IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Lifting Migas di Pertanyakan DPR

Lifting Migas di Pertanyakan DPR

Written By Indopetro portal on Monday, 27 April 2015 | 17:09

Lifting Migas
indoPetroNews.com - Selama 10 tahun terakhir, realisasi lifting minyak tidak pernah mencapai target. Selain tak memenuhi target, sejak 2004 minyak yang diproduksi juga terus menurun, dari 1.037,8 ribu barel per hari (bph) menjadi 794 ribu (bph) pada 2014. Padahal pada 2003, realisasi sempat lifting sempat surplus 52 ribu bph dari target APBN-P 2003, 1.092 ribu bph.

Realisasi lifting minyak sempat mendekati target yang ditetapkan APBN-P 2009 dan 2010. Bahkan pada 2010, selisih antara target dengan realisasi sempat mencapai 11,1 ribu bph. Namun selisihnya kembali melebar hingga 128,7 ribu bph pada 2013. Adapun penentuan target lifting dalam APBN-P 2015 lebih rendah dari prediksi sebelumnya yang sebesar 849.000-900.000 bph.

Anggota Komisi VII DPR, Totok Daryanto mengatakan, banyak faktor yang membuat target lifting minyak dan gas bumi yang makin anjlok. Contohnya, perizinan yang berbelit-belit, punya target pada perizinan yang sudah berjalan agar diusahakan tepat waktu, sehingga tidak mengganggu target lifting.

Saat ini tidak ada progres berarti dalam solusi SKK Migas, dalam beberapa tahun belakangan ini SKK Migas ternyata mengalami banyak kebuntuan. Hal itu karena lemahnya koordinasi dan minim terobosan, padahal sudah ada insentif yang diberikan oleh Pemerintah selama ini.

“Kita memang tidak sedang menyederhanakan persoalan, tapi jika setiap tahun SKK Migas mengungkapkan permasalahan serupa namun tak berubah dan tak ada kemajuan, sehingga sangat wajar lifting kita terus merosot setiap tahun,” kata Totok dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (27/4).
Totok menegaskan, persoalan teknis yang dihadapi SKK Migas sesungguhnya merupakan masalah alami. Oleh karena itu, menurutnya yang terpenting adalah solusi untuk mengatasinya. Terlebih, ia mengingatkan bahwa tahun ini merupakan tenggat akhir realisasi produksi minyak nasional yang telah diamanatkan Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2012. Peraturan tersebut memuat instruksi presiden agar produksi minyak nasional paling minimal di tahun 2014 mencapai 1,01 juta barel per hari.

“Inventarisasi masalah telah cukup banyak dilakukan selama ini oleh SKK Migas, baik dari internal maupun eksternal. Oleh karenanya pada akhirnya tinggal kemampuan ruang eksekusi dan koordinasi yang lebih intensif dengan pemangku kepentingan lain. Kemudian pemerintah harus mendorong percepatan regulasi dan birokrasi yang lebih efisien karena hal itu telah menjadi kendala non-teknis signifkan dalam eksplorasi maupun eksploitasi migas,” katanya.

Kontributor  : Epan/Aldi
Editorial       : Budi RM
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login