IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Indonesia akan Hapus Impor Premium dan Menggenjot Produksi Pertamax

Indonesia akan Hapus Impor Premium dan Menggenjot Produksi Pertamax

Written By Indopetro portal on Monday, 22 December 2014 | 15:24

indoPetroNews.com – Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Minggu (21/12) memberikan rekomendasi penting, di antaranya menghapus impor Premium (Ron88) yang selama ini disinyalir sebagai sumber transaksi para mafia minyak yang memblending RON92 ke dalam Kiilang Minyak Pertamina dengan campuran naftan hingga menjadi produk Premium.

Selama ini, menurut Faisal Basri selaku Ketua Tim, sebagian besar kilang BBM di dalam negeri dikatakan hanya dapat memproduksi bensin Premium (Ron88), Minyak Solar (kandungan sulfur 0,35%), dan Minyak Tanah. Subsidi harga pun diberikan untuk BBM jenis tersebut. Sehingga, lanjut Faisal, penentuan Harga Patokan untuk menghitung subsidi mengacu pada BBM jenis tersebut. Mengingat kata Dia, di Bursa Singapura tidak tersedia kutipan harga untuk BBM jenis Bensin Premium (RON88) dan Minyak Solar (kandungan sulfur 0,35%), HIP (Harga Indeks Pasar) untuk kedua jenis BBM tersebut dihitung berdasarkan harga MOPS untuk jenis BBM yang spesifikasinya paling mendekati.

Kepada sejumlah media, Faisal juga mengungkapkan, Indonesia adalah pembeli tunggal bensi Ron88, dengan volume pembelian yang jauh lebih besar dibandingkan transaksi Mogas92 di kawasan Asia Tenggara. Namun Indonesia tidak memiliki kekuatan dalam pembentukan harga MOPS untuk Mogas92 yang menjadi benchmark harga bensin Ron88 alias Premium, yang biasa dikonsumsi,” katanya.

Oleh karena itu, Tim nya merekomendasikan sejumlah hal, di antaranya:1).Menghentikan impor RON 88 dan Gasoil 0,35% sulfur dan menggantikannya masing-masing dengan impor Mogas92 dan Gasoil 0,25% sulfur; 2).Produksi minyak solar oleh kilang di dalam negeri ditingkatkan kualitasnya sehingga setara dengan Gasoil 0,25% sulfur;3).Mengalihkan produksi kilang domestik dari bensin RON 88 menjadi bensin RON92 (Pertamax).

Dengan demikian, jelas Faisal, maka Formula perhitungan harga patokan menjadi lebih sederhana, yakni:

–Harga MOPSMogas 92 + α untuk bensin dengan RON92, dan
–Harga MOPS Gasoil 0,25% sulfur + α untuk miyak solar. 

Sehingga katanya lagi, benchmark yang digunakan dalam menghitung HIP menjadi lebih sesuai dengan dinamika pasar;

Faisal menjanjikan, dalam jangka pendek, impor Mogas92 akan meningkat namun disertai penurunan impor RON88. "Dampak keseluruhannya, terutama dalam jangka panjang, diperkirakan bakal positif. Peningkatan produksi RON 92 bisa dilakukan dengan menambahkan MTBE (Methyl Tertiary Butyl Ether) pada Pertamax Off untuk mengurangi kadar aromatic yang dihasilkan oleh kilang-kilang minyak Pertamina saat ini," katanya.

Sementara itu, Agung Wicaksono, anggota Tim Reformasi dalam akun Facebooknya  yang dikutip, Senin (22/12) mengatakan, Ron88 alias Premium, adalah suatu produk yang selama bertahun-tahun dipertahankan padahal tidak ada lagi negara yang menggunakannya di Asia Pasifik. Akibatnya, harganya di pasaran tidak transparan, pemasoknya rawan dikendalikan kartel dan penyuap kekuasaan, terlebih lagi bahwa produk RON92 yang sudah bagus kualitasnya malah di-blending agar turun kualitas menjadi RON88 ini.

Menurut mantan anggota UKP4 era SBY ini, selama ini juga selalu disuarakan bahwa kilang milik Pertamina hanya mampu memproduksi RON88 sehingga Premium hanya bisa diproduksi pada tingkatan oktan tersebut. Padahal ternyata dengan upaya lebih keras dengan menambahkan MTBE, naphta yang dihasilkan Pertamina dan diolah/blending menjadi Pertamax Off (yang masih beraroma keras), ternyata dapat menjadi RON92 alias Pertamax juga.

Menurut Dia, negara ini masih akan harus mengimpor RON92 selama kilang baru belum terbangun atau kilang existing belum dilipatgandakan kapasitasnya. Namun impor RON88 yang selama ini jadi sumber keuntungan kartel/mafia akan turun dan bahkan hilang. Sedangkan pemasok impor RON92 sangat luas di pasaran sehingga tak ada kartel/mafia yang bisa mengendalikan.

Dan pada akhirnya, tutup Agung,  konsumen Indonesia akan menikmati bahan bakar yang lebih berkualitas, bersih dan ramah lingkungan, dengan usulan besaran subsidi tetap yang lebih terkendali.

Seperti diketahui, selama ini produksi Perrtamax untuk kilang Pertamina relatif kecil, sekitar 1,5 juta barel per hari, sementara Premium mencapai angka 12 juta barel per hari. Sehingga sebagian besar kekurangan dari dua jenis bahan bakar yang banyak dikonsumsi transportasi di Indonesia itu harus diselesaikan dengan impor. Ksr




Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login