IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Energy Watch : Minimal Pemerintah Turunkan Harga Solar

Energy Watch : Minimal Pemerintah Turunkan Harga Solar

Written By Indopetro portal on Wednesday, 30 September 2015 | 20:53

indoPetroNews.com - Ditengah harga minyak mentah dunia yang masih rendah, desakan masyarakat ke pada Pemerintah agar menurunkan harga BBM Premium RON 88 dan Solar Subsidi sangat besar.

Menurut Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan, sesuai dengan Permen ESDM No 4/2015 dimana pemerintah melakukan evaluasi harga BBM yang di dasarkan pada perkembangan harga patokan HIP/MOPS dengan periode satu bulan, tiga bulan, empat bulan dan enam bulan.

"Berdasarkan perhitungan harga rata-rata MOPS untuk Premium Periode 24 Agustus 2015 – 23 September 2015 mengalami penurunan sebesar 8 % dari periode sebelumnya sehingga menjadi 59 USD per barrel," kata Mamit, di Jakarta, Rabu (30/9).

Untuk kurs beli Rupiah rata-rata periode 24 Agutus 2015 – 23 September 2015 Rp 14,000, PPN 10% dan PPBKB 5%, iuran BPH Migas 0.3%. "Dengan kondisi seperti harga BBM Premium RON 88 untuk berkisar diantara Rp 7,400 untuk Non Jamali, Rp 7,650 untuk Jamali," ujarnya

Mamit mengatakan, harga MOPS untuk Solar Subsidi ternyata mengalami penuruan harga yang cukup besar yaitu 18% dari harga rata-rata MOPS periode Agustus 2015 – September 2015 menjadi 50 USD per Barrel dengan kurs beli adalah Rp 14,000 per dollar plus Alpha, PPN 10% dan PBBKB 5% maka harga solar adalah Rp 6,300 per liternya.

Dengan subsidi sebesar Rp 1,000 perliter dari Pemerintah, lanjut Mamit, maka harga harga ke ekonomian untuk solar adalah Rp 5,300 per liter. Saat ini, harga BBM Solar subsidi yang di jual di SPBU-SPBU adalah Rp 6,900 per liternya.

"Seharusnya pemerintah bisa menurunkan harga BBM Solar Subsidi minimal sebesar Rp 1,000 per liternya, karena solar merupakan merupakan bahan bakar untuk kendaraan transportasi massal, transportasi sembako sehingga bisa memacu pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat dengan turunnya biaya logistic," terang Mamit

Menurut Mamit, dengan perhitungan seperti ini seharusnya pada awal Oktober 2015 ini pemerintah paling tidak menurunkan harga BBM Solar Subsidi.

Mamit menjelaskan, jika pemerintah mau menurunkan harga untuk jenis BBM RON 88, maka Pertamina akan mengalami kerugian lagi di karenakan saat ini baru mencapai nilai BEP untuk jenis tersebut. Kerugian Pertamina dari bulan January 2015 – September 2015 sudah mencapai di angka Rp 12,5 T.

"Sebagai solusinya yaitu dana stabilisasi BBM harus segera di terapkan agar Pertamina tidak terus merugi, masyarakat tidak selalu diberatkan, perekonomian bisa berjalan kembali ke arah tren positif," katanya. (ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login