IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Adrianto Machribie: Tata Kelola Migas Indonesia harus Mengikuti Cina

Adrianto Machribie: Tata Kelola Migas Indonesia harus Mengikuti Cina

Written By Indopetro portal on Saturday, 14 February 2015 | 16:16

indoPetroNews.com - Memang ada benarnya. Ketika muncul satu pepatah, sebagian ada yang menyebut sebagai pesan Nabi,  "tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina". Pepatah ini seakan menjadi nyata dan sudah jelas bahwa masa depan, setidaknya satu generasi ke depan itu ada di Cina. Sangat banyak yang dapat dipetik dari negeri tirai bambu tersebut.

Sampai sekarang pun Cina terus berkembang menjadi kekuatan besar dunia, dengan banyak ide-ide baru dan hal-hal terbesar di dunia. Contohnya saja terdapat tembolk terbesar di dunia di sana, yang dikenal dengan "tembok Cina".

Lalu apa sebenarnya yang musti ditiru atau diinspirasi dari China terkait tatakelola migas, yang kini masih terkesan karut marut seperti ini? Berikut petikan wawancara Presiden Direktur Metro TV, Adrianto Machribie Reksohadiprodjo, LMM, MSS di kantornya, Menara Mulia, Jakarta, Sabtu (14/2/2015). Mantan Presiden  Direktur PT. Freeport ini berbagi pengalamannya terkait tata kelola Migas kepada  Epan Hasyim Siregar dari indoPetroNews.com saat baru saja pulang dari negeri Cina.


Bagaimana Anda melihat tata kelola minyak dan gas bumi (Migas) di Indonesia saat ini ?
Kita harus mempertanyakan diri kita terlebih dahulu. Kita masih mau menjadikan orang lain kaya raya, atau negara kita sendiri yang kaya. Pada sektor Migas dan sektor Tambang tidak jauh berbeda. Negara tidak bakal maju jika semua yang berkepentingan mengeluarkan peraturan. Yang ini mengeluarkan peraturan, yang itu mengeluarkan peraturan.


Siapa yang dapat disalahkan dari tata kelola yang  terkesan karur marut tersebut ?

Ini bukan persoalan siapa salah siapa benar. Indonesia bisa seperti Cina, jika cara berpikir masyarakat Indonesia tidak manja.

Saya baru pulang dari RRC, dan ini yang ketiga kalinya saya kesana. Pertama sekali saya kesana tahun 1996. Waktu saya diundang oleh pemerintah untuk duduk dalam satu panel international, antara lain dalam satu panel itu juga ada menteri pertambangan. Dimana menteri pertambangan disana itu mencakup perdagangan dan sebagainya. Dan menteri itu juga merupakan salah satu dari partai komunis. Disana hampir semuanya seperti itu. Dan saya bertanya dan sempat bingung. “Bapak bisa mengkombinasi disana Partai dan disini pebisnis itu caranya bagaimana?. Kemudian dia menjawab, "Kalau saya sedang bernegosiasi atau berbisnis dengan asing dan saya harus memberi uang, alangkah baiknya. Tapi kalau karyawan saya sedang susah, saya suruh kerja, dan jika tidak kerja akan saya jebloskan ke penjara. Itu sebagai partai komunis”. Saya pikir, kok enak sekali bisa begitu. Berbeda sekali dengan para elit di Indonesia.

Apa yang dapat anda petik, setelah baru pulang dari negeri "Tirai Bambu"  itu?

