IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Pertamina Rugi, Pemerintah Dilarang Bayar Pakai APBN

Pertamina Rugi, Pemerintah Dilarang Bayar Pakai APBN

Written By Indopetro portal on Monday, 7 September 2015 | 10:14

indoPetroNews.com - Direktur Pembinaan dan Program Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi mengatakan untuk menambal kerugian yang dialami PT Pertamina (Pertamina) tidak boleh menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Jalan instannya memang naikkan harga BBM dan aksi korporasi ditanggung BUMN. Karena BUMN kan milik negara. Makanya saya tidak bisa bicara apakah harga BBM tetap tidak bisa naik di bulan ini. Yang jelas periode September ini masih sama harganya," terang Agus dalam dialog energi kita di Gedung Pers Jakarta Pusat, Minggu (6/9).

Diketahui dalam laporan Pertamina, mengalami kerugian sebesar Rp13,2 triliun akibat tidak melakukan penyesuaian menaikkan harga BBM.

Agus melanjutkan selama ini Pertamina tetap mempertahankan harga jual BBM karena kesepakatan antara pemerintah dan Komisi VII DPR untuk mengevaluasi perkembangan harga minyak dunia serta kurs rupiah selama 6 bulan sekali.

"Pada saat melaksanakan penyesuaian BBM ini telah terjadi kekurangan bayar atau rugi Rp13,2 triliun sampai Agustus 2015 karena harga BBM tetap Rp7.300 dan Solar Rp6.900 per liter. Ini adalah bulan jatuh tempo evaluasi, tapi kita masih sepakat di harga lama," kata Agus.

Seharusnya, kata Agus, harga BBM Premium di September 2015 naik menjadi Rp7.700 per liter akibat depresiasi kurs rupiah, fluktuasi harga minyak dunia yang sudah naik lagi, dan tambahan biaya-biaya lain.

"Harga minyak susah diprediksi karena sekarang mulai naik lagi sampai US$50 per barel. Perhitungannya BBM untuk sampai ke Indonesia butuh banyak biaya, seperti ada tambahan ongkos khusus Premium lebih dari Rp800. Jadi ketemu itungannya Rp7.700," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika menjelaskan, harga BBM di banker Singapura saat ini sekira USD450 per metrik ton atau Rp6.300 per liter untuk jenis Pertamax Plus RON 95. Jika diekspor ke Indonesia, maka ditambah ongkos lain termasuk pajak menjadi Rp6.900 per liter.

"Jadi menjual harga BBM Rp7.300 sudah untung, tapi kenapa pemerintah bilang Pertamina masih rugi terus. Kalau pemerintah nutupin kerugian Pertamina, namanya subsidi, tapi masa rakyat yang harus nombokin perusahaan," kata Kardaya.(ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login