IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Darmawan Prasodjo: Pertamina Si "Anak Bayi Berjanggut" yang masih Didikte Pemerintah

Darmawan Prasodjo: Pertamina Si "Anak Bayi Berjanggut" yang masih Didikte Pemerintah

Written By Indopetro portal on Saturday, 24 January 2015 | 22:34

indoPetroNews.com - "Merdekalah perusahaan minyak negara Indonesia. Jangan mau terus berada di bawah ketiak kelompok orang-orang yang memiliki kepentingan. Jangan mau dikungkung oleh birokrat yang tidak bertanggungjawab. Jangan pula mau dijadikan sapi perah oleh negara sendiri". 

Itulah beberapa bait kata yang kerap menyisip pada pidato-pidato yang dipekikkan seorang Darmawan Prasodjo, kader muda dari sebuah partai yang selama 10 tahun terakhir menjadi oposisi pemerintah -- PDI Perjuangan  dan kini dipercaya rakyat untuk menyelenggarakan pemerintahan. Setidaknya dalam 5 tahun ke depan, lantaran capres yang diusung -- Joko Widodo, kini menjadi Presiden Republik Indonesia ke-7.

Darmawan Prasodjo yang akrab disapa Darmo, sering melontarkan pemikiran-pemikiran cerdas bahkan terkesan 'nyinyir' terkait tatakelola migas di Indonesia. Namun pada sisi lain, Dia juga memiliki mimpi agar ada perusahaan migas nasional, seperti Pertamina menjadi perusahaan migas ternama dan mendunia. Tentu saja mengungguli perusahan negara sejenis seperti Petronas di Malaysia.

“Anak Bayi Berjanggut”, itulah julukan yang pernah disebut Darmo  kepada perusahaan plat merah sekelas PT. Pertamina Persero. "Bagaimana tidak, sejak lahir hingga sekarang perusahaan minyak dan gas milik Republik ini, masih saja didikte, dianggap tidak tahu apa-apa, dibatasi pergerakannya, mirip seperti anak balita (bawah lima tahun)," katanya.

Padahal sejak didirikan pada 10 Desember 1957, kata Dia, Pertamina  yang dulunya masih bernama PT. PERMINA (Pertambangan Minyak Nasional Indonesia) dengan Kol.Dr. Ibnu Sutowo sebagai Presiden Direktur, telah melalui beberapa pertempuran hebat.

Barangkali hal ini telah menjadi bagian dari kritik yang disampaikan  ahli modeling ekonomi, lulusan Texas, A&M University, Amerika Serikat.  Bahkan Darmo menilai, sampai hari ini pemerintah tetap 'mengebiri' dan membatasi kinerja Pertamina. Padahal sejak dipimpin Ibnu Sutowo, PT. Pertamina sudah relatif lebih baik secara pengelolaan manajemen.

Pria asal Magelang, yang juga menjabat sebagai President Commissioner di Ametis Energi Nusantara ini berpendapat, Instruksi Presiden (Inpres) Tahun 1975 sebenarnya mencegah Pertamina mendirikan negara di dalam negara, dengan cara menyerahkan sebagian besar revenue Pertamina kepada Bank Indonesia (BI). Tetapi dalam perjalanannya, regulasi macam ini hanya membuat Pertamina menitikberatkan operasionalisasinya pada profit semata karena harus menyetor pada pemerintah.

“Pertamina hari ini berbasiskan pada profit. Jadi berbekal Inpres Tahun 1975 revenue Pertamina masuk ke BI, yang kembali plus kena pajak kepada Pertamina hanya 3 persen,” katanya kepada awak media indoPetroNews.com, di Jakarta. “Tahun 2013 Pertamina sudah membaik tapi kok seperti itu sehingga enggak akan berkembang.  Inpres 12 Tahun 1975  itu terkesan 'mengebiri' Pertamina,” sambungnya.

Tidak dipungkiri jika menyimak perjalanan hidup Darmawan, akan didapat kesimpulan bahwa pria satu ini adalah sosok yang ulet dan pemikir yang betah berhadapan dengan angka-angka rumit. Dia punya niat kuat dan konsep mengembangkan sumber daya alam Indonesia khususnya energi agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bangsa Indonesia.

