IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Pertamina Tawarkan Skema 'Extra Ordinary' Membangun Kilang

Pertamina Tawarkan Skema 'Extra Ordinary' Membangun Kilang

Written By Indopetro portal on Monday, 11 May 2015 | 09:38

 indoPetroNews.com - PT. Pertamina (Persero) harus melakukan akselerasi dalam pembangunan kilang baru. Hal tersebut dilakukan demi mewujudkan ketahanan energi nasional. Dalam membangun kilang baru secara normal, dibutuhkan waktu kurang lebih delapan tahun. Namun pembangunan kilang dapat dipercepat menjadi lima tahun.

Menurut Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi, Pertamina akan menawarkan skema Extra Ordinary. Dalam skema normal, pembangunan kilang itu melalui tahapan perencanaan, engineering, pelelangan engineering, procurement dan construction (EPC) dan pelaksanaan EPC yang membutuhkan waktu delapan tahun.

Dengan skema Extra Ordinary, tahapan tersebut dapat diakselerasi melalui perencanaan, pengadaan investor, land Improvement,engineering & procurement dan pelaksanaan konstruksi yang bisa dilaksanakan selama lima tahun.

Bila skema normal itu dimulai pada 2015, maka kilang baru itu akan dapat diselerasikan pada 2022. Namun bila memakai skema Extra Ordinary, Pertamina mampu menuntaskan pembangunan kilang baru pada 2019.

Hanya saja, untuk dapat mempercepat pembangunan kilang tersebut, Hardadi mengusulkan perlunya penerbitan Perpres Penugasan Pertamina dan percepatan implementasi untuk pengadaan barang dan jasa.

Untuk pengadaan barang dan jasa, tendernya tidak dilakukan secara terbuka. Tetapi dipilih provider-provider untuk penugasan dan percepatan, sehingga prosesnya cepat. "Hanya saja, Pertamina tidak bisa melaksanakan kalau tidak ada payung hukum Perpresnya," tegas Hardadi, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Minggu (10/5).

Untuk mengakselerasi kilang, Pertamina juga perlu penunjukkan langsung untuk pelaksanaan land improvement. Dan, karena ini sifatnya Extra Ordinary, maka dalam akselerasi kilang baru perlu dibentuk Tim Taks Force di bawah kendali langsung pemerintah.

"Dalam tim ini perlu dikawal oleh KPK dan supervisi dari Kejaksanaan Agung. Skema ini bisa dilaksanakan kalau memang ada perlakuan khusus," tegas Hardadi. Skema percepatan pembangunan kilang baru ini diperlukan, supaya kapasitas kilang nasional segera dapat ditingkatkan. Bila kapasitas kilang nasional saat ini hanya mampu memproduksi BBM 1 juta barel per hari. Maka dengan adanya kilang baru tersebut, pada 2020 kapasitasnya meningkat menjadi 1.3 juta barel per hari.(ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login