IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Pensiunan Karyawan Pertamina Geram, Keputusan Blok Mahakam Berjalan Lamban

Pensiunan Karyawan Pertamina Geram, Keputusan Blok Mahakam Berjalan Lamban

Written By Indopetro portal on Thursday, 26 March 2015 | 12:54

Ketua Espekape Binsar Effendi Hutabarat
indoPetroNews.com - Berlarut-larut dan belum juga menghasilkan keputusan, pemerintah dinilai lamban dan terkesan ragu-ragu untuk memutuskan pengelolaan Blok Mahakam yang berada di Kalimantan Timur.

Blok yang saat ini dikelola PT. Total E&P Indonesie dan Inpex, akan habis masa kontraknya pada Desember 2017 ini. Dan pemerintah menggadang-gadang akan melanjutkan pengelolaannya sebesar 100 persen kepada PT. Pertamina (Persero). Namun pemerintah belum juga memberi kepastian, kapan kontrak yang baru, segera ditandatangani oleh Pertamina.

Hal ini membuat Ketua Umum Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (eSPeKaPe), Binsar Effendi Hutabarat merasa geram. Dirinya mengatakan semua persyaratan dari pemerintah sudah dipenuhi, bahkan Pertamina sudah menyampaikan nilai investasi Blok Mahakam, setelah diambil alih pasca-terminasi kontrak Total dan Inpex pada 2017, sebesar US$ 25,2 miliar selama 20 tahun.

"Lalu apanya yang mesti dilengkapi lagi. Sejak 2008 proposal kesiapan mengelola blok Mahakam sudah disampaikan kepada pemerintah," ujar Binsar Effendi yang juga Ketua Komunitas Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB ’66) dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis (26/3).

Diketahui, pada saat Plt Direktur Utama Pertamina, M Husen di bulan November 2014 juga sudah disampaikan surat resmi kepada Menteri ESDM Sudirman Said, yang dengan tegas menyatakan Pertamina siap kelola Blok Mahakam. Menyusul pada 7 Maret lalu, Pertamina telah mempresentasikan proposal kesanggupan mengelola Mahakam di Kementerian BUMN. Dalam pertemuan yang dihadiri antara lain Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri BUMN Rini Soemarno, Wamenkeu Mardiasmo, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi dan Dirut Pertamina Dwi Soetjipto sendiri.

Dengan jelas Menteri ESDM katakan, atas presentasi tersebut, Pemerintah berkeyakinan Pertamina sanggup mengelola Mahakam pasca 2017. Bahkan Pemerintah telah menargetkan penandatanganan kontrak kerjasama Blok Mahakam dengan Pertamina bisa dilakukan pada 2015 meski berlaku setelah 2017.

Lalu, apa lagi kekurangannya?” tanya Binsar Effendi kesal.

Adanya kendala yang butuh menganalisa lebih lanjut untuk bagaimana supaya jangan ada penurunan produksi ketika di awal pengambilalihan lahan, kata Binsar Effendi, berarti baik di pihak Pemerintah maupun Pertamina sendiri masih ada keragu-raguan.

“Padahal Blok Mahakam bernilai strategis karena saat ini produksi mencapai 280.000 barel setara minyak per hari. Asalkan proses transisi Blok Mahakam harus berjalan mulus, sehingga produksi tetap terjaga. Itu saja, kok masih ragu-ragu”, ungkapnya.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, pernah mengungkapkan yang menjadi masalah pada proposal pengelolaan blok Mahakam adalah pelemahan rupiah saat ini, dan bagaimana proyeksinya ke depan. itu yang mesti dilengkapi perseroan.

"Jadi berkaitan dengan ekonomi makro, misalnya harga minyak dunia bisa rendah bisa tinggi, lalu seperti apa pertamina akan melengkapi proposalnya disitu," ujar Wianda. (Ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login