IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , » Arifin Panigoro: Minyak Impor Menguras Kas Negara, Krisis Energi Bukan Lagi Ilusi

Arifin Panigoro: Minyak Impor Menguras Kas Negara, Krisis Energi Bukan Lagi Ilusi

Written By Indopetro portal on Saturday, 14 March 2015 | 21:32

indoPetroNews.com -  Pemimpin grup usaha Medco, Arifin Panigoro memberi sinyal ancaman krisis energi bagi Indonesia.  "Krisis energi bukan lagi ilusi. Listrik yang byar pet di beberapa daerah, besaran total impor minyak yang menguras kas negara, akan makin berat buat Indonesia jika tidak mampu mencukupi kebutuhan energi nasional," kata Dia pada sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu, (14/3).

Menurut Arifin, kebutuhan energi di Indonesia dalam prognosa akan tumbuh berlipat ganda seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional.  Mengutip hasil penelitian Price Waterhouse Cooper (PWC), Dia memaparkan, Indonesia akan menjadi negara dengan gross domestic product (GDP) terbesar kelima di dunia pada 2030. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi ini tak syak lagi perlu pasokan energi yang cukup. Artinya, kalau di dalam negeri tidak ada ya harus impor. "Apa mau kita hidup bergantung pada pasokan energi dari luar negeri,” ujar Arifin.

Dia memaparkan, dewasa ini kebutuhan energi nasional mencapai 4,5 juta barel setara minyak per hari. Jumlah ini akan meningkat jadi 7,7 juta barel setara minyak per hari pada tahun 2025. Padahal kemampuan produksi minyak nasional di bawah 800 ribu barel per hari. Kemampuan ini terus menurun hingga 453 ribu barel per hari dalam sepuluh tahun mendatang seiring dengan merosotnya oil lifting nasional. Kondisi ini, Arifin mengingatkan, akan makin memburuk karena cadangan minyak Indonesia tinggal 3,7 miliar barel yang akan habis dalam waktu sebelas tahun mendatang. “Ini wake up call bagi semua pihak, dari Presiden, Menteri, kalangan usaha hingga generasi muda bahwa Indonesia dalam krisis energi,” tegas Arifin.

Kondisi buruk ini bukannya tanpa ada solusi. Dalam pandangan Arifin, sebenarnya Indonesia memiliki anugerah alam untuk menjawab krisis energi tersebut, yakni melalui pengembangan “energi terbarukan berbasis nabati seperti green diesel dari kelapa sawit.” Indonesia adalah jawara produsen crude palm oil (CPO) atau minyak sawit yang mencapai 30 juta ton per tahun. Jumlah produksi CPO ini bisa ditingkatkan dengan pengembangan lahan-lahan kritis di tanah air sebagai “kebun energi berbasis kelapa sawit. Kini ada sekitar 82 juta hektar lahan kritis dalam studi Bappenas. Kita perlu setidaknya 10 juta hektar di antaranya untuk pengembangan green diesel berbasis kelapa sawit,” Arifin menambahkan.

Pengembangan lahan kritis sebagai kebun energi ini mesti diikuti oleh dukungan kebijakan atau affirmative policy dari pemerintah. Baik dari sisi regulasi terkait konversi lahan kritis tersebut, pelibatan generasi muda sebagai leader dalam kebun energi, dukungan akses keuangan (financial inclusion), hingga off-taker dari produksi green diesel oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Pertamina atau PLN.

Upaya mempercepat pengembangan industri green diesel membutuhkan dukungan yang luar biasa, baik dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat terutama para petani. Dalam paparannya di diskusi tersebut, Arifin Panigoro menyebutkan perlunya menggunakan konsep financial inclusion dengan menggandeng ribuan pengusaha kelas menengah agar muncul pengusaha pengusaha nasional yang baru di sektor energi nabati.

Arifin dalam diskusi ini juga mengingatkan perlunya perhatian pada masalah pangan yang akan menjadi tantangan besar bangsa Indonesia di masa depan. Diperkirakan kebutuhan konsumsi beras pada 2025 akan mencapai 39,2 ton dengan jumlah penduduk pada saat itu sekitar 282 juta jiwa. Oleh karena itu diperlukan tingkat produksi yang mampu mengamankan kebutuhan beras di dalam negeri.

Selain program intensifikasi dan perbaikan infrastruktur, salah satu hal yang perlu dilakukan dalam usaha meningkatkan produksi beras nasional saati ini adalah pencetakan lahan sawah baru. Menurut Arifin Panigoro, Indonesia membutuhkan tidak kurang (1) satu juta hektar lahan sawah baru. Di setiap 5.000 hektar sawah itu perlu dibangun pabrik beras dengan kapasitas 40 ribu ton gabah kering giling per tahun. “Gagasan-gasasan dalam usaha mencapai kemandirian pangan dan energi ini membutuhkan dukungan semua pihak," pungkasnya. Aldi




Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login