IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Sofyano Pertanyakan Sikap Faisal Basri Terkait Pertalite

Sofyano Pertanyakan Sikap Faisal Basri Terkait Pertalite

Written By Indopetro portal on Monday, 18 May 2015 | 17:59

indoPetroNews.com - Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, mempertanyakan sikap mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri yang begitu "risih" dan "resah" dengan rencana Pertamina memunculkan Pertalite dan rencana kenaikan harga Pertamax.

Pasalnya, Pertalite RON 90 adalah BBM Non Subsidi dan merupakan corporate actionnya Pertamina, sehingga bukan menjadi sebuah kesalahan.

Menurut Sofyano, jika dengan adanya Pertalite menyebabkan Premium RON 88 dihapus, maka itu bukan kewenangan Pertamina, tetapi menyangkut domain atau keputusan Pemerintah.

"Jika besok lusa, Shell dan atau Total (pemilik SPBU asing-red) membuat produk BBM RON 90 dengan nama apapun selain Pertalite, saya rasa perusahaan minyak swasta asing itu pasti tidak bisa dilarang dan dinilai melanggar UU," kata Sofyano dalam pesan singkatnya, di Jakarta, Senin (18/5).

Selain itu, lanjutnya, kalau pun Pertamina menaikan harga jual Pertamax (atau Shell dan Total juga melakukan hal yang sama-red), berapapun harganya dan menyebabkan masyarakat yang menggunakan Pertamax lari ke Premium juga merugikan Pemerintah/Negara.

"Jawabnya tidak, karena Premium sudah tidak di subsidi lagi oleh Pemerintah, sehingga tidak bermasalah dengan subsidi pemerintah dan APBN," ujarnya.

Dengan demikian, kata Sofyano, tidak ada salahnya jika Pertamina (atau mungkin juga Shell dan Total) berencana mengkoreksi harga Pertamax dan menaikannya atau juga menurunkan harga jualnya.

"Jika Pertamina menaikan harga jual Pertamax dan menyebabkan pembeli Pertamax lari ke SPBU asing dan menggunakan produk Shell dan Total, maka hal itu juga tidak akan membuat BUMN ini terpuruk atau bangkrut," tegasnya.

Sofyano mengatakan, fakta yang ada selama ini, harga Pertamax-nya Pertamina selalu lebih murah dari BBM sejenis Pertamax yang dijual Shell dan Total.

"Artinya, ketika Pertamina mengkoreksi harga Pertamax maka sangat besar kemungkinan Shell dan Total juga akan mengikuti jejak langkah dan sikap Pertamina dengan menyesuaikan harga jual mereka," kata Sofyano.

Di sisi lain, ketika kemudian harga jual Shell atau Total ternyata lebih murah dari harga Pertamax, maka Pertamina tetap sewaktu-waktu berpeluang untuk bisa mengkoreksi ulang harga Pertamaxnya.

"Jadi, sesungguhnya tidak ada hal yang harus diresahkan apalagi dinilai sebagai blunder atau suatu kesalahan ketika Pertamina merencanakan memproduksi dan menjual Pertalite atau mengkoreksi harga jual Pertamax," ujarnya.

"Malah publik justru bisa menilai sebaliknya, jika pemerintah sampai tunduk dengan tekanan seseorang untuk memecat direksi Pertamina. Karena itu akan menjadi blunder bagi Pemerintahan, apalagi jika penilaiannya bersifat abu-abu," tutup Sofyano.(ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login