Kalau saya lihat dari perkembangan RRC itu sangat mengerikan. Itu negara berkembang yang sangat pesat sekali. Saya belum pernah melihat negara yang dalam kurun waktu 20-30 tahun itu berkembang sangat pesat sekali. Pembangunan dan rakyatnya keliatan lebih makmur. Di dalam kota itu jalan itu 5 jalur. Kita naik kereta api dari Beijing ke Tienseng, itu jalannya kalau disini seperti Jakarta Bandung itu cuma makan waktu 27 menit. Dari moda transportasi Kereta Api saja dibanding Indonesia, kita terkadang malu semalunya. Padahal pada tahun 1996 itu orang di Beijing masih jalan pake singlet, naik sepeda, mendorong becak. namun sekarang sudah tidak ada. Yang namanya sarana prasarana itu hebat sekali, selain murah juga disiplin. Kemudian yang namanya perumahan rakyat, kalau dulu saya kagum di Singapore, sekarang malah tidak ada apa-apanya dibanding Cina. Memang falsafah mereka yang baru saya ketahui adalah, rakyat sebagai pimpinan partai juga sebagai pimpinan perusahaan. Sehingga kata mereka "saya harus mencari keuntungan sebesar-besarnya, tapi dikembalikan ke rakyat". Jadi jika ada anak buah yang ketahuan korupsi tidak ada naik banding langsung eksekusi. Seperti contoh beberapa waktu lalu, Perdana Menteri yang baru, Sing Ting, pamannya dijebloskan ke dalam penjara, karena ketahuan korupsi. Kita naik mobil dan minum kebanyakan, gak ada baa bii buu, langsung 2 bulan di penjara.


Dari kacamata Anda, apakah Indonesia dapat berkembang seperti Negara Cina ?

Mungkin kita sama-sama tau bahwa penduduk Cina mencapai 1,3 miliar jiwa pada 2010 lalu. Sangat jauh lebih banyak dari penduduk di Indonesia yang hanya 250juta jiwa. Namun diperkirakan Cina dalam perekonomiannya akan mengalahkan USA hanya dalam waktu 8 tahun ke depan (2020). Jadi kita kan melihat bagaimana perkembangan ekonomi di RRC yang begitu cepat dari Amerika yang memang juga mulai agak sedikit naik perkembangan ekonominya.

Kita lihat juga sekarang peluang eksplorasi juga semakin lama semakin mengecil. Di tahun 2013, untuk eksplorasi berkisar 3 miliar. Namun sekarang sudah turun menjadi 1 miliar. Indonesia sama sekali tidak kompetitif. Dapat yang satu miliarnya pun itu sangat kecil sekali. Dan ini tidak hanya untuk Migas, Mineral juga seperti itu. Maka yang harus dipertanyakan adalah, mengapa Pertamina eksplorasi diluar negeri, mengapa Medco juga eksplorasi diluar negeri ? Ini kan tergantung kepada regulasi kita yang tidak menarik.

Di pertambangan kayak gitu, di migas kayak gitu. Maka dari itu sekarang pada ribut subsidi. Antara angka supplay dan demand itu sangat besar karena kita tidak eksplorasi. Satu hal yang tidak dimengerti orang bahwa untuk eksplorasi itu biayanya cukup besar, risikonya tinggi, dan sukses rasio itu kecil sekali, yaitu sekitar 4 persen. Jadi misal di Indonesia saja dari 100 eksplorasi paling-paling sukses nya itu Cuma 4 persen. Memang jika berhasil, seperti Freeport dan Caltex punya keuntungan yang sangat besar, tapi kita lupa bahwa resiko itu saat ini ditanggung oleh perusahaan.


Tapi apakah bukannya bagus jika perusahaan migas kita seperti Pertamina dan Medco bisa ekspansi ke luar. Sehingga bisa selevel dengan Petronas dan perusahaan besar yang lainnya?
Bagus sih bagus, namun kita tanyakan dahulu, Petronas kan daerahnya kecil. Kan kita juga harus melihat bagaimana harga di dalam negeri dan luar negeri. Disana kecil sementara kita punya besar, kenapa kita tidak eksplorasi sendiri. Bagus memang, cuma yang harus dipertanyakan oleh kita adalah mengapa eksplorasi disini turun. kita tidak menggalakkan eksplorasi dalam negeri terlebih dahulu. Yang saya mengira masih besar potensinya. Padahal kalau kita melihat baik mineral maupun migas substansi di Indonesia itu sangat besar sekali. Setiap tahun kita melakukan pengkajian geologis Indonesia. Tapi kalau kita melihat dari kebijaksanaan, Indonesia paling rendah. Jadi setiap perusahaan yang eksplorasi di sini paling berhasil cuma 4 persen. Yang lainnya itu rugi.

