IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Marinir Jaga Bawah Laut 7 Top Destinasi Pariwisata

Marinir Jaga Bawah Laut 7 Top Destinasi Pariwisata

Written By Indopetro portal on Sunday, 24 April 2016 | 20:13

JAKARTA – Menteri Pariwisata Arief Yahya memuji komitmen Marinir Angkatan Laut Indonesia yang peduli dan konsisten dalam konservasi bawah laut nusantara. Dari membiakkan terumbu karang, menjaga habitat biota dalam laut, sampai menanam mangrove di bibir pantai. “Saya senang jika gerakan itu juga menyentuh 7 dari 10 top destinasi pariwisata prirotas yang sudah ditetapkan Presiden Joko Widodo,” kata Menpar Arief Yahya, saat menerima Dankomar Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, di Gedung Sapta Pesona, Kemenpar, 22 April 2015.

Tujuh dari 10 destinasi itu adalah Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara. Ketujuh titik itu semuanya destinasi wisata berbasis bahari atau marine tourism. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan untuk kawasan wisata berbasis maritime lain, seperti Bunaken (Manado), Lembeh (Bitung), Derawan (Kaltim), Raja Ampat (Papua), Sabang (Aceh), Bintan (Kepri), dan masih banyak coral site lain yang istimewa.

Menurut Arief Yahya, kemenpar terus mendorong pengembangan pariwisata dengan konsep STD, Sustainable Tourism Development. “Semakin dilestarikan semakin mensejahterakan. Contohnya sudah banyak, seperti Pemuteran, Buleleng, Bali dan Carocok Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mereka menjaga terumbu karang, membiakkan, mentransplantasi, agar hidup dan berkembang. Dia akan menjadi habitat ikan-ikan, dan di situlah objek wisata akan hidup. Turis datang, bertestimoni, dan mendorong orang lain untuk menemukan sensasi keindahan bawah laut yang sana,” kata Arief Yahya.

Menpar menjelaskan, soal konservasi, menjaga biota bawah laut, terumbu karang dan ikan-ikan yang hidup di habitatnya, itu menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Lalu pemanfaatkan laut untuk budidaya dan tangkap ikan, itu menjadi domain Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Pariwisata adalah pemanfaatkan potensi keindahan laut itu untuk menghasilkan devisa dari turisme,” jelas Arief Yahya.

Apa yang telah dilakukan Korp Marinir dengan penanaman atau transplantasi terumbu karang, mangrove, sampai dengan pembersihan sampah di laut itu, menurut Arief, pantas diapresiasi. TNI AL memberikan contoh yang konkret, kepada public, dan mereka yang tinggal di daerah pesisir pantai.

Jangan membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai yang bermuara ke laut. Lebih mudah dan murah, menjaga agar laut tetap bersih dan bebas polusi, daripada membersihkan laut yang sudah terlanjur kotor.

Karena itu, community atau masyarakat harus dilibatkan dalam kampanye sadar wisata bahari. Menpar pernah menghitung dan membandingkan Carocok, Mandeh, dan Sungai Nyalo, ketiganya berada di Pesisir Selatan, Sumbar. Masyarakat yang susah “move on” dan masih setia dengan pekerjaan tangkap ikan, rata-rata pendapatan per harinya hanya Rp 50 ribu. Itu terjadi di Mandeh dan Sungai Nyalo. “Sedangkan di Carocok, yang jaraknya hanya di balik bukit kecil, hidupnya lebih sejahtera, indeks kebahagiaan naik, pendapatan rata-rata Rp 225 ribu per hari. Mereka mengantarkan turis dan menjadi guide pada wisatawan yang hendak berkeliling kawasan ‘Raja Ampat’-nya Sumatera itu,” jelas Arief.

Dua pekerjaan yang bertolak belakang, hasilnya juga 180 derajad berbeda. Yang satu menangkap ikan, terkadang merusak terumbu karang. Yang satu lagi menjaga terumbu karang, agar ikannya semakin banyak, dan objek wisatanya semakin cantik. Ikan dan terumbu karang itu menjadi komoditas untuk tontonan, bukan untuk diambil dan dibawa pergi. “Di sinilah, tejemahan dari sustainabilitas pariwisata, Semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,’ sebut Arief Yahya.

Komandan korps marinir Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana sendiri menjelaskan, pihaknya sudah sering menjalani aktivitas pelestarian lingkungan di kawasan bahari itu. “Kami akan mendukung pariwisata, dengan tetap melanjutkan program konservasi bawah laut ini. Seperti Bunaken, wall bawah lautnya sudah berubah hitam. Kami akan boor manual, lalu menempel terumbu karang, disemai di dinding palung yang indah itu,” kata Buyung Lalana.

“Kami juga terus menyisir pantai-pantai, membereskan sampah di Teluk Jakarta yang setiap bulan bisa bertruk-truk. Kami juga ingin kesadaran masyarakat semakin tinggi dengan laut kita,” lanjut Buyung yang menyerahkan buku Save Our Littoral Life, yang berisi potret dan rekaman kegiatan Marinir dalam konservasi bawah laut.

Khusus di Kepulauan Seribu Jakarta, pihaknya sedang mengumpulkan coral dari berbagai tempat di Indonesia, dan sebagian sudah dikarantina agar bisa menyesiakan diri dengan habitat sebelumnya. Dengan begitu, Kepulauan Seribu bisa menjadi taman bawah laut yang paling lengkap, paling menarik, dan akan didatangi biota yang lebih banyak.

Seperti diketahui, sejak Agustus 2015, Marinir sudah mencanangkan penanaman sejuta terumbu karang, terutama di Manado, Pulau We Aceh, dan Ambon. Itu dilakukan secara serentak di lahan seluas 100 hektare, dan puncaknya digelar di pantai Malalayang Manado 16 Agustus 2015. Kegiatan itu adalah bentuk aksi kepedulian marinir terhadap terumbu karang yang kondisinya sudah memprihatinkan.

Menurut data Marinir dan Kementerian Kelautan, kondisi terumbu karang Indonesia, dari 60 ribu kilometer luas terumbu karang 39,76 persen, sudah rusak berat dan 31,46 dalam kondisi rusak.

Dari jumlah itu hanya 22,68 persen yang masuk dalam kategori bagus dan 6,1 persen sangat bagus. Penyebabnya, penangkapan ikan dengan bom, pengambilan karang secara liar, sedimentasi, kenaikan keasaman Laut dan lain-lain.(*)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login