Darmawan melihat dan mencoba membandingkan Pertamina dengan perusahaan minyak dari negara lain. Menurutnya di Malasyia yang mendapatkan sumber daya alam nomor satu itu adalah Petroliam Nasional (Petronas), dan di Rusia itu Gazprom, kemudian yang susah-susah itu, baru ke swasta atau ke asing. Terbukti Petronas pada akhirnya lebih maju, karena hampir 70 persen keuntungannya diinvestasikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan proyek-proyek besar Negeri Jiran tersebut.

Sementara pemerintah Indonesia, memberi kelonggaran ke perusahaan minyak nasional namun dengan persyaratan yang sangat ketat. Tapi tetap saja yang mendapatkan kesempatan itu swasta. Sehingga yang terjadi adalah adanya kelangkaan atau keterbatasan yang membuat asing menjadi secondary market atau menjelma sebagai makelar.

“Kita sama-sama mengetahui kalau migas itu padat kapital, padat teknologi, dan padat resiko, dan perusahaan minyak swasta kita di Indonesia tidak punya ketiga-tiganya, hanya padat kepentingan. Ini akan menjadi rantai panjang yang membuat bunyi pasal 33 UUD 1945 dikangkangi,” tegas Darmawan.

Menurut Darmawan Petronas berkembang karena dapat merespon dinamika pasar. Sedangkan pertamina tidak, karena mau apa-apa harus mengajukan anggaran, jadi mau kapan jalan proyeknya. Padahal sistem yang dianut oleh Petronas itu miliknya Indonesia (Pertamina) zaman dulu di copy paste.

Darmawan mengatakan, saat ini tujuan pemerintah itu hanya lifting, dimana hanya menekankan pada ‘short-time’ atau aliran dana segar. sementara mengabaikan jangka panjang. Harusnya pemerintah lebih meningkatkan energi security dengan strategi research replacement rescue. “Jadi research kita harus di replace setelah diambil. Meskipun kita tidak mengesampingkan aliran dana segar. Karena kalau tidak ada dana segar, oleng juga kita,” ujarnya. “Sehingga kalau kita nyedot, harus ada eksplorasi baru. Untuk mendapatkannya harus ada insentif,” lanjut Darmawan.

Menurut Darmawan dalam pemberian insentif juga harus melalui beberapa tahap. dimana pajak itu di push full sampai ditemukannya penemuan, dan kalau sudah ada penemuan baru, penemuan tersebut dimasukkan ke dalam cost recovery. Selama eksplorasi tidak ada produksi dan tidak ada spending money, eksplorasi tersebut masing harus didukung namun dengan cost semurah-murahnya. Berbeda dengan ketika kilang sudah berstatus komersial, insentif harus dihentikan.

“Misalnya belum komersial dan masih banyak resiko, insentif tidak berjalan, pasti tidak ada yang mau investasi. Juga jika sudah komersial finding, dan resikonya sudah turun, namun insentif masih terus diberikan, itu sama saja memberi kaya sama asing, dan terlalu banyak nanti negara-negara lain investasi disini,” tegasnya.

Darmawan mencontohkan, kalau di Texas Amerika itu, eksplorasi seperti mancing di sungai, seharian dapat ikan satu saja sudah senang, kalau di Irak itu seperti mancing di dalam tong yang berisi ikan sehingga pasti dapat. “Jadi kalau resikonya kecil tergantung geologinya yang baik kenapa kita harus beri insentif. Tapi kalau resikonya terlalu besar seperti perusahaan yg tidak mau investasi, perlu diberi insentif,” ujarnya.

Putera dari Almarhum Brigadir Jenderal TNI (Purn) Sadja Moeljoredjo, ini juga mengatakan selama ini sisa dari laba Pertamina sebesar 95 persen diberikan ke negara dan digunakan untuk hutang negara, TNI, PLN, dan lainnya.

Awal Menjadi Ekonom

Ayah dari 3 orang anak ini juga sempat berbagi kisah perjalanannya menjadi seorang modeling ekonom kepada indoPetroNews.com. Berawal dari 2003, Darmawan membeli radio bekas. Iseng-iseng dia diajak seorang pria pemabuk untuk mengotak-atik radio itu dan ternyata bisa dikoneksi memakai USB ke komputer. Sementara komputer itu pun bisa menjadi radio. Penjual radio yang bersama Darmawan itu adalah seorang pemabuk yang baru habis minum-minum.

