IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Malang Raya Jadi Kolam Inspirasi ICCC 2016

Malang Raya Jadi Kolam Inspirasi ICCC 2016

Written By Indopetro portal on Monday, 4 April 2016 | 19:47

MALANG – Beruntung Kota Malang Raya menjadi host dari event Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) 2016. Acara yang dimulai digelar (31/3) itu benar-benar menjadi kolam inspirasi, ajang berbagai ilmu dan pengalaman seputar industri kreatif. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, hingga Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf membeber tips sukses dalam industri yang banyak didominasi anak-anak muda itu.

Masih ada banyak pembicara yang dihadirkan dalam konferensi ICCC di Harris Hotel & Conventions Malang itu. Hadir juga Wakil Ketua Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam, Anggota Komisi X DPR RI Moreno Soeprapto, Wali Kota Malang Moch. Anton, Wali Kota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto, hingga Ketua DPRD Kota Malang Arif Wicaksono, dan masih banyak lagi.

Dalam presentasinya, Kang Emil menyebut bahwa kota kreatif adalah tempat pertemuan dari 3T. Yakni talenta, teknologi, dan toleransi. ”Kita Harus bisa menyatukan tiga hal tersebut,” ujar walikota Bandung yang tergolong eksis di Twitterland itu.

Upaya mewujudkan 3T bisa dilakukan dengan memperbanyak ruang interaksi sosial. Baik itu berupa tempat nongkrong maupun taman. Biasanya, di tempat-tempat seperti ini muncul ide-ide baru. ”Anak muda itu harus dibuat sibuk. Agar tidak terjerumus ke hal negatif,” papar Kang Emil.

Kang Emil berpesan agar Kota Malang memilih salah satu produk kreatif unggulannya. ”Jadilah ‘dokter spesialis’. Jangan jadi ‘dokter umum’,” pesan Kang Emil buat Kota Ngalam yang selama ini juga dinilai banyak melahirkan anak-anak kreatif. Menurutnya, tidak ada satu pun kota di dunia yang sukses dengan konsep 16 sentra kreatif, tidak focus.

Dia menyebut, ekonomi kreatif punya dampak yang besar. Ambil contoh apa yang terjadi pada Facebook. ”Facebook itu kalau sekarang dijual, harganya Rp 4 ribu triliun,” paparnya. Padahal, semula dikonsep dengan model yang simple, hanya beberapa gelintir manusia saja. Kini sudah menjadi perusahaan raksasa dunia, dan mendunia.

Sementara itu, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia Triawan Munaf mengatakan, industri kreatif berkontribusi 6,1 persen terhadap perekonomian dunia. ”Tidak seperti sumur-sumur minyak. Sumur-sumur kreativitas tak pernah kering,” ujarnya sambil menjelaskan, konses sustainable development industry. Kreativitas bisa lahir dari mana saja, dari siapa saja, tidak memandang strata social.

Triawan berharap, ICCC yang telah digelar untuk dua kalinya itu, mampu menemukan potensi kreatif dan inovasi dari setiap kabupaten atau kota di Indonesia. Sehingga dapat menjadi daya utama bagi peningkatan ekonomi.

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Malang Moch. Anton mengapresiasi saran dari Kang Emil. Anton berjanji akan menambah ruang kreatif di Kota Malang. ”Segera akan kita tambah dengan memaksimalkan gedung kelurahan,” ujarnya.

Menpar Arief Yahya dalam berbagai kesempatan mengharapkan ICCC Malang ini melahirkan wadah bagi anak-anak muda berkreasi. Semacam tempat untuk membesarkan start up company, agar mereka terus berkarya, sebelum terjun di level professional dan bersaing global. “Wadah itulah yang akan menjadi induk untuk menelorkan kreator-kreator muda dalam menjemput sukses di creative industry,” jelasnya.

Sejak menjadi Dirut PT Telkom, Arief Yahya memang membuat program inkubasi start up company. “Ingat, hanya 5 persen start up yang sukses, sisanya 95 persen gagal. Ingat juga, hanya 1,5% start up yang berhasil mendapatkan pinjaman modal dari bank, atau fundable, atau bankable. Sisanya, 98,5 persen belum dipercaya bank untuk memperoleh modal usaha. Itu juga kesimpulan saya semata, tapi berdasarkan penelitian yang dilakukan Shikhar Gosh, dari Harvard Business School,” ungkap Arief Yahya yang sudah malang melintang membuat portofolio bisnis itu.

Tetapi apakah angka keberhasilan yang tipis itu berarti tidak ada peluang? “Tidak! Ke depan justru creative industry atau cultural industry inilah yang akan menjadi gelombang ke-empat, setelah tiga revolusi yang ditulis Alfin Toffler dengan The Third Wave itu berakhir. Yakni Revolusi Agriculture, Revolusi Manufacture dan Revolusi Teknologi Informasi. Di ICCC inilah creative industry bakal menemukan ekosistemnya kedepan."kata dia.(*)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login