IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Pemerintah Klaim Infrastruktur Gas Rumah Tangga Sudah Capai 80 Persen

Pemerintah Klaim Infrastruktur Gas Rumah Tangga Sudah Capai 80 Persen

Written By kusairi kusairi on Wednesday, 25 November 2015 | 16:42


indoPetroNews.com – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengklaim bahwa pembangunan infrastruktur pipa gas untuk rumah tangga sudah mencapai 84 persen.

Dirjen Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja mengatakan, pemerintah terus bergerak dalam mempercepat pembangunan infrastruktur gas. "Untuk distribusi elpiji rumah tangga sudah mendekati hampir selesai, sudah 84 persen," kata Wirat di Kantornya, Jakarta, Rabu (25/11).

Wiratmaja menyebutkan, pembangunan infrastruktur pipa gas rumah tangga diharapkan selesai pada akhir 2015. Mengingat, capaian pembangunan sudah masuk ke level 84 persen. "Sekarang tim verifikasi juga akan bergerak terus, maka akhir tahun elpiji rumah tangga bisa didistribusikan dengan baik," tambahnya.

Tidak hanya itu, Wiratmaja bilang, pemerintah juga terus melakukan percepatan pembangunan infrastruktur migas lainnya seperti pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). "Ini beberapa hal yang terus dilakukan di sektor migas, tugas rutin migas terus bergerak membangun infrastruktur seperti SPBG dan pipa-pipa," ujarnya.

Di lain tempat, PT Pertamina (Persero) memprediksi permintaan (demand) konsumsi elpiji terus mengalami peningkatan hingga 2025. Diperkirakan, kenaikan permintaan tersebut bisa mencapai 3,7 juta ton.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, saat ini permintaan hanya tercatat sebanyak 6,5 juta ton. Namun, diperkirakan di 2025 total permintaan dimaksud dapat mencapai sebanyak 10,2 juta ton.

"Disisi elpiji terlihat permintaan kami cuma 6,5 juta ton kapasitas timbun. Yang 2025 itu sebanyak 10,2 juta ton," kata Ahmad, dalam diskusi 'Pertamina Energy Forum 2015', di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (25/11).

Ia menjelaskan, pertumbuhan permintaan itu akan terjadi bila tidak ada inisiatif pengereman konsumsi seperti tidak ada penggunaan energi alternatif, gas kota, dan penggunaan biomassa. "Kalau tidak ada kebutuhan yang mengerem, misalnya adanya energi alternatif seperti gas kota dan ekspansif, atau kemudian menggunakan biomassa. Itu permintaan akan naik terus," ujar dia.

Tidak hanya itu, tambah Ahmad, storage saat ini hanya berkapasitas 0,21 juta ton. Padahal yang dibutuhkan mencapai 1,08 juta ton. Menurut Ahmad, ini merupakan pekerjaan rumah yang paling berat terhadap permintaan atas elpiji.

"Storage kita hanya punya 0,21 juta ton, yang dibutuhkan 1,08 juta ton. Ini PR yang paling berat di elpiji adalah storage kita sangat rendah. Yang ada floating storage," jelas dia.

Karenanya, lanjut Ahmad, Pertamina akan mendorong pembangunan storage dengan memanfaatkan aset-aset yang ada seperti aset di Arun. "Oleh karena itu kami akan dorong pembangunan storage. Sisa-sisa aset yang ditinggalkan seperti Arun dan sebagainya," katanya.
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login