“Saya ngobrol dengan orang ini dari pukul 19:00 WIB hingga 24:00 WIB. Saya tidak menyangka orang ini kok hebat dan ternyata dia adalah ekonom kandidat doktor dari Yugo. Saya terinspirasi oleh dia,” kata Darmawan mengisahkan.

Ketika sudah lulus kuliah S1 di Texas, Darmawan tak langsung pulang ke Indonesia, melainkan bekerja di sebuah perusahaan kecil di sana. Pada suatu pagi, Darmawan bolos kerja dan mendatangi jurusan ekonomi Texas A&M. Dia bertemu dengan profesor ekonomi di sana dan mengutarakan niatnya yang ingin melamar menjadi mahasiswa ekonomi.

“Have you ever taken economic classes,” tanya sang professor.

“No,” jawab saya, yang selanjutnya ditanya oleh sang Professor, apakah dia mau ambil gelar Master?.

“No. Doctor,” tegas saya.

“Very strange. But, you are accepted,” ucap sang professor dengan raport di tangan melihat nilai-nilai ujian Darmawan yang rata-rata A dengan honor dan cum laude.

“You never take economic classes, but you are accepted. Welcome aboard,” kata professor dalam pembicaraan yang hanya sekitar 1 menit itu.

Dari sepenggal bincang-bincang itulah jejak langkah Darmawan menuju dunia ekonomi berawal. “Setelah pembicaraan itu saya langsung ke kantor dan bilang I quit.” “Saya ingin belajar financial economy karena saya ingin menjadi engineer di bidang finance, seorang ekonom,” ucap Darmawan.

Saat ujian pertama kali, hampir semua kawan-kawan sekelasnya adalah mahasiswa yang pernah mengambil S1 dan S2 di bidang ekonomi. Mereka baru ambil gelar doktor setelah 6 tahun di ekonomi. Sementara Darmawan sama sekali tak punya latarbelakang pendidikan ekonomi, dan dia harus menjawab semua formulasi dalam ujian tentang ekonomi yang sangat kompleks.

“Saya keluar dengan hati berkeping-keping karena tidak bisa menjawab satu pun. Kemudian saya mendapat nilai 25, satu level di atas posisi terakhir. Tertinggi mendapat score 99. Otomatis bakal di-DO karena kalau mendapat C di kelas doktor ekonomi adalah haram,” tuturnya.

Akhirnya selama semester itu tidak pernah pulang. Ia pulang hanya kalau mau makan. Tidur pun di kampus agar fokus ke semua remediasi dari S1 dan S2. Dalam tes ke-2, baru dia berhasil mendapat peringkat ke- 2 tertinggi dan tes ke-3 pun aman lancar. Namun anehnya setelah nilai dihitung, ternyata nilainya masih tetap C. Profesor yang memasukan namanya dalam program study pun memanggilnya secara pribadi.

“Darmawan, you shoud have got a C, but seeing your progress that you reach the second highest, that is not easy. I give you a B,” kata professor.

“Saya aman,” kata Darmawan.



Gara-gara Tak Ada Bea Siswa

Tapi ternyata di kelas financial economics itu tidak ada funding (bea siswa). Sebab bea siswa hanya untuk mereka yang sudah pernah ambil ekonomi dengan tujuan untuk mengajar.

Mau tak mau, Darmawan harus mencari cara agar kuliahnya ada yang mendanai. Akhirnya dia menemukan satu peluang di jurusan applied economy yang khusus untuk economic modelling. Mereka siap mendanai karena membutuhkan ahli operation research. Yang menawarkan program pendanaan pendidikan itu adalah Bruce McCall, seorang pemenang Nobel bidang economic modelling dan environmental modelling. Dia punya modeling secara global. Modelling economy dari AS, World Bank, IMF memakai hasil karya Bruce McCall. Darwaman bisa masuk dalam tim itu dan otomatis menjadi anggota tim elite economic modelling di AS.

Dalam pekerjaannya ini, Darmawan berinteraksi dengan orang-orang dari MIT, PBB, dan Bank Dunia karena mereka adalah teman satu lab. Akhirnya Darmawan memodelkan salah satu buku berjudul ‘Modelling Oil Fiscal System’ karena memang seorang economic modelling, risk analyst.