Saya sewaktu bekerja di Shell, sebagai orang kedua di Shell. Saat itu Shell di Indonesia bergerak di bidang minyak, batu bara, pertambangan dan sebagainya. Dan kita saat itu eksplorasi minyak satu pun tidak ada yang berhasil. Saat itu uang keluar kalau saya hitung secara kasar, 1 miliar dollar hilang. Dulu kita coba mengembangkan batu bara di Sumatera Selatan, itu satu-satunya kontrak untuk PLC untuk batu bara, itu terjadi di tahun 70 an waktu terjadi krisis energi yang pertama. Itukan diperkirakan fosil of oil itu habis. Akhirnya Shell mengambil satu jatah dan juga melihat untuk mengembangkan energi nuklir dan batu bara. Ini saya ngomong uang tahun 70-an. Waktu itu yang kita perkirakan sebagai Shell investasi disana makan uang lebih dari 1 miliar dollar, dan itu uang pada tahun 70-an ya. Itu maksudnya batu bara akan kita ekspor ke Eropa sehingga nantinya di konversi menjadi bensin. Itu bukan merupakan proses baru.


Bagaimana sistem tata kelola Migas pada saat jamannya Anda ?
Sejak 1996 saya sudah masuk jadi anggota komisaris dari perusahaan Ostindo, itu yang dari keluarga Tahiya, pemilik Caltex. Kemudian menjadi presiden komisaris Ostindo sejak tahun 2002. Bergerak dalam bidang kelapa sawit, dimana disitu juga ada Arifin Siregar (mantan menteri perdagangan dan gubernur BI, dan juga duta besar). Ini salah satu kesibukan saya juga.

Lokasi sawit kita saat itu berada di Sumatera Utara, Belitung, Kalimantan, dan Papua. Sehingga dari Sabang sampai Marouke kita ada. Jika melihat dari segi kebutuhan, penduduk kita semakin bertambah terus. Sementara lahan semakin menyempit, dan bahan makanan akan sangat dibutuhkan untuk menunjang dari penduduk yang bertambah itu. Dan kelapa sawit itu bukan saja hanya untuk minyak, bisa juga untuk perlengkapan rumah tangga, seperti bahan makanan, sampai penelitian bahan kimia dan macam macam lainnya.

Pernah juga kita ngebor di Membran sebanyak 3 sumur. Dan itu per satu sumur tahun 80an itu paling sedikit 10juta dollar. Ada juga di kalimantan di sumatera utara. Jadi memang sangat luar biasa pada waktu itu. Karena sebetulnya juga Pertamina itu asal muasalnya adalah Shell. Karena dulu sumur di Indonesia hanya ada 3. Shell, Stanvac, sama caltex. Kemudian tahun 50 an itu Pak Ibnu menemukan minyak di Pangkalan Susu, Brandan, Sumatera Utara. Kemudian muncul lah pertamina tahun 60 – 65. Indonesia saat itu kelihatannya akan ke “kiri”, ya mendekati negara-negara komunis lah. Kiri sekali bahkan. Sehingga shell mengundurkan diri dan dijual dengan Pertamina. Begitu juga dengan nametax. Bedanya Stanvac tidak 100 persen, sementara Shell seratus persen. Kemudian barulah dari sana Pertamina ada perusahaan Permina, kemudian menjadi Pertamina. Makanya tahun 80 an itu semua yang ada di Pertamina adalah praktisi-praktisi Shell dan Stanvac.

Hitler perang dunia kedua, tank-tanknya itukan menggunakan batu bara yang dikonversi menjadi BBM. Afrika Selatan juga sempat melakukan itu. Sebab itu adalah bahan bakar yang efisien dan efektif. Tapi akhirnya karena teknologi perminyakan berkembang, itu di Inggris Utara, offshore itu lalu dikembangkan teknologi ngebor di laut dalam. Dan itu dari jangka waktu dan komersial lebih menguntungkan dari proses batu bara itu tadi. Dan akhirnya Shell mengundurkan diri dari proyek itu, dan investasi yang dikeluarkan tadi habis begitu saja. Ini saya ngomong tahun 70-an loh.


