IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Ada Indikasi Petral Melanggar. Kalau Ada Mafia KPK Diminta Menangkap

Ada Indikasi Petral Melanggar. Kalau Ada Mafia KPK Diminta Menangkap

Written By Indopetro portal on Thursday, 4 December 2014 | 06:01

indoPetroNews.com - Tim Anti Mafia Migas berasumsi, benang kusut yang terjadi dengan tata kelola migas dimanfaatkan oleh para pemburu rente.

Salah satu anggota tim reformasi mafia migas, Fahmi Radi mengatakan pemburu rente tersebut bisa perorangan, kelompok atau gerombolan yang mempunyai kedekatan dengan pengambil keputusan.

"Pengambil keputusan itu bisa orang Kementerian, bisa BUMN, dan bisa juga DPR," ujarnya disela melakukan pertemuan dengan Pertamina di gedung Kementerian ESDM, Rabu (3/12).

Anggota tim yang berasal dari Universitas Gajah Mada (UGM) ini juga menilai sangat sulit untuk menunjuk siapa sebenarnya dalang mafia itu. Ia dan timnya masih akan melakukan telusuran dan evaluasi terhadap seluruh perusahaan Migas yang masih Existing.

"Tidak hanya perusahaan, kita juga akan mencari data dari Pertamina, ESDM dan juga Petral," ujarnya.

Tim mafia Migas ini akan memanggil anak perusahaan Pertamina Trading Energy Ltd (Petral), yang bergerak di bidang perdagangan minyak berlokasi di Singapore.

"Minggu depan kita akan melakukan pertemuan dengan Petral, dan itu adalah gagasan pertama dan selanjutnya menelusuri transparansi harga BBM," katanya.

Fahmi mengatakan beberapa kemungkinan yang akan dilakukan terhadap Perusahaan asal Singapore tersebut. Tidak menutup kemungkinan nantinya perusahaan yang berlokasi di Singapore ini akan dipindahkan ke Indonesia agar dapat diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Atau masih di Singapore akan tetapi diharapkan lebih transparan. Atau bisa juga dibubarkan.

"Inilah yang bakal kita kaji nantinya. Kalau dibubarkan, kita juga harus mencari solusinya. Dan kita tidak bisa bekerja berdasarkan desas-desus, isu atau analisis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan," papar Fahmi.

Fahmi mengakui ada anomali atau indikasi dalam pengambilan keputusan. Dan Dirinya mengatakan bahwa selama ini ternyata harga export berbeda dengan anggaran yang ditetapkan. Ada selisih sekitar 5 perak namun berkelanjutan.

Kemudian lanjut Fahmi, ini juga merupakan skenario mengapa kilang migas di Republik ini kerap dianggurin alias tidak dibangun. Pasalnya kilang-kilang yang sudah tua akan lebih mahal cost membangunnya, dibanding membangun yang baru.

"Jika kilang tidak dibangun otomatis produksi kita menurun. Kalau menurun ya kita terpaksa impor. Dan lebih banyak kita impor yang diuntungkan kan Petral," ujarnya.

Rencananya tim ini akan minta data dari Petral. Apakah harga impor yang dibuat oleh Petral lebih mahal dari harga kontrak yang lain. "Kita akan meminta data 5 tahun terakhir. Dan jika ditemukan tangan tangan mafia tadi, kita akan bekerja sama dengan KPK untuk menangkapnya," tutupnya. (Epan Hasyim Siregar)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login