IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Cadangan CBM Lebih Besar Dibandingkan Cadangan Gas Alam

Cadangan CBM Lebih Besar Dibandingkan Cadangan Gas Alam

Written By Indopetro portal on Wednesday, 6 May 2015 | 15:42

indoPetroNews.com - Coal Bed Methane (CBM) merupakan gas aktif yang terperangkap pada batubara dan sebagian besar terdiri dari gas metana, sehingga secara umum klasifikasi gas ini disebut dengan Coal Bed Methane (CBM).

Jika di klasifikasi untuk energi, maka CBM termasuk unconventional energy (peringkat 3), dan sama persis dengan tight sand gas, devonian shale gas, dan gas hydrate.

Sementara, High quality gas (peringkat 1) dan low quality gas (peringkat 2) dianggap sebagai conventional gas atau biasa yang kita sebut gas bumi dan di konversi menjadi compressed natural gas (CNG) atau produk gas lainnya.

Ketua Umum Ikatan Alumni Akademi Migas (Ilugas), Ibrahim Hasyim menyebutkan bahwa hingga kini CBM masih sulit diterapkan di Indonesia, hal tersebut karena kurangnya investor melirik bisnis CBM. Padahal, jika dilihat bahwa cadangan CBM di Indonesia lebih besar dibandingkan cadangan gas alam.

Ada beberapa hal yang membuat CBM kurang diminati oleh para investor dari dalam dan luar negeri, salah satunya karena regulasi dan insentif yang diberikan dari Pemerintah.

“Banyak penyebabnya, salah satunya adalah dibutuhkan teknologi yang tinggi dan Indonesia baru memulainya, jadi tidak banyak yang bisa bermain saat ini. Sehingga perlu insentif dan kepastian termasuk biaya eksplorasi serta produksi," kata Ibrahim, di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya, ada sejumlah wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki cadangan CBM tinggi, seperti Sumatera dan Kalimantan dengan cadangan lebih besar dari cadangan gas Indonesia.

"Meski sulit dan mahal, Indonesia sudah saatnya harus memulai, sekalipun harga migas dunia sedang rendah, karena cadangan shale gas lebih besar lagi. Dan kita berharap keberhasilan produksi shale gas di Amerika, menginsprirasi kita untuk bisa menemukan teknologi dan manajenen operasi yang lebih murah," kata Ibrahim.

Sementara, Kepala Humas SKK Migas, Rudianto Rimbono mengatakan bahwa kegiatan pemboran eksplorasi CBM harus dilakukan di sejumlah titik agar mendapatkan hasil yang optimal. Bahkan, hasil atau output gas yang dihasilkan dari sumur CBM juga masih sulit untuk dikomersilkan.

"Saat gas yang ke luar dari sumur itu, tapi dalam jumlah, dan tekanan yang sangat kecil, sehingga tidak bisa langsung dimanfaatkan, jumlah gas tersebut akan naik secara perlahan seiring dengan kadar gas yang terperangkap di dalam kandungan batu bara tersebut," paparnya.

"Bahkan, kenaikan gas itu cukup beragam hingga mencapai satu tahun dan belum bisa dimanfaatkan karena hasil produksi dalam jumlah yang rendah, sementara investor butuh pemasukan saat gas itu keluar dan segera bisa dimanfaatkan untuk dikomersilkan," lanjutnya.

Sebagai informasi, jika dilihat dari silsilahnya batubara memang memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah besar, karena permukaannya mempunyai kemampuan mengadopsi gas. Namun, batubara dengan kepadatan justru terlihat seperti batu yang keras, tapi di dalamnya terdapat pori-pori yang berukuran lebih kecil dari skala mikron atau mirip seperti spon.

Steven dan Hadiyanto dari peneliti IAGI special publication, menyebutkan bahwa ada 11 cekungan batubara (coal basin) di Indonesia yang memiliki CBM dengan 4 besar urutan cadangan sebagai berikut, Sumsel (183 Tcf), Barito (101.6 Tcf), Kutai (80.4 Tcf), serta Sum-Tengah (52.5 Tcf).

Jika sumber daya CBM di Sumsel sama dengan total (conventional) gas reserves di seluruh Indonesia. Namun perlu juga diketahui, dalam potensi CBM juga terdapat dua 2 hal yang menarik seperti,

Pertama, jika ada reservoir conventional gas (sandstone) dan reservoir CBM (coal) pada kedalaman, tekanan, dan volume batuan yang sama, maka volume CBM bisa mencapai 3 – 6 kali lebih banyak dari conventional gas. Dengan kata lain, CBM menarik secara kuantitas.

Kedua dalam prinsip terkandungnya CBM adalah adsorption pada coal matrix, sehingga dari segi eksplorasi faktor keberhasilannya tinggi, karena CBM bisa terdapat pada antiklin maupun sinklin. Secara mudahnya dapat dikatakan bahwa ada batubara ada CBM.(eh.siregar)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login