IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Yapit Sapta Putra : Sebaiknya Pertamina Tidak Munculkan Dikotomi antar Perusahaan Migas

Yapit Sapta Putra : Sebaiknya Pertamina Tidak Munculkan Dikotomi antar Perusahaan Migas

Written By Indopetro portal on Monday, 8 June 2015 | 06:28

indoPetroNews.com - Sistem kontrak bagi hasil atau biasa disebut production sharing contract (PSC) dalam industri hulu Migas, dianggap beberapa kalangan pengamat Migas, pro terhadap asing.

Kordinator Gerakan Pekerja SKK Migas Anti Korupsi, Yapit Sapta Putra, mengatakan bahwa sistem kontrak Migas tersebut lahir bukan pada zaman berdirinya SKK Migas atau BP Migas, melainkan lahir sejak PT. Pertamina menjadi leader dalam pengawasan dan pengendalian Kontrak Kerja Sama Migas.

"Kontrak PSC yang seolah pro asing itu banyak lahir bukan di zaman SKK Migas dan BP Migas, tapi ditandatangani pada zaman Pertamina. Bahkan kontrak perpanjangan ke dua pun, sebelum BP Migas ada," kata Yapit, di Jakarta, Senin (8/6).

Pihaknya menjelaskan bahwa hampir seluruh kontraktor asing tersebut menandatangani kontrak sebelum tahun 2000, yaitu sejak jaman Pertamina dulu dan juga kemudian kontraknya diperpanjang oleh Pertamina sehingga dulu Pertamina melepas sendiri kesempatan untuk menjadi operator di blok yang besar tersebut saat memberikan perpanjangan kontrak.

Untuk itu Yapit berharap agar PT. Pertamina (Persero) tidak melakukan dikotomi atau perbandingan antar perusahaan nasional dan juga multinasional. Apalagi terhadap blok Migas yang akan segera habis masa kontraknya.

"Dalam pengelolaan industri hulu Migas, baik Mbak Wianda atau pengamat lain, hendaknya itu tidak melakukan dikotomi antar perusahaan migas nasional dan yang multinasional, apalagi itu blok yang baru ditawarkan," ujarnya.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, dalam statementnya pada acara Diskusi Publik "Mendambakan UU Migas yang Konstitusional" di Auditorium DPP Muhammadiyah, Jumat (5/6), mengatakan bahwa dari ujung Sumatera sampai ujung Timur Indonesia, banyak blok Migas dikuasai luar negeri (asing).

"Terlihat dari ujung Sumatera sampai ujung Timur Indonesia, banyak blok dikuasai luar negeri. Penguasaan asing sangat dominan. Swasta nasional tidak berkembang. Tidak semua hasil produksi bisa maksimal diproses hingga dimanfaatkan di dalam negeri," ungkapnya.

Wianda menyebutkan bahwa Pertamina hanya mampu memberikan kontribusi produksi minyak sebesar 21%. Dan dari produksi minyak nasional ini terjadi karena Pertamina hanya sedikit mengelola blok minyak, bahkan sebagian besar sumur minyaknya berusia tua.

"Pertamina ingin seluruh sumber migas bisa dikapitalisasi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kontribusi produksi minyak Pertamina sekarang 21% dari produksi minyak nasional. National Oil Company (NOC) alias BUMN di negara lain umumnya lebih dari 50%," kata Wianda.

Yapit mengatakan sebaiknya kontradiksi asing dan nasional harus dihentikan. Saatnya sekarang berkolaborasi, bekerja bersama-sama untuk mencari cadangan migas baru karena cadangan migas yang sudah hampir habis.

"Dukungan terhadap BUMN baik Pertamina maupun PT Perusahaan Gas Negara (PGN) harus kita berikan. Kesempatan berusaha bagi investor asing dan nasional juga wajib kita berikan karena mereka juga berkontribusi memberikan penerimaan Negara sebesar rata-rata Rp.300 triliun per tahun dalam 10 tahun terakhir," katanya.

Yapit juga tidak menafikan bahwa penerimaan Negara selama ini adalah hasil kerja perusahaan asing juga, yang merupakan kuli bangsa ini selama puluhan tahun sejak Indonesia Merdeka. BUMN kita juga tentu ingin diperlakukan baik di Negara luar dalam melakukan investasi untuk menambah produksi. (ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login