IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Dirut Baru Pertamina: Serikat Pekerja Menolak, PWYP Nilai Kurang Transparan?

Dirut Baru Pertamina: Serikat Pekerja Menolak, PWYP Nilai Kurang Transparan?

Written By Indopetro portal on Monday, 1 December 2014 | 06:22

indoPetroNews.com - Menyusul ditunjuknya Dwi Soetjipto sebagai Direktur Utama Pertamina (Persero) yang baru mengantikan Karen Agustiawan, "bola liar" penolakan agaknya  akan dimulai. Setelah Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Migas  Indonesia (KSPMI),Faisal Yusra menyatakan meragukan visi yang mau dibawa lantaran dinilai tidak punya pengalaman di bisnis migas, Koalisi Masyarakat Sipil yang tergabung dalam PWYP (Publish What You Pay), juga menilai penunjukkannya kurang transparan.

Lewat ocehannya di  "#DireksiBaruPertamina", Yusra mengkhawatirkan pengalaman Dwi yang melakukan divestasi di Semen Gresik dan sempat menghebohkan karena dinilai teralu murah itu akan diterapkan ke Pertamina. "Kala itu saham Semen Gresik diobral dengan sangat murah, merugikan negara tapi bungkusnya bantu APBN," kata Dia.

Yusran juga mempertanyakan, 3 direksi Pertamina yang ditunjuk tidak paham bisnis minyak. "Mereka punya pengalaman di Teknik Informatika dan Hukum, lalu yang geologist mana?," tanyanya.

Karena menurut Dia, tantangan yang terbesar dihadapi Pertamina saat ini adalah meningkatkan lifting dan juga mencari cadangan-cadangan baru. Disamping minimnya jajaran direksi yang paham bisnis migas, Yusra menilai situasi ini tidak  membuat nyaman di organisasi para pekerja. Saat ini, pihaknya sedang melakukan konsolidasi untuk membuat perhitungan. Entah apa perhitungan yang disampaikan Yusra. Yang pasti mereka sudah sampaikan keluhan ini ke Presiden Joko Widodo tetapi belum ada tangapan.

Sementara PWYP sendiri menilai Kementerian BUMN kurang transparan dalam proses dan kriteria seleksi dalam menetapkan Direktur Utama dan anggota Direksi Pertamina lainnya. "Sejak awal Menteri BUMN tidak transparan dalam menetapkan kriteria Dirut dan Direksi Pertamina, termasuk rencana memangkas jumlah Direksi dengan alasan perampingan," kata Maryati Koordinator PWYP kepada media, Minggu (30/11).

Sementara Ketua Badan Pengawas PWYP Indonesia, Fabby Tumiwa menyatakan bahwa praktek yang lazim dalam mencari Dirut/CEO di perusahaan migas kelas dunia dilakukan tidak tergesa-gesa dalam waktu yang singkat. Kriteria CEO juga ditetapkan secara transparan sehingga mengundang profesional yang memiliki talenta dan kapabilitas sesuai dengan kriteria yang diinginkan untuk melamar. Dengan waktu yang cukup, proses seleksi pun dilakukan secara prudent dan kompetitif sehingga CEO yang terbaik dapat dipilih.

Fabby, yang juga Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR) mengkritik penetapan tiga Direksi baru tanpa adanya kejelasan struktur organisasi dan manajemen Pertamina. Menurut dia, alasan perampingan tidak selayaknya menjadi alasan. Sudah seharusnya praktek perampingan atau re-organisasi Pertamina berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan bisnis serta corporate governance yang jelas dan terukur.

“Penunjukkan tiga anggota Direksi baru tanpa portofolio yang pasti menunjukkan bahwa Menteri BUMN tidak punya konsep jelas dalam hal reorganisasi dan restrukturisasi Pertamina, tetapi berlindung dalam jargon perampingan dan efisiensi yang populis untuk mengalihkan agenda-agenda tersembunyi. Presiden dan publik harus mengawasi serta tidak mudah termakan taktik dan strategi dari Kementerian BUMN tersebut, yang bisa saja disusupi kepentingan politik atau bisnis tertentu,” pungkas Fabby. Ksr





Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login