IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Persoalan Blok Masela Kian Mengerucut

Persoalan Blok Masela Kian Mengerucut

Written By kusairi kusairi on Tuesday, 10 November 2015 | 09:51

indoPetroNews.com - Gonjang-ganjing persoalan rencana pembangunan Kilang LNG terapung pada Lapangan atau Blok Abadi Masela, Maluku kian mengerucut.

Kementerian Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli terlihat sangat lantang menentang pembangunan kilang terapung (Offshore) yang dianggapnya tidak memberikan efek berganda terhadap pengembangan ekonomi di kawasan Maluku maupun Indonesia Timur.

Cadangan gas alam terbukti di lapangan Masela sebesar 10,7 triliun kaki kubik (TCF) dapat dieksploitasi setidaknya selama 70 tahun. Di kepulauan Maluku ada 25 lapangan gas potensial yang bila dikelola dengan baik, akan melebihi produksi gas di negara Qatar sekalipun.

Menko Rizal Ramli menghendaki pembangunan kilang LNG di sebuah pulau di Maluku yang diharapkan bisa mendorong berdirinya industri petrokimia, aromatic center, pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU), industri maritim, pariwisata dan sebagainya. "Bakal tumbuh sebuah kota migas baru di Maluku yang lebih besar dari kota Balikpapan di Kalimantan Timur," kata Menko Rizal, baru-baru ini.

Sedangkan paradigma Kementerian ESDM berdasar pada perhitungan akuntansi bisnis tanpa memedulikan efek berganda dan kepentingan masyarakat Maluku dan Indonesia Timur. Kilang LNG terapung di perairan Arafuru itu panjangnya 1.000 meter, dua kali lebih panjang dari kapal induk USS Nimmitz dan tingginya tiga kali tinggi Tugu Monas ini riskan dengan biaya pengoperasiannya jauh lebih tinggi daripada kilang LNG di darat.

Kehandalan Kilang LNG terapung belum terbukti. Kini baru Royal Dutch Shell, perusahaan patungan Belanda Inggris) yang mencoba membangun kilang LNG terapung sebesar USS Nimmitz di Australia, kilang LNG "Prelude" . Shell pula yang diinginkan Menteri ESDM membangun kilang terapung di Masela dengan biaya US$22 miliar. Jangan lupa biaya ini nantinya akan ditagih kontraktor dalam cost recovery kepada pemerintah Indonesia. Artinya, pemerintah dan rakyat Indonesialah yang sesungguhnya membayar biaya ekploitasi sumber daya alam yang kita miliki sendiri.

Pada Rabu (7/10/2015) sore 20 tokoh masyarakat Maluku datang ke kantor Menko Maritim dan Sumber Daya mengajukan keberatan atas rencana menteri ESDM membangun kilang LNG terapung di Maluku. "Kami hanya ingin rakyat Maluku dapat perlakuan dan hak yang adil atas sumber daya alam yang ada. Sangat miris, karena Maluku kini menjadi provinsi termiskin keempat padahal sumber daya alamnya sangat kaya, " kata Angelina Pattiasina di kantor Menko Rizal.

Angelina Pattiasina adalah mantan anggota DPR RI dari PDIP dan puteri Letkol J.M, Pattiasina, salah satu direktur PT Perusahaan Minyak Negara, Permina, (kini PT Pertamina) bersama dr Ibnu Sutowo.

J.M. Pattiasina pernah kesal dengan bujukan agen CIA yang menyamar menjadi konsultan perminyakan AS George Benson pada saat mengelola ladang minyak di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara pada 1958.

Tanpa ragu Pattiasina mencabut pistol dan menembaki kolong mejanya sehingga Benson pun terbirit-birit. Belakangan diketahui George Benson adalah Atase Pertahanan Kedubes AS di Jakarta. Pattiasina yakin hanya dengan merah-putih minyak Indonesia dapat dikelola.

P Angelina Pattiasina menemui Menko Rizal bersama sejumlah tokoh Maluku, seperti Suady Marasabessy (bekas kasum TNI), Martinus Saptenno (Pembantu Rektor II Universitas Pattimura Ambon), Nono Sampono (anggota DPD RI), mantan Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun, Jantje Tjiptabudi (Dekan Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon), Augy Syahilatua (Peneliti Utama LIPI Ambon), Farida Aryani Hehanusa (Dekan FISIP Universitas Darussalam Ambon), Amir Hamzah (tokoh masyarakat Maluku Jakarta), Semuel Leunufna (dosen Universitas Pattimura), Boetje Balthazar (praktisi perminyakan), Theopilus Louis (Archipelago Solidarity Foundation), dan M. Kainama (dosen Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon).

Menko Rizal Ramli mengatakan Tuhan memberkati Maluku dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, seperti satu pertiga ikan di Indonesia berasal dari Maluku. Hanya saja, rakyat Maluku nyaris tidak mendapat apa-apa.

Saat ini, kata Rizal, di Maluku terdapat sumber minyak dan gas. Salah satunya, Blok Masela dengan cadangan gas sangat besar, sehingga dikenal sebagai blok gas abadi. Bahkan, blok migas masih akan bermunculan di Maluku dan sangat besar.

"Kalau dikelola dengan baik, migas di Maluku akan mengalahkan Qatar. Rakyat Maluku harus mendapat manfaat yang adil dari kekayaan alam. Kita harus ubah paradigma pengelolaan migas," kata Rizal sesuai pertemuan dengan tokoh Maluku.

Pada Kamis (8/10/2015) Menteri ESDM mengumumkan bahwa pembangunan kilang LNG terapung di blok Masela akan melibatkan konsultan internasional independen untuk mendapat masukan.

Padahal studi yang dilakukan oleh para pakar gas yang tergabung dalam Fortuga (Forum Tujuh Tiga ) Institut teknologi bandung cukup mendalam dan rekomendasinya patut dicerna. Kenapa harus menggali pendapat konsultan internasional yang pasti mahal?

Menteri ESDM sepertinya masih menjunjung superioritas tenaga asing daripada bangsa sendiri. Padahal para pakar gas di dalam Fotuga sudah lebih dari 20 tahun malang melintang dalam pembangunan kilang di LNG di Arun, Badak, balongan dan Tangguh. Ehs
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login