IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Sempat Picu Kontroversi, Tim Reformasi Migas Minta ISC Gantikan Petral

Sempat Picu Kontroversi, Tim Reformasi Migas Minta ISC Gantikan Petral

Written By Indopetro portal on Wednesday, 31 December 2014 | 19:16

indoPetroNews.com – Kelembagaan Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, yang pada 2008 dibentuk Ari Soemarno selaku Dirut Pertamina untuk mengontrol semua penjualan sekaligus pengadaan minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM), Selasa (30/12), direkomendasikan oleh Tim Reformasi Tatakelola Migas yang diketuai Faisal Basri menggantikan peran Petral sebagai trading dan marketing arm Perrtamina. Padahal lembaga itu sempat menimbulkan kontroversi karena dinilai sebagai “sarang” mafia migas.

Melalui sejumlah butir isi rekomendasinya, Tim Reformasi Tatakelola Migas di antaranya meminta pemerintah menata ulang seluruh proses dan kewenangan penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM. Namun satu isi rekomendasi yang dinilai kontroversi disampaikan Tim adalah ketika meminta tender penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM tidak lagi oleh Petral melainkan dilakukan oleh ISC (Integrated Supply Chain) Pertamina. Sebaliknya Tim meminta Petral dapat menjadi salah satu peserta lelang pengadaan dan penjualan minyak mentah dan BBM yang dilaksanakan oleh ISC. 

Kelembagaan ISC dinilai kontroversi karena memiliki kuasa dalam mengontrol semua tataniaga yang dilakukan Petral, baik dalam penjualan minyak mentah Pertamina maupun impor BBM (Bahan Bakar Minyak). Peneliti dari Global Future Institute (GFI), Ferdiansyah Ali kepada indoPetroNews , September lalu, sempat mengatakan bahwa Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina yang selama ini mengontrol dan mengawasi Petral, sehingga ISC Pertamina inilah yang secara de facto dan de jure menguasai Petral.

Dikatakan Ferdiansyah, orang yang paling berkuasa di ISC adalah Ari Soemarno, karena Ari Soemarno lah yang membentuk ISC tahun 2008. ISC ketika itu, terdiri dari 3 orang board (dewan), 3 direksi, dan 1 orang koordinator. “Dengan demikian, melalui ISC Pertamina inilah skema tata kelola migas Ari Soemarno ke depan nampaknya patut kita cermati, karena ISC mempunyai kekuasaan yang sangat kuat,” katanya.

Menurut Faisal Basri kepada sejumlah wartawan di Jakarta, Petral diminta mengefektifkan fungsinya dalam market intelligence di pasar minyak global dan regional sebagai masukan bagi ISC. Dia meminta, penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM oleh ISC dilakukan melalui proses tender terbuka dengan mengundang semua vendor terdaftar yang kredibel dan tidak terbatas pada NOC.

Faisal menjelaskan, tender penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM semuanya dilakukan di Indonesia dan dilaksanakan oleh ISC Pertamina. Sehingga tambah Faisal, semua prose itu sepenuhnya tunduk pada hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. “Dengan begitu, auditor dan penegak hukum (BPK, KPK dan lain-lain) dapat menjalankan fungsinya secara optimal,” urainya.

Faisal dalam rekomendasinya juga meminta pemerintah, dalam hal ini Pertamina dapat mengganti secepatnya manajemen Petral dan ISC dari tingkat pimpinan tertinggi hingga manajer. Juga menyusun roadmap menuju “world class oil trading company” oleh manajemen baru Petral serta mempersiapkan infrastruktur yang diperlukan.

Seperti telah menjadi "gayung bersambut", sehari sesudahnya, Pertamina pun langsung mengeksekusi hasil rekomendasi dati Tim Reformasi. Pertamina kemudian menunjuk Daniel Purba, anggota Tim Reformasi , yang sempat menjabat sebagai VP (Vice President) Petral menjadi VP ISC pada Rabu (31/12).  Belum ada keterangan resmi dari Pertamina soal penunukan Daniel. Yang pasti  Direktur Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean kepada sejumlah media usai penunukkan Daniel, Rabu (31/12) mengatakan, penunjukkan salah satu anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Daniel Purba sebagai Vice President (VP) Integrated Supply Chain (ISC) Perrtamina menggantikan Tafkir Husni dinilai sarat agenda terselubung kelompok tertentu. 

Pada awalnya, Petral bernama Petra Group. Didirikan pada 1969, oleh Pertamina dan “interest group” di AS, dengan dua anak perusahaan Perta Oil Marketing Corporation Ltd. (perusahaan Bahama berkantor di Hong Kong), dan Perta Oil Marketing Corp., (berbasis di California, AS). Pada 1978, POML yang berbasis di Bahama digantikan dengan perusahaan yang berbasis di Hong Kong.

Pada 1992, Petra Group mendirikan anak perusahaan berbadan hukum dan berkedudukan di Singapura (Pertamina Energy Services Pte Limited - PES) pada tahun 1992 yang dibebani tugas melakukan perdagangan minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia. Pada September 1998, seluruh saham Perta Group diambil alih Pertamina. Pada Maret 2001, Petra Group berubah nama menjadi Pertamina Energy Trading Limited (PETRAL), berperan sebagai trading and marketing arm Pertamina di pasar internasional. Ksr
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login