IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Tarik Menarik Blok Masela, Negara Rugi US$ 4 Miliar per Tahun

Tarik Menarik Blok Masela, Negara Rugi US$ 4 Miliar per Tahun

Written By kusairi kusairi on Wednesday, 4 November 2015 | 11:20

indoPetroNews.com - Tarik menarik kepentingan yang terjadi kala membahas persoalan Blok Masela, Maluku, dapat mengakibatkan kerugian negara yang cukup besar.

Mantan Deputi Pengembangan dan Perencanaan SKK Migas, Aussie B Gautama, memperkirakan adanya potensi kehilangan pendapatan (opportunity loss) sebesar US$ 4 miliar per tahun. "Keterlambatan pengerjaan lapangan gas abadi, Blok Masela, Maluku berpotensi kehilangan pendapatan yang cukup besar," papar Aussie di Jakarta, Rabu (4/11).

Berdasarkan data SKK Migas, Inpex selaku operator Blok Masela telah menyerahkan rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) Blok Masela kepada SKK Migas.

Inpex siap menggelontorkan investasi (Capex & Opex) sebesar US$ 30 miliar, dan paling tidak akan menghasilkan US$ 113 miliar sepanjang proyek berlangsung. Penghasilan tersebut adalah angka minimal yang sudah disepakati dengan SKK Migas.

"Sesuai rencana, pada tahun 2024 FLNG Abadi mulai beroperasi (onstream) dan menghasilkan gas sebesar 1.200 mmscfd (juta kaki kubik per hari), dan kondensat 24.000 bpd (barrel per hari), yang akan menghasilkan sekitar US$ 4 milyar per tahun. Untuk mengembangkan lapangan gas ini negara tidak mengeluarkan uang sepeser pun," kata Aussie.

Artinya, setiap keterlambatan satu tahun penyelesaian proyek, kata Aussie, maka pemerintah Indonesia akan kehilangan potensi pendapatan (opportunity loss) sebesar US$ 4 miliar.

Untuk melakukan kajian apakah akan menggunakan skema Floating LNG atau Land Base LNG Inpex dan Shell mengerjakannya selama dua tahun, membentuk dua tim kerja, dan menghabiskan 100.000 manhours (jam kerja). Artinya, Inpex telah membuktikan bahwa ia adalah operator yang serius bekerja.

"Mereka sudah melihat semua aspek. Kalau opsinya kilang LNG di darat, maka harus membangun 3 unit instalasi yang rumit, yaitu FPSO (floating production storage and offloading), pipa gas bawah laut sepanjang 600 km, dan kilang LNG-nya sendiri. Sementara kalau kilang LNG di laut FLNG), maka hanya membangun satu unit FLNG saja," kata Aussie.Ehs
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login