IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Krisis Gas di Sumut Sudah Belasan Tahun, Pengusaha Kirim Surat ke Presiden

Krisis Gas di Sumut Sudah Belasan Tahun, Pengusaha Kirim Surat ke Presiden

Written By Indopetro portal on Monday, 9 February 2015 | 14:40

indoPetroNews - Krisis gas di Sumatera Utara (Sumut) yang sudah melanda sejak tahun 2000, ternyata tak kunjung teratasi. Bahkan kini semakin parah. Krisis itu telah menyebabkan para pengusaha di Sumut pusing tujuh keliling.

Asosiasi pengusaha di Sumatera Utara, seperti Apindo, Kadin dan Apigas pun harus kembali melaporkan/mengadukan kondisi krisis dan tata kelola gas di daerah itu kepada Presiden untuk mendapatkan solusi secepatnya.

"Krisis gas yang sudah terjadi sejak 2000 belum juga teratasi bahkan semakin parah. Makanya pengusaha kembali melaporkan ke Presiden Jokowi (Joko Widodo)," kata Wakil Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Johan Brien, saat dihubungi, Senin (9/2).

Dari data yang diperoleh, minimal kebutuhan gas di Sumut sebesar 29,54 million standard cubic feet per day (mmscfd), alokasi dewasa ini tinggal hanya sekitar 7 mmscfd termasuk satu mmscfd dari Gas Benggala. Padahal, daftar tunggu perusahaan yang membutuhkan gas mencapai 140 mmscfd.

Menurut Johan yang juga Ketua Asosiasi Perusahaan Pemakai Gas Indonesia (Apindo) Sumut, surat ke Presiden itu sudah dikirimkan tanggal 28 Januari 2015. Harapannya Presiden Jokowi menyelesaikan krisis gas di Sumut dalam Kabinet Kerja.

"Pengusaha berharap besar, Presiden Jokowi bisa menyelesaikan krisis gas itu dalam tahun ini seperti permasalahan lainnya," katanya.

Menurut dia, masih belum terpenuhinya juga kebutuhan gas itu menimbulkan kesulitan kepada pengusaha. Para pengusaha merasa dirugikan, akibatnya sudah ada pengusaha yang menghentikan produksinya, karena tidak dapat memaksimalkan kapasitas dan menaikkan biaya produksi. Perusahaan Eco Green, salah satu korban yang menghentikan produksinya pada Januari lalu.

"Biaya produksi semakin besar, karena pengusaha harus menambah biaya operasional untuk menggantikan gas dengan jenis bahan bakar lainnya. Tentunya kondisi itu tidak sehat dalam meghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah dimulai tahun ini," katanya.

Johan menjelaskan, tahun 2001 PGN menjanjikan kepada Pemerintah Provinsi Sumut dan pihak industri akan membangun pipa yang dapat mengalirkan gas dari Duri-Dumai ke Medan. Tetapi pada saat hendak dibangun tidak mendapatkan izin dari pemerintah pusat.

Sebagai informasi sebelumnya pada 2010, PGN kalah tender dengan PT Pertiwi Nusantara Resources dan terpaksa membeli gas dari trader tersebut dan mengakibatkan harga gas mengalami kenaikan. Trader itu sendiri bermunculan dengan adanya Permen ESDM No.19 tahun 2009. Tanpa membangun infrastruktur, cukup modal laptop dan koneksi dapat jadi trader.

Tahun 2009 rencana pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FRSU) Belawan sudah dilakukan PGN agar "on stream" pada bulan Oktober 2013. Namun, FRSU yang sudah dibangun PGN pada 2012 akhirnya juga dipindahkan oleh menteri BUMN Dahlan Iskan ke Lampung, walaupun PGN telah mengantongi inpres tentang itu.

Alasan Dahlan Iskan bahwa bulan Oktober 2013 gas dari Arun ke Belawan sudah dapat dialirkan ke Medan. Namun, janji Dahlan Iskan tak kunjung terwujud.

Janji solusi alternatif yang akan diberikan Pemerintah melalui Pertamina ke industri Sumut dengan harga gas Arbel yang tidak mahal juga diyakini tidak terwujud diduga menggunakan "trader".

"Yang dibutuhkan Sumut sebenarnya adalah gas bukan perlu infrastruktur Arbel yang 340 KM. Yang perlu bagi industri untuk menunjang pertumbuhan Sumut adalah solusi," kata Johan. Kalau saja FRSU di Belawan tidak dibatalkan dan dipindahkan ke daerah lain, maka kemungkinan besar masalah kekurangan gas dan harga gas yang mahal di Sumut tahun ini sudah selesai. (Epan Hasyim)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login