IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Balongan Menjadi Alternatif Pengganti Pelabuhan Cilamaya

Balongan Menjadi Alternatif Pengganti Pelabuhan Cilamaya

Written By Indopetro portal on Tuesday, 10 March 2015 | 21:59

indoPetroNews.com - Pembangunan pelabuhan di Cilamaya, Jawa Barat, terus menjadi pro dan kontra. Selain Pertamina, beberapa kalangan juga ikut menolak pembangunan yang rencananya dikerjakan oleh Jepang itu.

Vice President Management Representative SKK Migas at KKKS ConocoPhilips, Elan Biantoro mengatakan, SKK Migas akan mengusulkan pembangunan pelabuhan dipindahkan ke Balongan.

"Lebih baik di Balongan, tidak perlu investasi lebih mahal seperti membangun pelabuhan di Cilamaya. Harusnya alternatif itu jalan. SKK Migas boleh bangun duluan, tapi jangan mengganggu kepentingan lain," ujar Elan, di sela acara Diskusi bertajuk 'Pembangunan Cilamaya untuk Siapa' yang digelar Pemuda Progresif Gerakan Masyarakat Tolak Pelabuhan Cilamaya, di Hotel Grand Alia, Cikini Jakarta, Selasa (10/3)

Dengan dilakukannya pembangunan pelabuhan di Cilamaya tersebut, menurut Elan, banyak yang dirugikan, antara lain pasokan listrik ke Muara Karang menjadi berkurang, pabrik semen mati, pabrik pupuk Kujang mati.

"Belum lagi pemasukan minyak yang sebesar 40 ribu bph untuk negara bisa menurun. Jadi, pendapatan yang seharusnya kira-kira sebesar US$ 2 juta per hari, dan dalam satu bulan US$750 miliar menjadi jauh berkurang. Kita akan masuk di Tim yang dari BPPT," tegasnya.

Hal senada juga dikatakan Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara. Dirinya berpendapat seandainya pelabuhan di Cilamaya itu jadi dibangun, dan secara nasional ada manfaatnya bagi masyarakat dan negara, tentunya akan didukung secara penuh.

"Kita tidak menolak pembangunan pelabuhan tapi yang ditolak pembangunannya di Cilamaya. Kalau mau bangun buat kajian baru dan terbuka mengikuti tata ruang yang ada, tidak seperti ini pembangunan mau ada, dan tata ruangnya menyusul," ungkap Marwan.

Kedua, lanjut Marwan, dari rencana pembangunan banyak aspek yang harus dipertimbangkan. Antara lain dalam rencana pembangunan pelabuhan tersebut adalah aspek energi migas, pangan, pertanian, kelautan dan lainnya.

"Sudah saatnya Menko Perekonomian berbicara, Menteri ESDM Sudirman Said berbicara, tidak Menko Maritim, Menko Pertanian yang berbicara atau Presiden juga harus berbicara. Kalau Jonan sudah seperti bawa-bawa preman," ungkap Marwan.

Menurut Dia, ada koordinasi untuk aspek komprehensif, jadi tidak hanya berbicara aspek asing. Migas dari sektor energi itu tidak diperhatikan. "Jadi jelas kita menolak bangun Cilamaya," jelas Marwan. Ehs
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login