Wasiat Ayah
Sebelum meninggal, sang ayah berpesan “Darmawan, kamu harus mencari pengalaman sebanyak mungkin tetapi kalau sudah cukup, harus pulang”. Sang Ayah juga berkata “Salah satu tolak ukur dari kesuksesan bukanlah jabatan atau materi tapi seberapa besar ilmu yang dituntut selama ini bisa digunakan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia.” Darmawan menuturkan, kisah kepulangannya dari Amerika ke Indonesia berawal dari pesan sang ayah yang meninggal pada 2005. “Sebelum meninggal, saya masih di AS. Selama 10 hari, saya dan beliau intens ngobrol. Beliau ingin memberi wasiat wejangan,” ucap Darmawan.

Ayah Darmawan itu adalah seorang militer dan mantan kepala SMA Taruna Nusantara. Dia mata Darmawan, sang ayah adalah sosok patriotis yang benar-benar menginginkan bangsa Indonesia maju, menguasai dunia, ekonomi, teknokogi, kebijakan, dan politik.

“Wan, kamu harus lulus doktor dan cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Tapi kalau sudah cukup, kamu harus pulang. Salah satu tolok ukur dari kesuksesan bukanlah dari jabatan atau materi tapi seberapa banyak ilmu itu bisa digunakan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia,” begitulah pesan sang ayah yang kerap berputar ulang di kepala Darmawan.

Dari obrolan itu Darmawan memang merasa terhantam telak. Dia menemukan ada sebuah idealism dari untaian kata-kata itu. Satu pertempuran bahwa beyond kesuksesan karir dan jabatan, ada yang lebih besar lagi. “Itulah wasiat terbesar Ayah saya. Padahal selama 2 tahun sebelumnya, karir saya sedang menanjak. Akhirnya, saya berkata kepada istri saya bahwa “it’s time to go home.”

Saat itu ada beberapa tawaran yang masuk. Saya ditawari oleh Bank Indonesia sebagai economic modelling, sekolah bisnis ITB mau buka MBA Energi, UGM mengincar ekonom energi dan saya ditawari jadi dosen. Yang sangat heroik adalah Prof Yohanes Surya. Tiap minggu telepon saya dan beliau berangkat ke AS untuk mencari saya. Saat saya tanya kenapa, beliau hanya menjawab: “You don’t have to know but I want you”.

“Untuk menjadi staf di ITB, UGM dan BI harus melalui bermacam-macam birokrasi. Tapi kalau di sisi saya cocok,” jawab saya dalam hati.

Begitulah perjalanan saya, dari seorang computer scientist, saya bertemu dengan orang Yugo yang mabuk dan akhirnya saya menjadi ekonom.

Bertemu Istri

Sepertinya pepatah yang mengatakan, “Dibalik kesuksesan seorang suami, ada seorang istri yang hebat” tepat jika ditujukan kepada Darmawan. Salah satu anggota tim reformasi mafia migas ini menceritakan, sang istri yang berasal dari Banyuwangi, harus menjalin hubungan jarak jauh karena Darmawan muda selalu bekerja dan tidak sempat berinteraksi dengan wanita.

Saat bekerja, saya bertemu dengan seseorang engineer, yang sekarang adalah kakak ipar saya. Sekarang dia adalah associate director di BP. Waktu itu saya masih kuliah, dan saya lihat dia orangnya low profile dan religius. Saya cek di friendster, ternyata dia punya adik perempuan yang penampilannya sangat cantik. Bagaimana karakternya, kakaknyalah yang saya lihat.

Saat itu Februari 2006. Kami saling berkirim email. Tiga minggu kemudian saya berani telepon dia. Komunikasi menjadi sangat intens. Saya katakan bahwa sebenarnya mencari seorang istri. Saya bismilah, bahwa dialah calon saya. Saya tanya dia. “kamu saya lamar mau nggak?” Padahal waktu itu kami belum pernah ketemu secara langsung. “Subhanallah, Allah maha suci. dia (si cewek) jawab OK.”

Pada 26 Mei, rombongan keluarga saya berangkat ke Jakarta untuk melamar. Dan pada 27 Mei terjadi gempa di Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah desa saya luluh lantak tapi tidak ada korban dari keluarga karena mereka semua berangkat ke Jakarta untuk ikut melamar calon istri saya. Buah pernihakan ini telah dikaruniai tiga orang anak. *** Epan Hasyim Siregar
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login