpenting menunjukkan ke publik apakah tokoh atau figur yang mengisi benar-benar clear and clean, bebas dari stigma partai dan bebas pula dari sangkaan korupsi atau kemungkinan akan korupsi. Sehingga munculnya figur seorang Sudirman, layak dicermati dan dikritisi.

Sudirman sebelumnya dikenal sebagai pegiat anti korupsi sejak dekade 90-an. Ia mengawali langkah gerakan anti rasuah dengan mendirikan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). Dua produk utama MTI yang dikenal sampai saat ini adalah menguji 70 keppres bermasalah di era Soeharto yang membuat penguasa orde baru tersebut dipanggil oleh Jaksa Agung. MTI juga dinilai menjadi cikal bakal lembaga anti korupsi pertama di Indonesia yakni KPK. Embrio KPK tersebut adalah berdirinya Badan Independen Anti Korupsi (BIAK) melalui TAP MPR yang menegaskan untuk dibuatnya lembaga anti korupsi yang kemudian menjadi KPK. Sudirman Said memang kemudian tercatat beberapa kali membantu KPK sebagai tim seleksi independen Ketua KPK pada saat Taufiequrachman Ruki memimpin lembaga anti rasuah ini.

Sudirman sendiri memang dikenal dengan transparansi dan pengawasan. Saat menjabat menjadi Deputi Kepala Badan Pelaksana Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias ia melakukan terobosan dalam hal transparansi dan pengawasan dana bantuan. Ia membentuk Satuan Anti Korupsi (SAK) yang bertugas mendidik semua pemangku kepentingan di Aceh dan Nias pasca Tsunami.Sudirman dinilai berhasil lantaran bersama Tim BRR, Dia pernah membatalkan tender proyek bermasalah senilai 157 milliar.

Di sektor privat ia dikenal lewat kiprahnya sebagai Wakil Direktur Utama di Petrosea, anak perusahaan Indika Energi Group. Sepak terjangnya di sektor privat dan publik membuat Menteri BUMN, Dahlan Iskan menunjukkanya sebagai Direktur Utama PT Pindad (Persero), sebuah perusahaan negara bidang persenjataan.

Namun pengalaman yang mengundang kontroversi terjadi saat Ia dipercaya menjadi Deputi Direktur Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina. Ia dipilih sebagai Deputi Direktur ISC karena integritasnya.  “Saya butuh orang yang punya integritas,” ujar Ari H. Soemarno, mantan Direktur Utama Pertamina, yang juga atasannya. Lewat pesan singkatnya ke sejumlah wartawan, Senin (27/10), Ari mengatakan, “Dia itu orangnya jujur, lurus dan profesional. Dia itu tokoh anti korupsi dan dulu di Pertamina adalah Corporate Secretary, kemudian Kepala Integrated Supply Chain yang atur impor ekspor minyak/BBM, waktu saya Dirut. Saya diberhentikan , dia langsung mundur dari Pertamina, “ katanya. “Kalau mau berantas mafia migas, Sudirman Said lah orang nya. Maka para mafia jadi nervous dan lempar isu macam macam, “  kata Ari.

Namun beda pandangan dengan Ari, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI), Hendrajit  kepada indoPetroNews, Minggu (26/10) mengatakan, Dia menangkap siasat lain. "Munculnya nama Sudirman Said sebagai Menteri ESDM semakin memperjelas sindikasi-skema mafia baru menguasai sektor energi di Indonesia, " kata Dia. Nama Sudirman, kata Hendrajit, muncul di politik publik awal 2003, ketika "menjual" nama Nurcholis Madjid untuk maju Capres. Belakangan, Sudirman "mengkhianati" Cak Nur dan bergabung dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"SBY dan Paramadina hanya dijadikan tumpangan politik. Sudirman di kalangan bisnis migas dikenal sebagai "mafia minyak" dengan strateginya seolah memotong impor minyak, tapi malah menerapkan skema Pola Integrated Supply Chain (ISC). Seolah-olah importir langsung tapi menjadi broker minyak. Sewaktu Sudirman menjabat corporate secretary Pertamina era Ari Soemarno, di Pertamina Sudirman mendapat sokongan kuat Arifin Panigoro," jelas Hendrajit.

“Ketika Sudirman Said menjabat Dirut PINDAD, Dia juga dikenal dekat dengan jaringan Washington,” tegas Hendrajit. “Bila Sudirman Said dijadikan Menteri ESDM, bakal memperburuk wajah Pemerintahan Jokowi," tegas Hendrajit.

Hendrajit juga menyesalkan rekomendasi Sudirman yang dilakukan Ari Soemarno, kakak Kandung Rini Soemarno. Hal itu membuat terlihat kuatnya intervensi keluarga Soemarno dan mengalahkan suara Megawati Soekarnoputri.

Hendrajit mengungkapkan, kombinasi Rini Soemarno yang memegang jabatan Menteri BUMN dan menguasai Hilir Migas, sementara Sudirman Said yang menjadi kaki tangan Ari Soemarno di hulu migas dengan menguasai ESDM, menjadi pengaman bisnis migas Arifin di Medco. Sehingga, Hendrajit menduga, munculnya kemungkinan Ari Soemarno menguasai Pertamina, bahkan menjadi Dirut kembali, semakin melengkapi network Ari Soemarno dan Arifin Panigoro menguasai Jokowi, mengambil alih dari Megawati-PDIP. Sehingga Hendrajit mengucapkan, “Selamat datang mafia migas baru, era Kabinet Trisakti”.

Lepas dari apa yang sudah diungkapkan, kepada sejumlah media pasca pelantikan kemarin (26/10) Sudirman menyampaikan rasa terima kasihnya. “Saya mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan untuk mengemban tugas ini. Kepercayaan publik pada Kementerian ESDM adalah sebuah hal penting yang harus terus dibangun. Kepercayaan tersebut hanya akan hadir lewat pengelolaan yang profesional dan transparan,” janjinya.

Tentu saja ini tugas yang tidak mudah, baik bagi Pemerintahan Jokowi-JK maupun Sudirman Said yang bakal menjadi nahkoda baru di Kementerian ESDM. Sejumlah persoalan terkait penguasaan sumberdaya alam yang dinilai kurang mencerminkan penerapan Pasal 33 UUD mungkin harus menjadi catatan bahkan pemicu untuk menghadirkan wajah pengelolalaan sektor ESDM sesuai harapan publik.

Sudirman Said dan juga sejumlah pihak yang menaruh harapan kepadanya, tentu tidak bisa mengelak bahwa dua sektor terpenting di republik ini, ESDM dan BUMN memiliki koneksitas dengan keberadaan partai pemerintah, PDI Perjuangan. Persoalannya, mampukah Sudirman menghilangkan stigma itu dan akhirnya menjadi pihak yang paling keras menentang Mafia Migas dan SDA (Sumber Daya Alam) secara umum? Kita tunggu saja. Kusairi





Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login