IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , , » Kideco Rayu Pertamina Produksi Ethanol untuk Tekan Impor BBM

Kideco Rayu Pertamina Produksi Ethanol untuk Tekan Impor BBM

Written By Indopetro portal on Saturday, 21 February 2015 | 20:37

indoPetroNews.com-Perusahaan Batubara asal Korea, PT. Kideco Jaya Agung, berencana membangun pabrik ethanol dari pencarian batu bara. Perusahaan tersebut akan menggandeng Pertamina. Sesuai porsinya, nantinya ethanol tersebut akan dicampur dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium.

President Commisioner PT. Kideco, Bambang Setiawan dalam kesempatan berbincang dengan indopetroNews.com, Sabtu (21/2), di kantornya, di Jakarta, mengatakan selama ini dalam setiap pembuatan BBM bersubsidi, dibutuhkan maksimal 30 persen Ethanol. Sayangnya pemenuhan produk petrokimia itu sebagian mengandalkan impor, karena sebagai bahan baku utamanya, minyak di Indonesia sangat terbatas.

Dia mengakui proyek ramah lingkungan ini sangat sejalan dengan program hilirisasi pemerintah, sekaligus mengatasi masalah ketersediaan bahan bakar dalam negeri. Rencananya untuk produksi akan diambil lahan di Kalimantan dan beberapa lokasi eksplorasi PT. Kideco Jaya Agung lainnya. “Untuk itu kita sedang menjajaki dengan Pertamina. Sehingga jika sudah okay, kita akan ambil lahan di Kalimantan Timur, dan beberapa lahan di lokasi lainnya. Terserah Pertamina nantinya mau yang mana,” kata Bambang.

Menurut mantan Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) ini, memanfaatkan coal atau batu bara tersebut untuk diubah menjadi Ethanol dapat mengurangi impor BBM dalam negeri. Dalam hitung-hitungan yang disampaikan Bambang, 1 juta ton Ethanol hanya membutuhkan 7,5 juta ton batu bara. “Ya bayangin aja, kalau selama ini kita bisa produksi 100 juta ton coal, maka kita sudah menghasilkan 25 juta kilo liter Ethanol. Berarti kita tidak perlu mencari pasar ekspor lagi,” ujarnya.

Bambang juga mengklaim jika BBM dicampur dengan 30 persen Ethanol tidak akan merusak mesin kendaraan dan itu sudah maksimal. Meski pertumbuhan kendaraan di Indonesia terus meningkat produksinya, namun negara tidak perlu melakukan impor lagi. “Saat ini untuk 10.000 liter BBM, pemerintah sudah memberi Rp. 60.000 ke kita. Kan yang buat kita konyol adalah subsidinya,” ujarnya.

Bambang membandingkan jika di negara Thailand yang tidak memiliki batu bara, lebih dominan dalam menggunakan bahan bakar. Saat ini Thailand sedang mengembangkan Ethanol 70 persen. Mesin kendaraan mereka juga sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat disesuaikan dengan kadar bahan bakar tersebut. “Kalau kita tidak punya itu, dan kita hanya punya batubara. Ya jadi dari itu saja yang kita buat. Sebenarnya kalau itu terjadi kita bisa membantu produksi impor dan bisa membantu coal dalam negeri yang harganya terpuruk dan susah menjualnya,” kata Bambang.

Kerjasama ini guna mengantisipasi pertumbuhan permintaan bahan bakar jenis Premium yang pada 2020 diperkirakan mencapai 3 sampai 4 juta ton. Sehingga nantinya Ethanol yang dihasilkan dari pencarian batu bara ini dapat dicampurkan pada Premium sebesar 30 persen, dan diharapkan dapat mengatasi lonjakan permintaan Premium tersebut.

Energi Baru Terbarukan akan Digunakan Masyarakat Jika BBM Tidak Disubsidi

Independent Commissioner PT. Golden Eagle Energy Tbk. ini juga terlihat pesimis dengan program pemerintah dalam menggunakan energi baru terbarukan. Pasalnya energi baru terbarukan akan digunakan masyarakat jika harga minyak naik atau sudah tidak lagi disubsidi pemerintah. Dan kemajuan dari energi baru terbarukan pasti sangat cepat.

“Ini kasusnya sama dengan peraturan pemerintah yang mengatakan harus coal-upgrading. Sehingga yang dicari saat ini bagaimana coal-upgrade ini biaya lebih rendah dari pada energi yang real. Sehingga dapat digunakan di pasar,” ujarnya.

Menurut Bambang saat ini yang dikejar untuk coal-upgrading bukan lagi persoalan teknologi, melainkan keekonomiannya. Sehingga yang dicari adalah bagaimana harga batubara dapat naik dan coal-upgrading dapat digunakan di pasar. Saat ini yang dikejar untuk coal upgrade ini bukan lagi persoalan teknologi, sebab setau saya teknologinya sudah ada, akan tetapi keekonomiannya saat ini yang sedang digodok dan masuk di pasar.

Sehingga menurut Bambang, yang dicari saat ini bagaimana upgrade coal ini biaya lebih rendah dari pada energi yang real. Sehingga dapat digunakan di pasar. Missal, kalori yang ingin dinaikkan 4000 gar ingin dinaikkan menjadi 5000 gar. Jarak antara 4000 ke 5000 gar itu harus lebih rendah dari 5000 gar yang masuk suplayer. Kalau dia lebih tinggi dia tidak akan kompetitif. "Jadi jelas yang menjadi masalah adalah keekonomian. Akan tetapi keekonomian ini baru bisa jalan apabila harga batubara itu naik. Sehingga upgrade coal itu bisa jalan," katanya.

Dia menambanhkan,  jika harga tinggi, otomatis akan memotivasi setiap industri untuk melakukan coal upgrade. "Kalau harga rendah siapa yang mau mengupgrade?" tanyanya.

Bambang menutup, lebih baik dia menunggu sampai harga itu tinggi, ya sebab mau ngapain para industri itu lagi. Karena yang bagus aja dia murah. Sehingga ini bukan persoalan teknologi lagi.(Epan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login