IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Pelabuhan Cilamaya : Proyek B to B, Dampak G to G

Pelabuhan Cilamaya : Proyek B to B, Dampak G to G

Written By Indopetro portal on Wednesday, 11 March 2015 | 22:56

indoPetroNews.com - Rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya menuai polemik. Pembangunan pelabuhan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat itu dinilai akan mengancam produksi sumur minyak dan gas (Migas) yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Keberadaan pelabuhan di kawasan penghasil utama beras di tingkat nasional itu juga mengancam produksi beras nasional.
Pelabuhan Cilamaya 3d

Blok Migas ONWJ mempunyai arti penting bagi industri migas nasional karena merupakan produsen keempat terbesar di Indonesia. Data SKK Migas, mencatat produksi PHE ONWJ terus meningkat sejak tahun 2009 lalu. Tahun ini, SKK Migas menargetkan angka produksi hingga 40.600 barel per hari (bph) dari angka semula sebesar 39.400 Bph.

Selain menyuplai BBM, Blok ONWJ juga memasok gas bagi pembangkit listrik milik PLN di Jakarta serta memasok gas untuk PT Pupuk Kujang dan BBG. Blok ONWJ juga menjadi penyumpang pemasukan bagi APBN hingga sekitar Rp20 triliun per tahun. Pertamina mengklaim, pembangunan pelabuhan Cilamaya bisa menghentikan eksploitasi migas ONWJ dan berpotensi menimbulkan kerugian mencapai US$12,3 miliar.

Kontroversi bermula saat Jepang berencana melakukan relokasi pabriknya ke wilayah Kabupaten Karawang dengan membangun kawasan industri sekaligus membangun Pelabuhan Cilamaya. Hal tersebut diungkapkan oleh MS Hidayat, mantan Menteri Perindustrian di era Pemerintahan Presiden SBY. Menurutnya, Pelabuhan Cilamaya itu termasuk dalam program Metropolitan Priority Area (MPA) yang masuk dalam proyek unggulan Indonesia. Jepang kemudian berniat untuk membantu pembiayaan beberapa proyek yang masuk dalam MPA.

"Jadi kalau G to G (Goverment to Goverment) sudah tercapai waktu saya sama Pak Hatta Rajasa [Mantan Menko Perekonomian era presiden SBY] berkunjung ke Jepang. Di MPA itu sudah disepakati itu akan ada rel kereta dan kereta api, ada pembangunan proyek otomotif, dan yang terpenting adalah Pelabuhan Cilamaya," kata Hidayat, Rabu (11/3).

Hidayat menjelaskan bahwa Pelabuhan Cilamaya akan dibangun sebagai penunjang pelabuhan yang ada, yakni sebagai penunjang pelabuhan laut yang akan dipakai untuk menyalurkan komoditas ekspor dan impor dari dan ke Jepang. Pembangunan pelabuhan, kata Hidayat, akan menggunakan sistem build, operate and transfer (BOT).

"Jadi dia (Jepang) yang bangun, dia yang operasikan. Nanti dia transfer balik ke Indonesia sebagai aset milik negara. Itu betul-betul business to business," katanya.

Namun rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya itu dikritik Direktur Utama PT Pelindo II, Richard Joost Lino. Menurutnya, proyek tersebut berpotensi mematikan bisnis di Pelabuhan Tanjung Priok. Padahal saat ini Pelindo II tengah membangun Pelabuhan New Tanjung Priok di wilayah Kalibaru yang berkapasitas 5 juta hingga 14 juta TEUs pertahun.

"Kalau tidak terkonsentrasi pelabuhannya, nanti malah tidak ada kapal yang ke Indonesia. Semuanya lari ke Singapura. Tidak ada kapal besar yang mau masuk kalau ada Priok dan Cilamaya. Kalau kapal kecil yang masuk, akan mahal," kata Lino.

Di pihak lain, Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan menegaskan, pembangunan Pelabuhan Cilamaya mutlak diperlukan. Permasalahan yang dikhawatirkan banyak pihak, seperti soal pipa migas dan kawasan pertanian, menurutnya dapat diselesaikan dengan menggeser tata letak pelabuhan. Kajian tersebut sedang dilakukan oleh Bappenas. "Pokoknya begini, Presiden inginnya biaya logistik turun. Sekarang bagaimana mau turun, kalau (Pelabuhan) Tanjung Priok tidak ada saingannya," ujarnya.

Kepala Bappenas Andrinov Chaniago dalam beberapa kesempatan mengatakan tengah melakukan kajian mendalam terkait pembangunan Pelabuhan Cilamaya. Menurutnya, kajian tersebut meliputi beberapa penyelesaian masalah, seperti kajian tentang gangguan keberadaan pelabuhan terhadap jalur pipa migas PHE-ONWJ, serta kemungkinan menggeser lokasi pelabuhan ke daerah yang lebih kondusif.

"Semua masalah pasti dicari solusinya. Tidak mungkin pipa migas ditabrak," kata Andrinov.Ehs
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login