IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Investasi Migas Melorot, Ekonomi Indonesia Terancam

Investasi Migas Melorot, Ekonomi Indonesia Terancam

Written By Indopetro portal on Wednesday, 11 May 2016 | 10:38

indoPetroNews.com-Pemerintah diminta mewaspadai dampak tersembunyi tren harga minyak murah. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia. Pengurangan belanja investasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan migas dapat mengancam ketahanan energi nasional.
Hal ini disampaikan para pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Indonesian Petroleum Association (IPA), Selasa (10/5/2016) di Jakarta.
Dalam perhitungan perusahaan riset Wood Mackenzie, secara global industri migas telah mengurangi belanja investasi hingga US$ 400 miliar sejak kuartal IV-2014 hingga kuartal II-2016. Sedangkan pada tahun ini, investasi kegiatan eksplorasi diperkirakan turun sekitar US$ 40 miliar.
Andrew Harwood, Senior Research Manager - Southern & South-Eastern Asia, Upstream Oil & Gas, at Wood Mackenzie, mengatakan kondisi serupa juga terjadi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan migas utama di Indonesia telah menunda investasinya hingga US$ 7 miliar.
Jika situasi ini berlanjut dan tidak ada perbaikan dari pemerintah, produksi migas Indonesia diperkirakan merosot hingga 40 persen pada 2025. Ini disebabkan penundaan sejumlah proyek migas besar seperti Masela, Tangguh, dan Indonesian Deepwater Development (IDD).
Harga minyak yang rendah akan memperburuk produksi dan prospek eksplorasi di Indonesia yang akan mengancam cadangan migas. Terutama ketika harga minyak naik seiring defisit pasokan minyak hingga 20 juta barel per hari pada 2025,” kata Harwood.
Bagi pemerintah, berkurangnya produksi akan berimplikasi terhadap penerimaan negara. Alhasil, situasi saat ini seharusnya dapat menjadi pertimbangan pemerintah untuk melakukan reformasi kebijakan dan fiskal untuk memperbaiki iklim investasi di sektor migas.
“Terutama tingkat bagi hasil produksi migas Indonesia mencapai sekitar 80 persen, menjadikannya termasuk yang tertinggi jika dibandingkan rata-rata global sebesar 62 persen dan Asia Pasifik sebesar 70 persen,” kata Harwood.
Dalam lingkungan harga minyak saat ini, perusahaan migas terpaksa mengencangkan ikat pinggang dengan mengurangi investasi. Implikasinya, akan menyebabkan rasio pergantian cadangan (reserve replacement ratio/RRR) menurun. Sehingga produksi migas Indonesia kedepannya juga akan ikut menurun, ujar Ronald Gunawan, IPA Board member. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login