IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , » Menpar Arief Yahya Terima Tantangan Sekjen UN-WTO

Menpar Arief Yahya Terima Tantangan Sekjen UN-WTO

Written By Indopetro portal on Saturday, 12 March 2016 | 23:29

petroWisata.indoPetroNews.com  – Sekjen UN-WTO – United Nation World Tourism Organization Taleb Rifai empat puluh lima menit memuji-muji kepintaran Menpar Arief Yahya membawa pariwisata Indonesia melompat lebih jauh. Profesor Architecture lulusan University of Cairo 1973, Illinois Institute of Technology (IIT) Chicago, PhD di bidang “Urban Design and Regional Planning” University of Pennsylvania, US itu berkali-kali menjadikan Indonesia sebagai contoh. “Di CNN International, saya selalu jadikan pariwisata Indonesia sebagai contoh sukses,” ucap Thalib Rifai, Sekjen UN-WTO sejak 1 Januari 2010 itu.

Statemen Taleb Rifai itu disampaikan dalam pertemuan resmi dengan Arief Yahya di Booth Wonderful Indonesia di ICC Messe Berlin, tempat Internationale Tourismus Borse (ITB), 11 Maret 2016. Di pameran pariwisata paling akbar di dunia itu, Taleb Rifai juga memuji Indonesia yang cepat, cerdas, dan cekatan menangani terorisme di Pos Polisi Thamrin, Jakarta, 13 Januari 2016 itu. Karena itu, Taleb juga memaafkan Arief Yahya yang terpaksa membatalkan kunjungan ke FITUR 2016 di Madrid, 18-22 Januari 2016.

Thalib memahami “suasana batin” Menpar Arief Yahya yang sedang berduka pada waktu itu. Meskipun, sudah berjanji sebelumnya untuk tampil dan speech di depan forum pelaku industry pariwisata dunia, kala itu. “Tapi kami mengakui, cara menghandle musibah terorisme dari sisi pariwisata yang dilakukan Pak Menpar, sangat cerdas dan cepat. Ini contoh yang bagus, jika ada peristiwa serupa di seluruh dunia, jangan sembunyi, jangan melarikan diri, dan tidak ada penjelasan yang baik. Justru harus ada penjelasan yang masuk akal, komprehensif, dan baik,” sebut Taleb yang lagi-lagi mengapresiasi Menpar Arief Yahya.

Taleb juga meminta kepada negara-negara lain, negara tetangga, agar tidak cepat-cepat mengeluarkan “travel advice” sebelum mendengar dan melihat dengan benar, situasi yang sesungguhnya terjadi. “Karena negara yang sedang kena musibah itu bisa tertimpa dua kali sebagai korban. Ya korban bom dan efek security yang membuat turis lari? Juga peringatan dan larang bepergian dari pemerintah ke negara yang sedang jadi korban itu?” kata Taleb Rivai.

Turis pun semakin sulit untuk traveling di negara yang sedang didera isu teroris seperti itu. Jika travel advice dan lanjut sampai travel warning, itu ibarat bencana bagi negara destinasi wisata itu. Karena dampaknya langsung pada insurance yang akan meng-cover segala sesuatu yang disebabkan oleh urusan traveling. Asuransi tidak akan bertanggung jawab, jika negara sudah mengeluarkan “surat sakti” seperti itu.

Dia punya sindiran halus yang khas, “jangan diisolasi” negara yang sedang terkena musibah akibat ulah teroris seperti itu. Karena itu akan membuat si teroris merasa menang dan di atas angin. Jangan beri ruang gerak buat teroris. “Apa yang dilakukan Indonesia, sangat hebat! Contoh yang bagus,” ungkap Rifai Taib.

Arief pun menambahkan, setiap negara tetangga –tanpa menyebut nama negara—terjadi peristiwa yang luar biasa, Indonesia tidak terburu-buru mengeluarkan travel advise dan travel warning. Karena belum tentu peristiwanya sedahsyat yang dilihat, dibaca, dan dibayangkan melalui medsos maupun reportase media mainstream. “Tetapi kenapa ya, tetangga kami membalas sebaliknya?” tanya Arief Yahya. Talib pun menjawab spontan: “Itulah dunia..!”

