IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Pengamat : Ada Dugaan Pemaksaan agar Pertamina Mundur dari Tender PLTGU Java 1

Pengamat : Ada Dugaan Pemaksaan agar Pertamina Mundur dari Tender PLTGU Java 1

Written By kusairi kusairi on Monday, 27 June 2016 | 14:30

indoPetroNews.com - Ada dugaan operasi pemaksaan terhadap Pertamina untuk mengurungkan niat ikut tender dalam Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Java 1. Pasalnya, kompetitor lain tidak akan bisa bersaing dengan Pertamina yang dapat membangun PLTGU lebih lebih cepat dan lebih efisien.

“Adapun operasi yang dilakukan untuk menekan direksi Pertamina dimulai dengan adanya perintah lisan dari salah satu anggota Komisaris Pertamina, agar Pertamina tidak usah terlibat di bisnis power, sehingga harus mundur dari peserta tender PLTGU Java 1,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) kepada indoPetroNews.com Senin (27/6/2016) di Jakarta.

Anehnya, kata Yusri, sang komisaris tersebut menyatakan perintah itu atas arahan Menteri BUMN. Padahal Pertamina melalui keputusan BoD (Board of Director ) sudah memutuskan untuk tetap maju tender Java 1, meski RFP dari PLN direvisi ditengah jalan dengan tidak memasukkan LNG suplai sebagai kewajiban pemenang tender IPP yang dikenal dengan istilah “lockin”, tetapi energi primer gas disediakan oleh PLN dan sudah dapat jaminan suplai LNG dari Tangguh.

“Lucunya kebijakan PLN sebagai BUMN adalah untuk menutup peluang Pertamina yang bisa lebih murah menawar dalam tender PLTGU ini. Padahal kesiapan Pertamina dalam tender PLTGU Java 1 sangat baik untuk kepentingan korporasi dan PLN lebih murah membeli listriknya dan tentu rakyat juga yang akan diuntungkan akibat efisiensi ini,” jelasnya.

Seperti diketahui, sesuai Request For Proposal (RFP) dari PT PLN yang dibuat oleh konsultan Ernst & Young sebagai kuasa PLN, untuk melelang pekerjaan PLTGU Java, dengan rencana titik serah listrik bisa dilakukan di dua titik, yaitu Muara Tawar dan Cibatu Baru (dekat dengan Cilamaya).

Dua titik serah ini, kata Yusri, mempertimbangkan efisien pembangunan PLTGU.
“Peluang lokasi ini yang sangat menguntungkan bagi konsorsium Pertamina karena bisa menggunakan Cilamaya untuk membangun PLTGU nya. Sedangkan bagi peserta yang lain bisa membangun PLTGU tersebut di dekat Muara Tawar harus dengan cara mereklamasi pantai Muara Tawar,” paparnya.

Namun demikian, ungkap Yusri, reklamasi tersebut termasuk dalam biaya proyek investasi sehingga ketentuan ini membuat peserta lain tidak akan bisa bersaing dengan Pertamina yang tentu saja akan jauh lebih murah dan lebih cepat membangunnya dibandingkan peserta yang lain, yaitu mampu menyelesaikan CoD (commerce operation date) pada 2019. “Bahkan bisa lebih cepat dari jadwal proyek,” terang konsultan beberapa perusahaan migas ini.

Keunggulan Pertamina inilah, lanjut Yusri, yang ditakuti oleh peserta lain sebagai kompetitornya. “Karena itu tidak heran bila mereka melakukan segala cara yang tidak etis dengan memperalat Kementerian BUMN, melalui salah seorang komisarisnya untuk memaksa Pertamina untuk mundur dari keikutsertaannya dalam proyek ini,” papar Yusri. Seperti diketahui rencana batas penawarannya dilakukan pada 25 Juli 2016. (Sofyan)A
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login