IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » IPA Mencatat Harga Minyak Mendekati Ongkos Produksi

IPA Mencatat Harga Minyak Mendekati Ongkos Produksi

Written By kusairi kusairi on Wednesday, 16 December 2015 | 17:02

indoPetroNews.com - Indonesian Petroleum Association (IPA) mencatat dengan perkiraan yang kasar, saat ini rata-rata ongkos produksi minyak di hulu sekitar US$ 30 per barel.

Para pengusaha sektor migas jelas merasa resah dengan tren merosotnya harga minyak mentah dunia ini. Para pengusaha tersebut mengaku, khawatir jika harga terus turun seperti sekarang, maka makin mendekati ongkos produksi di sumur–sumur minyak yang mereka kelola.

Para pengusaha di sektor minyak dan gas bumi (migas) mengaku, akan berhati-hati dalam menetapkan rencana investasinya. Oleh karena itu, Pemerintah berencana akan memberikan berbagai insentif di sektor migas agar para pengusaha merasa aman dalam berinvestasi.

Direktur IPA Sammy Hamzah mengungkapkan, saat ini pelaku industri migas terus memantau secara hati-hati pergerakan harga minyak. Kondisi ini jelas membuat pengusaha migas akan jauh lebih berhati-hati dalam menetapkan rencana investasi mereka di tahun depan.

"Terutama investasi untuk eksploitasi pada lapangan–lapangan migas yang berlokasi di lepas pantai. Pasalnya, ongkos produksi minyak di lepas pantai sudah pasti jauh lebih mahal dibandingkan di darat," kata Sammy, di Jakarta, Rabu (16/12).

Artinya, Sammy mengatakan, para pengusaha migas bukan cuma menghemat ongkos eksploitasi. Bahkan, dalam kondisi ketidakpastian harga minyak seperti sekarang, biasanya pengusaha memilih untuk memangkas alokasi investasi untuk eksplorasi migas.

"Pengembangan lapangan justru akan ditinjau ulang, kalau masih belum produksi. Kalau tingkat keekonomiannya tidak masuk di harga US$ 34 per barel atau US$ 40 per barel akan mereka akan pilih menunda," ujarnya.

Sependapat dengan Sammy, Direktur Operasi Saka Energi, Tumbur Parlindungan mengaku, untuk mengatasi agar margin ongkos produksi dengan harga jual tidak menipis, perusahaan minyak saat ini terus berupaya melakukan berbagai cara untuk efisiensi di semua lini.

"Kami juga telah mengurangi jam kerja karyawan, sehingga tidak ada lagi karyawan yang melakukan lembur. Di sisi lain, dengan cara ini perusahaan bisa mengurangi biaya perusahaan untuk listrik," kata Tumbur.

Dengan seluruh cara untuk mengurangi cost perusahaannya, Tumbur mengaku dapat menekan biaya produksi mencapai US$ 14–US$ 15 per barel. Dengan besaran biaya tersebut, Saka pun yakin masih bisa melakukan kegiatan produksi pada tahun depan biarpun penurunan harga minyak telah menyentuh level US$ 35 per barel.

Seperti diketahui, harga minyak mentah dunia terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu yang lalu. Bahkan, hingga pkl 20.30 WIB tadi malam, harga minyak mentah dunia berada di level US$ 36,31 per barel, dan harga ini merupakan harga terendah sejak Februari 2009 yang lalu. (ehs)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login