Arief Yahya juga minta maaf ke UN-WTO, karena batal menjadi nara sumber dalam sesi seminar di ITB Berlin, 9 Maret 2016. Maklum, Kemenpar masih punya gawe besar, sebagai tuan rumah Gerhana Matahari Total (GMT) di 12 provinsi di tanah air dengan 100 event di seluruh Indonesia. Jelas, kegiatan kepariwisataan yang tidak mungkin dia tinggalkan. “Karena itu, kami mohon maaf. Dua kali membatalkan acara dengan UN-WTO,” aku Arief.

Rifai Taleb berkata jujur, presentasi Menpar Arief Yahya sangat ditunggu-tunggu, terhadap banyak hal. Implementasi dari portopolio bisnis, ke dalam level functional strategy, menggabungkan antara teori dan praktik, di sector pariwisata. Banyak ilmu baru yang bisa di-share ke dunia internasional, sebagai referensi dunia akan cetusan-cetusan baru experiences Kemenpar RI. “Karena itu, kami mengundang Pak Menpar Arief Yahya ke Barcelona, untuk berbicara dengan pelaku bisnis dan industry pariwisata di Spanyol,” pinta Sekjen Rifai Taleb untuk kali ketiga, dan wanti-wanti untuk hadir.

Itu poin pertama, agenda meeting yang diminta Rifai Talib kepada Menpar Arief, dan langsung disetujui. “Oke, saya setuju, saya akan datang, dan saya akan share banyak hal baru di pariwisata. Kebetulan, Menpar juga punya agenda untuk bekerjasama dengan expertis heritage Spanyol, Paradores yang sudah jatuh bangun sejak 1928 menangani jaringan 94 hotel terbaik yang menggunakan konsep restorasi heritage,” jawab Arief Yahya.

Poin kedua, Rifai Talib juga meminta Menpar Arief Yahya hadir di China, 19-21 Mei 2016, UN-WTO bersama Pemerintah Tiongkok sedang membicarakan sustainable tourism, maritime tourism dan melihat impact pembangunan pariwisata terhadap devisa yang diterima negara. Dia ingin melibatkan para menteri dari 5 negara Asia yang masuk G-20, yakni China, India, Jepang, Korea Selatan dan Indonesia. “Saya setuju, saya akan datang, dan saya usulkan khusus ada tema pembahasan Jalur Admiral Cheng Ho yang ujungnya sampai ke Indonesia,” pinta Arief, yang akan didiskusika bentuknya ke The China National Tourism Administration (CNTA) Mr. Li Jinzao.

Jika jalur darat China itu dikemas dengan Silk Road –one belt, one road—melalui China daratan ke arah Eropa dan Selatan, maka Jalur Cheng Ho ini bisa dibuat jalur perdagangan baru melalui laut. Masih ada artefaknya, terutama di 10 pesisir dari Aceh, Batam, Belitung, Palembang, Jakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, Surabaya dan Bali, sekitar tahun 1371 – 1435.

Poin ketiga, kelanjutan kesepakatan UN-WTO dengan Kemenpar soal kerjasama observatory. Tiga kawasan destinasi yang akan diobservasi, dengan pendekatan Sustainable Tourism Development (STD) oleh UN-WTO didampingi perguruan tinggi nasional yang melihat kaitan antara community, destinastion, dan sustainability. Lokasinya, Pangandaran dengan tim ITB Bandung, Kulonprogo Jogja dengan UGM, dan Mandalika dengan Universitas Mataram. “Poin ketiga ini akan kami launching pada saat PATA Fair 2016 di Jakarta, September 2016,” paparnya.

Tiga poin tantangan itu, langsung dijawab oleh Menpar Arief Yahya. Karena itu, pertemuan 45 menit di up level booth Wonderful Indonesia itu sangat efektif. “Senang bertemu dengan menteri yang berpandangan global,” puji Taleb Rifai.(*)




Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login