IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Inovasi Pekerja Migas Untungkan Perusahaan hingga Triliunan Rupiah

Inovasi Pekerja Migas Untungkan Perusahaan hingga Triliunan Rupiah

Written By Indopetro portal on Friday, 30 October 2015 | 16:42

indoPetroNews.com - Banyaknya inovasi yang dilakukan para pekerja minyak dan gas bumi (Migas) dalam menyelesaikan permasalahan sehari-sehari membuat PT. Pertamina (Persero) dapat menghadirkan penciptaan nilai (value creation) hingga triliunan rupiah.

Menurut VP Quality, System and Knowledge Management Pertamina Faisal Yusra, ribuan inovasi lahir tiap tahunnya dari pengaplikasian konsep. Selain meningkatkan efisiensi kerja, juga dapat meningkatkan nilai kreatif bagi perusahaan.

“Pada 2014, keuntungan dari efisiensi dan karya-karya inovatif nilainya sekitar Rp8 triliun. Tahun ini, nilainya lebih dari Rp10 triliun,” ujar Faisal saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (30/10).

Secara umum, kerja inovatif didorong agar meliputi empat pilar yakni CIP, Standard Management (SM), Knowledge Management (KM) dan Quality Management Assessment (QMA).

Yusra menjelaskan, budaya berinovasi telah menjadi keseharian pekerja Pertamina sejak lama. Namun, baru pada 2009, kerja inovatif dibangun menjadi sistem yang terintegrasi ke pusat. Pola penyelesaian masalah tersebut dinamai dengan metode Continous Improvement Program (CIP)

Penyelesaian masalah dengan CIP bermodel Delta (Delapan Langkah Tujuh Alat) misalnya. Menurut Yusra, setiap rencana penyelesaian masalah di daerah didaftarkan ke kantor pusat dan disupervisi oleh tim khusus dari pusat.

Ketika tahapan penyelesaian masalah selesai dilakukan dan menghasilkan risalah, tim pusat menilai kandungan inovasi dalam solusi yang dihasilkan.

"Kita supervisi terus. Kalau nanti tahapannya berhenti, kita tanya dan kita berikan bantuan jika dibutuhkan. Jadi kita selalu mulai dari permasalahan sehari-hari. Jika dalam improvement-nya nanti ternyata ada inovasi, itu hasil yang tak diduga. Kita mulai dari improvement nanti baru timbul inovasi," jelasnya.

Seperti contoh, telah bertahun-tahun PT Badak NGL di Bontang, Kalimantan Timur, memiliki masalah dengan lampu penanda keberadaan pipa bawah air di dekat dermaga operasionalnya. Lampu itu rutin mati terkena tetesan air asin dari elang-elang laut yang kerapnangkring di atasnya.

Padahal, keberadaan lampu tersebut penting untuk mencegah kapal menabrak pipa. Beragam upaya yang dilakukan tidak berhasil mencegah elang laut bertengger di atas lampu.

Hingga pada 2013, seorang pekerja muda PT (Persero) anak perusahaan PT Pertamina itu memiliki ide menyelesaikan masalah tersebut. Ring penutup lampu dari besi ia pasangi tali pengikat plastik (cable tie) yang biasa dipakai mengencangkan koper di bandara. Ujung-ujung tali pengikat dibiarkan mencuat.

Solusi yang ia implementasikan berhasil mengusir elang-elang laut. Elang merasa tidak nyaman ketika tubuhnya bersentuhan dengan ujung tali-tali plastik tersebut dan segera terbang mencari tempat bertengger lain.

Total biaya yang dibutuhkan untuk membuat inovasi tersebut hanya Rp45 ribu. Namun, solusi sederhana itu mampu meminimalisasi potensi kerugian besar yang mungkin terjadi jika kapal menabrak pipa. Ide tersebut bahkan diadopsi di dermaga lain yang memiliki permasalahan serupa.

Yusra mengungkapkan, total nasalah yang dihasilkan setiap tahunnya meningkat. Tahun ini lebih dari 2 ribu masalah dihasilkan. Angka tersebut setara dengan 30 persen kerja inovatif yang dihasilkan Pertamina. "Artinya sebanyak 70 persen diantaranya bersifat kerja rutin. Kebanyakan kerja inovatif itu lahir dari generasi muda Pertamina," ujarnya.

Yusra menjelaskan, asalkan mengikuti kebijakan direksi, setiap pekerja Pertamina dibebaskan berinovasi menyelesaikan masalah yang mereka hadapi ketika bekerja. Arahan strategis direksi meliputi peningkatan kinerja hulu, efisiensi, pengolahan, pemasaran dan keuangan.

“Kita berikan kebebasan untuk berinovasi. Boleh Anda melakukan pengembangan apapun asalkan sesuai arahan strategis direksi. Kalau direksi bilang ke utara, kita lakukan ke situ. Jangan ke selatan. Jadi sesuai koridor,” ujarnya.

Bagi Pertamina, inovasi ialah suatu keharusan. Tidak seperti perusahaan swasta, Pertamina menyandang status sebagai entitas bisnis dan agen perubahan yang dituntut terus meningkatkan kinerjanya.

“Kenapa ini menjadi penting? Perusahaan lain rugi, mereka bisa hentikan saja penjualannya. Kita enggak bisa. Rugi atau apa pun kita harus jual. Karena itu, kalau kita mau bertahan, kita harus improvement dan inovasi. Ketika orang lain terpuruk, kita bisa terus berkembang,” katanya.
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login