IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Ada Maksud Terselubung dalam Pembubaran Petral?

Ada Maksud Terselubung dalam Pembubaran Petral?

Written By Indopetro portal on Saturday, 23 May 2015 | 17:29

indoPetroNews.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said menuding pemberantasan mafia migas pada masa pemerintahan lalu selalu berhenti di meja sang Presiden. Pernyataan tersebut langsung membuat mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi berang.

Lewat akun Twitter-nya pada Senin malam (18/5), SBY mengaku terkejut atas tudingan itu. "Saya amat terkejut dengan pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said yang menyerang dan mendiskreditkan saya, ketika menjadi Presiden dulu," kata SBY. Ia pun meminta Sudirman melakukan klarifikasi hal tersebut. Karena, menurut dia, saat dirinya masih menjadi presiden, penyimpangan apa pun diberantas. Malah, kata SBY, pemerintahannya membentuk Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, yang hakikatnya memberantas kejahatan dan penyimpangan apa pun.

Menyangkut Petral, SBY menegaskan tidak pernah menerima usulan soal pembubaran anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut. "Saya tertib dalam manajemen pemerintahan. Isu serius seperti mafia migas, pasti saya respons. Tidak mungkin berhenti di meja saya," ujarnya. Bahkan, tambahnya, dirinya telah memanggil dan berdiskusi dengan mantan Wapres Boediono dan lima mantan menteri terkait apakah memang pernah ada usulan pembubaran Petral. Semua menjawab tidak pernah ada. Termasuk tidak pernah ada tiga surat yang katanya pernah dilayangkan oleh Menteri BUMN saat itu, Dahlan Iskan.

"Berita ini saya pandang sudah termasuk fitnah dan pencemaran nama baik. Saya menunggu klarifikasi dari pihak-pihak yang menyebarkan. Mungkin tidak mudah menghadapi yang tengah berkuasa sekarang ini. Tetapi, kebenaran adalah power yang masih saya miliki," kata SBY. SBY juga menegaskan, dirinya selama jadi presiden tidak pernah mengintervensi BUMN mana pun, termasuk urusan tender dan bisnisnya. Dalam pengelolaan BUMN, dirinya ketika itu berpesan agar semua BUMN berkembang baik, bayar pajak, dan deviden, tidak ada korupsi, dan jangan pula jadi sapi perah.

"Sebenarnya saya mendukung upaya pemerintahan Presiden Jokowi untuk melakukan penertiban, karena setiap presiden hakikatnya juga begitu. Tetapi kenapa harus terus menyalahkan pemimpin dan pemerintahan sebelumnya? Popularitas bisa dibangun tanpa menjelekkan pihak lain. Tuduhan dan fitnah yang disampaikan Menteri ESDM dan pihak-pihak tertentu sulit saya terima. Rakyat Indonesia, doakan saya kuat menghadapi," tegas SBY lagi.

Pemerintahan Jokowi memang telah membubarkan Petral pada 13 Mei lalu karena diduga menjadi sarang mafia migas. Kini peran Petral dalam kegiatan ekspor dan impor minyak Pertamina dialihkan ke PT Pertamina Integrated Supply Chain (ISC Pertamina). Sebenarnya, Faisal Basri juga ikut menuding SBY menyangkut Petral. Dalam diskusi “Energi Kita” pada Ahad lalu (17/5), mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (Tim Anti Mafia Migas) itu mengatakan, “Ingat Pak Dahlan Iskan mau bubarkan itu tapi enggak bisa, dan malah dipanggil presiden tiga kali. Pemanggilan itu tidak membubarkan Petral,” kata Faisal.

Benarkah Dahlan Iskan seperti disebutkan Sudirman Said dan Faisal Basri? Dalam sebuah kolomnya yang ditulis 21 Mei 2012 lampau dan kemudian diunggah ke blog-nya, Dahlan Iskan antara lain mengatakan, "Di manakah letak belum clear-nya praktik trading Petral di Singapura? Begini, Pertamina adalah perusahaan yang sangat besar, bahkan terbesar di Indonesia,” kata Dahlan.

