IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Bangun Storage, Pertamina Rogoh Kocek US$ 156 Juta

Bangun Storage, Pertamina Rogoh Kocek US$ 156 Juta

Written By Indopetro portal on Friday, 21 August 2015 | 13:55

indoPetroNews.com - Badan Energi Internasional (IEA) mensyaratkan semua anggotanya untuk membangun gudang penyimpanan cadangan BBM minimal untuk 90 hari. Mau tidak mau, Pertamina harus mampu kejar taget seperti yang disyaratkan IEA demi ketahanan energi Indonesia.

Hingga sekarang kemampuan Pertamina hanya mampu menyetok BBM untuk 18 hari. Namun gudang penyimpanan (storage) minyak mentah dan BBBM Pertamina di Pulau Sambu dan Tanjung Uban, Provinsi Riau Kepulauan yang sedang dibangun dengan biaya US$ 156 juta diharapkan bakal memperpanjang kemampuan Pertamina menyetok BBM.

Dua storage ini, menurut Dirut Pertamina Dwi Soetjipto, mampu menampung BBM sebanyak 500 ribu kiloliter ( kl) dan diharapkan rampung pada Maret 2016.

Storage Pulau Sambu yang sudah berdiri sejak 1997 kapasitasnya bakal meningkat menjadi 300 kl dengan dermaga yang mampu disandari kapal tanker bertonase 100 ribu DWT. Biaya pembangunan Storage Pulau sambu mencapai US$ 94 juta dan dirahapkan rampung pada Maeret 2016. .

Storage Tanjung Uban yang dibangun dengan biaya US$ 62 juta dijadwalkan selesai pada Juni 2016 dan bakal mampu menampung BBM sebanyak 200 ribu kl, dan dilengkapi dengan fasilitas blending mogas yang dapat meningkatkan stok produk bbm impor seperti mogas atau premium (RON 88), Pertalite (RON 90) dan Pertamina DEX (RON 92) serta Naphta (bahan baku untuk minyak pesawat jet).

Storage Pulau Sambu nanti bakal mampu menampung 800 ribu kl dan berperan dalam mendukung ketahanan energi serta bisnis oil trading Pertamina di Asia Tenggara di masa mendatang untukBBM jenis MFO (Marine Fuel Oil) dan HSD (High Speed Diesel) berstandar interbnasional. Dengan demikian Pertamina bakal meraih pangsa pasar dua jenis BBM itu antara 5 dan 10% dengan total market di selat Malaka mencapai sekitar 45 juta kl/tahun.

Kontrak EPC (Engineering, Procurement, Construction) dua storage ini dimenangkan oleh PT Wijaya Karya Tbk.

Biaya pembelian minyak mentah dan produk BBM impor Pertamina yang ketika Petral masih beroperasi mencapai USD 32 miliar per tahun. Hampir 100 persen dibiayai oleh pinjaman sindikasi perbankan singapura, dengan Lead underwriter bank BUMN Singapura, Development bank of Singapore. Menurut Petral, Bank mandiri satu kali pernah memberikan pinjaman ke Petral yang kecil sekali, US$ 20 juta. Mungkin pinajam Bank Mandiri ke Petral ini untuk beli produk BBM dan Minyak mentah sehari saja tidak cukup.

Pangsa pasar pembiayaan pengadaan produk BBM dan minyak mentah Pertamina atau badan pengganti Petral ini sangat menjanjikan (lucrative) dan captive, kenapa harus DBS yang menjadi lead underwriter, bukannya konsorsium bank-bank BUMN yang mungkin dipimpin oleh lead underwriter Bank Negara Indonesia 1946 yang sudah lebih berpengalaman menghimpun offshore loan.(ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login