IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Rekomendasi Tim Reformasi Dinilai "Masuk Angin"

Rekomendasi Tim Reformasi Dinilai "Masuk Angin"

Written By Indopetro portal on Thursday, 4 June 2015 | 12:06

indoPetroNews.com - Upaya pemerintah memperbaiki pengelolaan sektor minyak dan gas (migas) di Tanah Air, melalui Tim Reformasi Tata Kelola Migas dinilai belum optimal. Sejumlah pihak melihat, rekomendasi yang dikeluarkan tim yang dike­tuai ekonom Faisal Basri itu seperti “masuk angin” karena banyak rekomendasi yang hingga kini tidak dijalankan pemerintah, dalam hal ini oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dan PT Pertamina (Persero).

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menilai, pembentukan tim ini hanya basa-basi untuk menjawab keinginan masyarakat agar sektor migas dibenahi. Pasalnya, waktu yang diberikan pemerintah terhadap tim ini sangatlah singkat, hanya enam bulan.

"Padahal kalau bicara pembe­nahan di sektor migas, harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Berbagai institusi yang terlibat, seper­ti Kementerian ESDM, Direktorat Jenderal (Ditjen) Migas, SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Ke­giatan Hulu Minyak dan Gas), BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi), Pertamina, dan lain sebagainya juga harus dibenahi, bukan hanya Pertamina dan Petral (Pertamina Energy Trading Limited) saja," tutur Mamit di Jakarta, Kamis (4/6)

Menurutnya, akibat waktu kerja yang sempit, tim menjadi terburu-buru mengeluarkan rekomendasi sehingga tidak komprehensif untuk pembenahan sektor migas di Tanah Air. Selain itu, banyak rekomendasi yang tidak dijalankan sepenuhnya oleh pemerintah.

Beberapa rekomendasi tim yang hingga kini belum dijalankan pemerintah, antara lain penghapusan bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dengan kadar oktan research of number (RON) 88, rekondisi kilang, serta transparansi lelang tender pe­ngadaan BBM dan minyak bumi di Indonesia. Padahal menurut Mamit, ketiga hal itu penting dilakukan agar efisiensi di sektor migas dapat dilakukan.

Sementara itu, rekomendasi yang terlihat sudah dijalankan pemerintah dan Pertamina adalah perombakan manajemen Petral, serta pengalihan wewenang pengadaan BBM dan mi­nyak mentah dari Petral ke Integra­ted Supplay Chain (ISC). "Tapi, dengan pengalihan itu, menurut saya hanya mengalihkan tugasnya saja. Ternyata iklim tender masih sama saja sebab tender pengadaan masih terlihat tertutup dan ditutup-tutupi," ucapnya.(ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login