Sebagai perusahaan terbesar, tambahnya, posisi tawar Pertamina tidak akan ada bandingannya. Boleh dikata, dalam bisnis, Pertamina berhak mendikte apa saja, termasuk mendikte pemasok dan bahkan mendikte pembayaran. "Inilah yang belum clear," kata Dahlan. Sebagai perusahaan terbesar, mengapa Pertamina belum bisa mendikte? Mengapa masih berhubungan dengan begitu banyak trader? Mengapa tidak sepenuhnya melakukan pembelian langsung dari pemilik asal barang. membeli BBM langsung dari perusahaan kilang dan membeli crude oil (minyak mentah) langsung dari perusahaan penambang minyak?

“Dalam satu bulan terakhir, tiga kali Presiden SBY mengajak mendiskusikan soal ini dengan beberapa Menteri, termasuk saya. Arahan Presiden SBY jelas dan tegas bagi saya, benahi Pertamina. Kalau ada yang mengaku-ngaku dapat backing dari presiden atau dari Cikeas atau dari Istana, abaikan saja," tegas Dahlan. Bisa saja ada lanjutnya, yang mengaku-ngaku mendapat backing dari Presiden SBY. “Sebenarnya tidak demikian. Jangankan Presiden SBY, saya pun, di bidang lain, juga mendengar ada orang yang mengatakan mendapat backing dari Menteri BUMN!” kata Dahlan.

Lalu, Dahlan menceritakan adanya pertemuan dirinya dengan SBY, yang dihadiri juga Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. “Karen melaporkan sudah siap melakukan pembelian langsung, tanpa perantara lagi. Tentu diperlukan persiapan-persiapan yang matang. Tidak bisa, misalnya seperti yang diinginkan beberapa pihak, besok pagi Petral langsung dibubarkan. Pasokan BBM bisa terganggu. Bisa kacau-balau,” ujarnya. Memang, tambahnya, kelihatannya banyak motif yang berada di belakang isu Petral. Setidaknya ada tiga motif. Pertama: ada yang dengan sungguh-sungguh dan ikhlas menginginkan Pertamina benar-benar clean and clear (C&C) dan menjadi kebanggaan nasional. “Dengan adanya Petral, mereka tidak bisa lagi ‘ngobyek’ dengan cara menekan-nekan Pertamina seperti terjadi di masa sebelum Petral,” ungkap Dahlan.

Dahlan mengatakan, ada yang berharap Petral dibubarkan, jual-beli minyak kembali dilakukan di Jakarta, dan mungkin bisa menjadi obyekan baru. “Tentu, seperti juga bensin oplos, ada juga campuran lain, politik! Ada politik anti-pemerintah Presiden SBY. Tapi yang keempat ini baiknya diabaikan karena politik adalah satu keniscayaan. Misalnya ketika ada yang menyeru, bubarkan Petral sekarang juga! Saya pikir yang dimaksud sekarang itu, ya, pasti ada tahapannya. Ternyata tidak. Dan ternyata benar-benar ada yang menginginkan Petral bubar saat ini juga. Mereka tidak berpikir panjang, kalau Petral bubar sekarang, siapa yang akan menggantikan fungsi Petral. Siapa yang akan mendatangkan bensin untuk keperluan bulan depan dan beberapa bulan berikutnya?

Mungkin memang ada maksud terselubung, bubarkan Petral sekarang juga, biar terjadi kelangkaan BBM dan terjadilah gejolak sosial. Ini mirip-mirip dengan logika, jangan naikkan harga BBM dan pemakaiannya juga jangan melebihi 40 juta kiloliter setahun! Logika Joko Sembung yang tidak nyambung. Tentu saya tidak akan terpancing pemikiran pendek seperti itu,” ujar Dahlan.

Yang harus dilakukan Pertamina, katanya lagi, adalah langkah yang lebih mendasar. Sebagai perusahaan raksasa, Pertamina, seperti ditegaskan Presiden SBY setegas-tegasnya, tidak boleh lagi membeli minyak dari perantara. “Langkah seperti itu sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh Pertamina, tapi belum semua. Jadinya tenggelam oleh pembelian yang masih dilakukan lewat Petral. Apakah kelak setelah Pertamina tidak lagi membeli minyak dari perantara otomatis tidak akan ada yang dipersoalkan? Tidak dijamin!” kata Dahlan.(ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login