IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Diam-diam Pemerintah Lakukan Impor Minyak Mentah Dari Angola Melalui Sonangol

Diam-diam Pemerintah Lakukan Impor Minyak Mentah Dari Angola Melalui Sonangol

Written By Indopetro portal on Friday, 6 February 2015 | 10:05

indoPetroNews.com - Dikabarkan Indonesia telah melakukan impor minyak mentah dari Angola melalui Sonangol secara diam-diam. Hal ini diketahui oleh sumber dikalangan Migas yang tidak ingin disebutkan namanya.

Impor minyak mentah sebanyak 600 sampai 900 ribu barel tersebut membuat publik mempertanyakan soal transparansi yang dilakukan perusahaan Pertamina kepada rakyat.

"Kabar terakhir katanya Pertamina masih mempertanyakan soal diskon, kok minyaknya sudah masuk. Pemerintah sangat tidak transparan terhadap rakyatnya. Bukannya impor akan dilakukan setelah terbentuk perusahaan bersama, antara Pertamina dan Sonangol?," kata sumber tersebut, di Jakarta, Jumat (6/2).

Dari pengiriman awal ini, lanjutnya, setiap bulan nya Sonangol akan mengirim minyak ke ISC (Integrated Supply Chain). Meskipun menurut perjanjian, pasokan Sonangol adalah 100 ribu barel per hari. "Angka 900 ribu itu untuk pengiriman sembilan hari atau sehari. Hanya, masalahnya seberapa jelas uang yang dikeluarkan Pertamina, bila diskon 15 dolar AS yang dulu disebutnya bisa menghemat itu tidak jadi diberikan,” ujarnya heran.

Sementara, Ketua Komisi VII DPR, Kardaya mengaku belum mengetahui kabar impor minyak Sonangol yang saat ini prosesnya disebut-sebut sudah mulai didatangkan menggunakan kapal sewaan Pertamina. Kardaya mempertanyakan transparansi di balik pembelian minyak mentah dari Sonangol yang diumumkan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

"Keuntungan seperti diskon yang banyak, karena pembelian langsung dari pemerintah ke pemerintah, atau G to G, namun hingga saat ini kami belum mengetahui kelanjutan transparansi impor Sonangol,” ujar Kardaya, saat dikonfirmasi.

Dalam perjanjian awal, Sonangol bersedia memberikan diskon sebesar US$ 15 setiap barel minyak yang dibeli Pertamina. Anehnya, pada 18 November 2014 Pertamina mengirim surat ke Sonangol tentang 'Counter To The Proposed Contractual Volume 2015'.

Tanggal 20 November 2014, Sonangol membalas surat dari Pertamina. Isinya, Sonangol tidak bisa memberikan diskon US$ 15 setiap barel minyak yang dibeli oleh Pertamina. Sonangol bilang, kerja sama pembelian minyak itu masih mengacu pada harga pasar.

Pertanyaannya, apakah Pertamina membeli minyak mentah dari Sonangol berdasarkan harga pasar? Kabar terakhir menyebutkan skema pembelian itu menggunakan B to B, bukan G to G. Kalau memang demikian, ISC membeli minyak mentah dari Sonangol berdasarkan harga pasar. Artinya, tak ada diskon US$ 15 per barel.

Tidak adanya diskon itu, karena Angola termasuk anggota negara eksportir minyak (OPEC). "Diskon itu berada di kebijakan negara, pembeliannya pun G to G, yang terikat dengan harga OPEC. Tapi ini kan B to B, Pertamina membeli ke Sonangol sudah tentu dengan harga pasar," ungkap pakar energi dari Universitas Indonesia, Profesor Iwa Garniwa.

Seperti diberitakan sebelumnya, impor minyak dari Angola dilakukan Pertamina dengan membelinya dari Sonangol EP Angola. Sekedar informasi, Grup Sonangol adalah kongsi lama Surya Paloh dengan konglomerasi China yang diketahui bernama Sam Pa. Ia dianggap media-media Barat sebagai pemilik China International Fund (CIF). Dan Sam Pa ini memiliki koneksi sangat kuat dengan para kepala negara di Afrika dan Amerika Latin.

Sebelumnya, diberitakan dengan ditandatangani kontrak pembelian minyak Angola ini, Indonesia memperoleh diskon USD15 per barel atau menghemat Rp30 miliar per hari.

"Kebohongan berjemaah setelah pernyataan Presiden dan Menteri tidak bisa dipercaya. Pasalnya bakal susah juga pada jajaran di bawahnya. Terjadi perbedaan antara Pertamina, Menteri BUMN dan Menteri ESDM. Siapa yang melakukan kesalahan?" ujar Iwa.

Sebelumnya juga, Menteri ESDM Sudirman Said pernah mengatakan, bahwa antara Pertamina dan Sonagol akan membentuk perusahaan bersama di Indonesia. Kedua perusahaan itu juga akan membangun kilang di wilayah Indonesia sehingga bisa meningkatkan volume minyak yang diproduksi.

Sudirman memperkirakan, dalam satu hari, diprediksi akan ada 100.000 barrel yang dihasilkan dari kilang minyak tersebut. "Hipotesisnya kalau dapat 100.000 barrel, seperempatnya impor dan kita punya satu perusahaan yang memiliki suplai berkelanjutan, maka tinggal bicara harga. Kalau dapat 100.000 barrel, sehari bisa hemat 2,5 juta dollar," kata Sudirman. Dengan angka tersebut ada diskon harga 25%, tambahnya.

Menurut Sudirman, dengan diskon 25%, seharusnya Pertamina mendapat harga lebih murah 15 dolar AS, berarti harga patokan dasar Sonangol adalah USD60/barel. (Epan Hasyim)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login