IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Perekonomian Sektor Migas Loyo Akibat Jebloknya Harga Crude

Perekonomian Sektor Migas Loyo Akibat Jebloknya Harga Crude

Written By Indopetro portal on Thursday, 11 February 2016 | 17:15

indoPetroNews.com-Melorotnya harga minyak mentah dunia selain membawa dampak serius pada perekonomian sektor minyak dan gas.  Apa saja dampak sosial dan ekonominya?

Jebloknya  harga minyak mentah di pasar internasional adalah blessing in disguise bagi Indonesia.  Walaupun demikian, ada beberapa ancaman mengintai. “Pertama, menurunnya pendapatan negara dari minyak dan gas (migas). Kedua, tidak tumbuh dan berkembangnya energi baru terbarukan karena minyak berbasis fosil masih murah,” kata Dr Iwan Ratman President Director/CEO Petro T & C Internasional kepada indopetronews.com Kamis (11/2/2016) di Jakarta.

Para analis dan pebisnis minyak memprediksi harga minyak bakal jeblok hingga 15 USD per barel. “Apalagi embargo terhadap Iran sudah dibuka. Iran menggenjot prcduksi minyaknya. Pun juga Rusia,”terang Iwan. Bila supplay melebihi demand maka  otomatis harga akan turun tajam.

Lalu, imbasnya bagi Indonesia? “Penerimaan negara dari migas akan turun. Apalagi produksi minyak mentah kita  berada pada kisaran 870.000 barel per day,” tegas Iwan.  Akibat anjloknya harga minyak tentu menyebabkan para investor menunda investasinya.

Lebih jauh Iwan mengutarakan melorotnya harga minyak juga menyebabkan tidak bergairahnya perusahaan-perusahaan KKKS yang sudah berproduksi. “Mereka akan membiarkan declining production. Misalnya sumur atau reservoarnya sudah lemah, ya enggak akan ngebor lagi. Karena ngebor itu membutuhkan cost,” terang Iwan.

Mereka, imbuh Iwan, tentu berpikir lebih baik cadangannya disimpan dulu sembari menunggu harga kembali beringsut naik. “Kalau ini terjadi secara massif pada KKKS yang berprodukis maka  perekonomian di sektor migas akan loyo,” tandas Iwan.

Menurut Iwan, perusahaan-perusahaan penunjang migas pun pasti terimbas anjloknya harga minyak mentah. “Mereka sepi atau bahkan tidak dapat order. Kalau tidak dapat order maka akan terjadi rasionalisasi dan efisiensi,” kata Iwan. Jadi, dampaknya sosialnya cukup berat.
Kendati demikian, lanjut Iwan, dibalik turunnya harga minyak dunia ada hikmah. “Turunnya harga minyak global, seharusnya diimbangi dengan turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ini demi mengurangi beban hidup rakyat,” tegas Iwan. Secara logika, kata Iwan, bila harga crude turun ongkos produksi  pun turun. Dan kalau ongkos produksi turun, harga jual produknya juga harus turun.

Iwan berharap Pertamina tidak berpikir untuk menjaga margin. “Kalau harga crudenya turun, dia (Pertamina) belinya turun tapi harga produknya enggak turun berarti delta profitnya Pertamina yang dapat. Rakyat tidak menikmati turunnya harga minyak. Ini harus disikapi dengan arif," harap Iwan.

Seperti diketahui, harga minyak mentah AS kembali terpuruk pada sesi awal perdagangan Asia hari ini, Kamis (11/2/2016) ketika stok persediaan minyak mencapai rekor tertinggi. Sementara itu Goldman Sachs memperkirakan harga minyak global akan terus melemah dan cenderung stabil hingga pertengahan tahun ini.

Dilansir Reuters, minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat ada di posisi USD27,37 per barel pada pukul 00.22 GMT, turun 8 sen dari penutupan sebelumnya dan menyusut secara total sebesar 20% sejak akhir Januari lalu. Dan minyak global jenis brent sempat naik ke posisi USD31,90 per barel, namun turun lagi ke posisi USD31,46. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login