Apa kesibukan Anda saat ini ?


Kalau di pertambangan saya masih menjadi penasehat juga, dan pada masa ini kebetulan saya mengundurkan diri dari Interpret. Jadi kalau hanya ada orang minta nasihat saja. Karena saya juga di PT Freeport cukup lama, yaitu 11 tahun menjabat sebagai CEO.

Di media Metro TV saya dipercayai menjabat Presiden Direktur. Dan kita kan merupakan sebuah industri news agency. Meskipun bukan salah satu media yang besar. Tapi kita masih tetap fokus dan konsisten menjalankan pemberitaan. Kita juga masih berpatok kepada iklan. Penonton kita kebanyakan adalah menengah ke atas. Kalau televisi yang lain mungkin dapat sembarang mengambil iklan.

Jadi seperti visi misi dari beberapa pendiri adalah menyajikan berita. Jadi kita itu seperti CNN. Meskipun CNN rencananya akan bekerja sama dengan Transcorp, namun kita sudah mempunyai brand image. Kita juga merupakan televisi yang menyiarkan berita dengan bahasa Cina/Mandarin pertama sekali. Dan pemerintah disana sangat mengapresiasi. Meski Berita Satu sudah akan melakukan siaran selama 24 jam, dan akan menayangkan juga selain dari pemberitaan, namun kita sama sekali tidak menayangkan siaran hiburan seperti televisi lainnya. Arah kita adalah pemberitaan.


Boleh sedikit ceritakan bagaimana saat anda masih di Freeport ?

Waktu jaman saya itu tembaga itu harga cuma 80-90 sen, sementara sekarang sudah 3 Dollar. Itu pada saat Freeport juga pernah bangkrut, gag bisa bayar pajak. Tapi diuntungkan pada saat itu di pemerintahannya duduk orang orang yang bisa mengerti. Mengerti bisnis, mengerti pertambangan, jadi mengerti sifatnya kayak apa dan sebagainya. Jadi sempat beberapa tahun ada berkisar antara 3-4 tahun pajak kita ditunda pada saat itu. Dan kerjasama dengan pemerintah pada waktu itu baik sekali. Dan sekarang cukup beda sekali, di pemerintahan sekarang selain memiliki pengalaman, orang-orangnya bisa melihat keluar peluang

Sehingga saat ini memang diharapkan pemerintahan yang baru dapat menempatkan orang orang yang tidak asal-asalan. Jadi nantinya dapat melihat perubahan yang terjadi pada sumber daya alam kita.


Terkait renegosiasi apa kira-kira yang akan dilakukan pemerintah yang baru?
Sekali lagi saya mengatakan bahwa MoU itu mengarahnya kepada kesepakatan. Dan kesepakatan itu harus dilaksanakan. Jadi nanti akan terjadi kembali renegosiasi dengan pemerintah yang baru mengenai pelaksanaan. Jadi MoU tidak bisa mengalahkan kontrak karya. Dan belum tentu pemerintah yang baru melaksanakan, kali ini saya tidak tahu, nanti bisa saja terjadi perbedaan kembali. Dan celakanya, ini juga saya tidak mengerti saya, mestinya pemerintah yang baru juga dilibatkan. Pemerintah baru saya melihat tidak dilibatkan, karena tadi juga saya baru membaca kalau Dirjen Minerba mencoba mengeluarkan sekian ini dan sekian itu, tanpa melibatkan pemerintah yang baru. Jika begini nanti bisa saja MoU dapat tarik ulur dengan pemerintah yang sekarang. Ini mestinya ada satu hal yang kita tidak melihat kenyataan hidup. Bagaimana pun juga Indonesia memang secara potensi kita kaya. Tapi potensi di dalam kalau tidak digali ya buat apa. Kita kan selama ini mencari investasi yang menguntungkannya cepat. Makanya pengusaha-pengusaha di Indonesia tidak akan mengambil inisiatif untuk mencari eksplorasi minyak atau mineral. Mereka hanya ikut yang sudah berhasil, ya misal sudah hasil dibeli sama mereka. Maunya enaknya saja, karena resiko mereka tidak akan pernah mau. ***
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login