IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Rekomendasi Tim Reformasi Dinilai Makin Membuka Market SPBU Asing

Rekomendasi Tim Reformasi Dinilai Makin Membuka Market SPBU Asing

Written By Indopetro portal on Tuesday, 23 December 2014 | 13:28

indoPetroNews.com – Salah satu rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang akan melarang produksi Premium atau Ron88 dinilai akan menjadi ancaman Pertamina. Pasalnya, produksi Ron92 pada kilang Pertamina yang nantinya akan dicampur MTBE (Methyl Tertiary Butyl Ether) menjadi Pertamax membutuhkan waktu penyesuaian sekitar 5 tahun, sehingga kualitas Pertamax yang dihasilkan belum tentu bisa sebaik yang dimiliki SPBU asing. Sehingga persoalan ini makin memberikan peluang asing untuk mendominasi SPBU-SPBU yang ada.

Jadi agenda dibalik rekomendasi yang dilakukan Tim Reformasi harus diperhatikan juga. “Kita berharap Tim Reformasi tidak melulu berbicara dari aspek keuangan atau Ron88 nya saja, tetapi harus difikirkan bagaimana agar Pertamina tetap dominan dalam bisnis hilir ini”, demikian dikatakan Marwan Batubara dari IRESS pada acara dialog di salah satu televisi swasta di Jakarta, Selasa (23/12).

Marwan melihat, rekomendasi yang disampaikan oleh Tim Reformasi terkait blending dan timing-nya tidak tepat. Tim yang ada menurut Dia, tidak ada yang memiliki keahlian di bidang pengilangan tetapi telah mengeluarkan rekomendasi terkait hal itu. Belakangan, tim ini (Rekomendasi), baru akan membentuk tim ahli yang memiliki pengetahuan soal pengilangan. “Ini kan jadi aneh, rekomendasinya sudah keluar tetapi timnya baru akan dibentuk,” kata Marwan. Seharusnya, saran Marwan, Tim Reformasi ini membuka dialog atau konsultasi dulu dengan Pertamina baru kemudian mengeluarkan rekomendasi. “Karena ini menyangkut hal yang strategis, menyangkut bisnis Pertamina,” tegasnya.

Sementara dari asosiasi para pengusaha SPBU yang tergabung dalam Hiswana Migas, Ari Purnomo Hadi mengatakan, Tim Reformasi dinilainya sudah menyimpang dari khitah. Seharusnya Tim fokus pada persoalan tata kelola yang lebih substansial. Rekomendasi yang dikeluarkan Tim malah makin membuka market SPBU asing. “Jangan kita buka market untuk asing tapi tanggung jawab sosial dan domestik nasional diserahkan kepada masyarakat Indonesia, ini kan tidak fair”, kata Ari.

Ari menegaskan, kalau arahnya tim reformasi tidak mengurusi hal yang substansial ini berbahaya. Dia mencontohkan, “Pertamina saat ini harus menyuplai BBM dari Sabang sampai Merauke, Laut Arafuru dan NTT harus ada, tapi asing tidak. Asing hanya di DKI, Surabaya dan kota-kota besar lain. Yang daging diserahkan ke asing, yang remote-remote, “tulang-tulang” disuruh SPBU Pertamina , SPBU Merah Putih, apakah ini fair,” tanya Ari.

Belum lagi, lanjut Ari, “Pertamina harus diibebani stok nasional, dari 18 hingga 20 hari, sementara asing tidak. Asing juga tidak diberikan beban untuk bangun infrastruktur. Mereka gampang tinggal ambil atau beli dari stok yang ada,” lanjut Ari mempertanyakan.

Menurut Ari, persoalan BBM sebenarnya bukan pada Oktan, tapi pada pengawasan. Nanti kalau muncul Pertamax subsidi dan Pertamax yang dijual sesuai harga pasar, persolan yang sama akan muncul. Karena itu pesan Ari, Tim Reformasi juga harus fokus pada perbaikan tata kelola yang juga memperhatikan aspirasi SPBU Pertamina atau lokal. Pemerintah sekarang menurut Dia, belum memperhatikan kondisi usaha para pengusaha SPBU.

“Tahun 2013, 22 Juni, ketika kenaikan BBM subsidi ada tambahan margin 50 rupiah, 20 rupiah untuk kilang dan 30 rupiah untuk pengecer. Tahun ini, 18 November BBM subsidi naik, tidak ada. Seharusnya SPBU merah putih juga diperhatikan, Pertamina juga. Pertamina kan tidak equal treatment (mendapat perlakuan sama-red),” kata Ari.

“Menjual Premium dan Pertamax beda sekali. Pertamax mudah susut. Kalu SPBU asing mudah menjual pertamax di sini. Di Korea Selatan tidak ada itu SPBU asing. Di sana yang ada Hyundai oil, Samsung Oil, SK oil dan sebagainya,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Minggu (21/12) memberikan rekomendasi penting, di antaranya menghapus impor Premium yang selama ini disinyalir sebagai sumber transaksi para mafia minyak yang memblending RON92 ke dalam Kiilang Minyak Pertamina dengan campuran naftan hingga menjadi produk Premium.

Menurut Tim yang diketui Faisal Basri itu, Ron88 alias Premium, adalah suatu produk yang selama bertahun-tahun dipertahankan padahal tidak ada lagi negara yang menggunakannya di Asia Pasifik. Akibatnya, harganya di pasaran tidak transparan, pemasoknya rawan dikendalikan kartel dan penyuap kekuasaan, terlebih lagi bahwa produk RON92 yang sudah bagus kualitasnya malah di-blending agar turun kualitas menjadi RON88 ini.Kusairi
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login