IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Mantan Kepala BP Migas : Nasionalisasi itu Urutan Paling Akhir

Mantan Kepala BP Migas : Nasionalisasi itu Urutan Paling Akhir

Written By Indopetro portal on Friday, 27 February 2015 | 13:48

indoPetroNews.com - Mantan Kepala BP Migas (saat ini SKK Migas) Raden Priyono menyatakan ketidaksetujuannya jika kontrak blok migas yang habis tersebut diambil alih oleh pemerintah atau dinasionalisasi.

"Saya kira itu (Nasionalisasi) di urutan terakhir, karena tanpa nasionalisasi pun kita sebenarnya bisa mendapatkan banyak untuk negara. Karena kalau kita mau masuk globalisasi lalu kita bicara nasionalisasi saya rasa agak lucu. Ini mau kemana sih negara ini, kita mau mengakui adanya globalisasi atau kita mau sendirian dalam politik global energi," ujar Priyono, di Jakarta, Jumat (27/2).

Ia mencontohkan, sekelas negara adi daya seperti Amerika Serikat pun sangat membutuhkan keberadaan investor asing. Hal itu dilakukan guna menghindarkan negara dari risiko. "Amerika saja, satu negara yang kapitalis, mereka membutuhkan investasi asing. Apalagi kalau bicara migas, sebab nilai investasinya bukan 1 miliar atau 10 milyar, namun triliunan," jelasnya.

Artinya bahwa, apakah nasional memiliki kapasitas seperti itu? Menurut Priyono, undang-undang migas itu mengatakan bahwa risiko itu tidak boleh ada di negara. Artinya jangan sampai juga asing itu bangkrut karena berinvestasi ke sesuatu yang berisiko tinggi.

"Untuk nasionalisasi enggalah, tapi memihak kepada kepentingan nasional itu wajib. Caranya aja yang di sesuaikan dengan jaman. Pasalnya satu triliun hilang dalam tujuh bulan misalnya, dan tidak ada barangnya kalau gagal," ujarnya.

Priyono juga menyebut bahwa perusahaan asing yang kontraknya akan habis dan tidak menunjukan aktivitas positif untuk untuk perpanjangan maka sudah sepatutnya diputus kontrak.

"Kalau habis dan tidak menunjukan suatu aktivitas yah diputus saja kontraknya. Diberikan kepada yang berminat, kemudian dilihat lagi yang berminat itu apakah memenuhi persyaratan secara finansial, masalah tenaga ahlinya, dan pengetahuan lapangannya," katanya.

Lebih lanjut, ketika dimintai pendapatnya terkait industri dan kinerja Kementerian ESDM dan Pertamina saat ini, Priyono enggan berkomentar banyak. "Terlalu prematur menguji satu kinerja migas dalam waktu 3-4 bulan ini. Kalau 6 bulan sampai 1 tahun baru bisalah," tutupnya.
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login