IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , , » Ungkap Siapa Dalang Mafia Migas atau Menteri ESDM Mundur

Ungkap Siapa Dalang Mafia Migas atau Menteri ESDM Mundur

Written By kusairi kusairi on Thursday, 19 November 2015 | 09:29

indoPetroNews.com - Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (SPKP) yang diundang acara ILC TVOne bertema ‘Petral dan Freeport’ pada Selasa malam (17/11), merasa kesal ketika mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) Faisal Basri tidak mau menjawab pertanyaan Anggota Komisi VII DPR RI Effendi Simbolon soal keberanian untuk mengungkap siapa lakon mafia migas sebenarnya yang selama ini diakui Faisal sudah berada di kantongnya.

Ketua Umum SPKP Binsar Effendi Hutabarat menyatakan, bicara soal Petral yang santer dituntut untuk dibubarkan sejak 2006 yang kerap disebut-sebut sarang mafia migas, dan sesudah Menteri BUMN Dahlan Iskan pada 27 Februari 2012 bermaksud mengusulkan pembubaran Petral yang diklaimnya sudah disetujui Dirut Pertamina Karen Agustiawan terkait Pertamina sering terganggu citranya karena banyaknya isu mengenai Petral.

“Tetapi di ujungnya gagal, akibat adanya kekuatan besar yang tidak berkenan, sangat menyesakkan kami, Pensiunan Pertamina,” kata Binsar dalam rilisnya, Rabu (18/11) pagi.

Binsar yang Ketua FKB KAPPI ’66 menjelaskan, pada 20 Juni 2013, pihaknya sudah melayangkan surat kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut dugaan impor minyak mentah dan BBM yang dilakukan oleh Petral. Dan sejak itu juga, pihaknya menyuarakan agar Petral dibubarkan atas pertimbangan buat apa Pertamina dinilai clean sesuai hasil auditor tersohor Price Waterhouse, I-Cover, dan BPK yag menyebutkan audit Petral dengan “Wajar Tanpa Pengecualian” apabila oleh publik masih dianggap belum clear.

“Hal ini terkait dengan transparansi Petral yang anak perusahaan Pertamina, yang imbasnya pada perusahaan BUMN Migas itu selalu saja dicurigai dan tidak dipercaya lagi oleh publik, hanya lantaran keberadaan Petral,” kata Binsar.

Namun, menurutnya, sebagai pelaku yang merintis, membangun dan membesarkan Pertamina saat dibawah regulasi UU No. 8 Tahun 1971. “Petral itu sejatinya dibentuk secara holistik untuk ditugasi membeli minyak mentah dan BBM di luar negeri. Dengan tujuan agar Pertamina terlindungi dari resiko legal, yang tidak akan mengulangi lagi kasus Bruce Rappaport dan Karaha Bodas yang bisa membekukan asset Pertamina di luar negeri. Sakit rasanya, sudah dibangun gedung perwakilan Pertamina di New York dengan susah payah, lalu disita karena kasus itu,” ujarnya.

Akan tetapi demi menghentikan ketidakpercayaan publik, lanjut Binsar, pembubaran Petral pada 13 Mei 2015 oleh Dirut Pertamina dan Menteri BUMN untuk memenuhi rekomendasi Tim RTKM, tentu pihaknya menyambut baik dengan suka cita.

“Hanya saja ketika Ketua RTKM mengingatkan juru bicara Pertamina, Wianda agar Pertamina tidak banyak bicara di ruang publik yang akan memperkeruh, jelas kami merasa terusik. Apa urusannya Faisal mengatur-ngatur Pertamina enggak boleh bicara?” kata Komandan Gerakan Nasionalisasi Migas (GNM) ini.

Oleh karena itu, kisah Binsar, pihaknya merasa terusik atas peringatan Ketua RTKM Faisal Basri tersebut, kemudian menantangnya untuk mengungkap siapa mafia migas yang sebanarnya, yang sudah ia kantongi.

Menurut Binsar, Pertamina itu sudah menuruti Petral dibubarkan. Pertamina juga mengikuti untuk lakukan audit terhadap Petral, yang hasilnya disampaikan kepada Menteri ESDM. Tapi 8 November lalu, Menteri ESDM ungkapkan hasil audit forensik berkaitan dengan keterlibatan pihak ketiga dalam mengatur bisnis BBM dan adanya kerugian negara Rp. 250 trilyun dalam pembelian minyak mentah sejak 2012-2014 yang dijalankan Petral.

Sementara Dirut Pertamina, ungkap Binsar Effendi, menyebutkan tidak ditemukan kerugian negara dalam hasil audit. Sedangkan Wakil Presiden menegaskan pemerintah bersalah jika tidak melaporkan hasil audit ke KPK atau aparat penegak hukum lainnya.

Pada konteks ini, katanya, pihak Pensiunan Pertamina merasa perusahaan yang ia rintis, bangun dan dibesarkan telah di diskreditkan. “Dan, kami jelas marah. Bukan mafia migas yang sudah jelas dianggap biang keroknya, malah Pertamina disudutkan karena Petral sebagai anak perusahaan ditudingnya telah merugikan keuangan negara. Mohon maaf, kami minta Menteri ESDM Sudirman Said ungkapkan lakon mafia migas, atau sebaiknya mundur ketimbang selalu saja membuat kegaduhan,” ungkap Binsar.
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login