IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » FSRU Lampung Menjawab Kebutuhan LNG Pengaruh Kondisi Ekonomi

FSRU Lampung Menjawab Kebutuhan LNG Pengaruh Kondisi Ekonomi

Written By Indopetro portal on Monday, 21 September 2015 | 11:09

indoPetroNews.com - PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menyatakan, pengoperasian proyek infrastruktur FSRU Lampung ditentukan oleh tingkat kebutuhan atas LNG atau gas hasil regasifikasi LNG yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan dalam negeri. Kendati demikian, FSRU Lampung dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu panjang.

"FSRU Lampung merupakan bagian integral dari Proyek Gas Bumi Terintegrasi Indonesia yang sedang dibangun dan dikembangkan oleh PGN. Salah satunya untuk perkuat infrastruktur gas di wilayah Lampung dan Jawa Barat," ujar Corporate Secretary PGN Heri Yusup melalui keterbukaaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (18/9).

Seperti diketahui, penyaluran gas pada FSRU Lampung pertama kali dijalankan pada tanggal 14 Agustus 2014 lalu. Sedangkan, gas hasil regasifikasi LNG pada FSRU Lampung juga telah mulai dijual kepada pelangan PGN tahun yang sama. Adapun sejauh ini, FSRU Lampung telah meregasitifikasi LNG sebanyak tiga kargo.

Menurut Heri, FSRU Lampung diintegrasikan dengan jaringan pipa transmisi dan distribusi. Sehingga dapat dipergunakan secara luas oleh masyarakat dan industri di Indonesia.

"Termasuk juga transportasi dengan wilayah jangkauan mulai dari Lampung sendiri, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta," tambahnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi VII DPR-RI, Kardaya Warnika menyebutkan, jangankan kerugian yang dialami PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. dalam investasi Floating Storage Regasifikasi Unit (FSRU) di Lampung diperkirakan menelan kerugian USD7,5 juta per bulan,

Kardaya mengungkapkan, FSRU Lampung milik PGN itu dimaksudkan untuk mengirim gas untuk PLN di Jawa Barat. “Menurut saya tidak layak,” ujar Kardaya, di Jakarta, Senin (14/9). Dia menambahkan, “di Jakarta saja ada FSRU yang belum terpakai,” tegasnya.

Mengenai biaya yang sebesar USD250 juta, Kardaya yang mantan pejabat pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu menilai, tergolong sangat besar. Apalagi sampai tidak terpakai.(ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login