IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Pengamat : Swasembada Solar Pertamina Seolah-olah Prestasi Luar Biasa

Pengamat : Swasembada Solar Pertamina Seolah-olah Prestasi Luar Biasa

Written By kusairi kusairi on Saturday, 16 July 2016 | 21:43

indoPetroNews.com - Prestasi swasembada solar Pertamina selain mendapat acungan jempol dari Dirjen Migas juga mendapat kritik tajam dari pengamat kebijakan minyak dan gas bumi (migas). Pasalnya, swasembada solar dicapai bukan karena produksinya bertambah banyak tetapi karena serapan dari konsumsi yang turun, seperti diungkapkan Direktur Pengolahan PT Pertamina Rahmad Hardadi pada media CNN (20/4/2016).

“Kita secara cerdas harus mengevaluasi dulu berapa produksi dan konsumsi solar Pertamina pada 3 tahun belakangan ini. Sejak 2014 Pertamina mencatat permintaan solar dalam negeri sebesar 171.92 juta barel dan sebanyak 125.81 juta barel dipenuhi oleh kilang dalam negeri dan sisanya sebesar 46 juta barel dari impor,” kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) kepada indoPetroNews.com Sabtu (16/7/2016) di Jakarta.

Sementara pada 2015, lanjut Yusri, permintaan solar turun menjadi 148, 37 juta barel dan 125, 4 juta barel dari kilang dalam negeri dan sisanya 11, 6 juta barel di impor. Kalau akhir Mei 2016 Pertamina berhasil menambah pasokan solar 11.500 bph dari kilang TPPI, maka Pertamina selain tidak lagi mengimpor solar, juga berhasil memangkas impor

Termasuk, tanya Yusri, program bauran unsur nabati dalam solar atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang menghasilkan biosolar sudah berapa persentasenya. “Jangan sampai kelebihan pasokan yang dicitrakan sebagai "prestasi Pertamina" itu sesungguhnya merupakan beban bagi Pertamina. Karena faktanya, sejak 2015 daya serap solar lebih banyak pada aktifitas industri tambang mineral yang ditutup akibat larangan ekspor dan tambang batubara yang harganya anjlok,” paparnya.

Turunnya serapan konsumsi solar juga terjadi pada industri perikanan. “Hal ini akibat kebijakan Menteri KKP Susi Pujiastuti, yang dulu diduga banyak solar subsidi disalahgunakan penyalurannya dan dijual di tengah laut,” ungkap Yusri.

Lebih jauh Yusri memaparkan, penurunan konsumsi solar saat penembakan kapal-kapal pencuri ikan adalah sekitar 30% konsumsi nasional atau setara 7.000.000 KL. “Dan penurunan konsumsi PLN yang dulunya 10.000.000 KL saat ini tinggal 4.500.000 KL, plus kebijakan minyak nabati 20%. Walaupun implementasinya hanya max. 5%, tetapi dalam suratnya tertulis 20%, karena secara matematis 5% diblending dengan Rp = 20% nabati,” cetus Yusri. Fakta lainnya, beber Yusri, produksi nabati kalau dihitung max. cuma 5%, maka sebaiknya nabati dipatok max. 7% saja, karena sangat mengganggu engine alat alat berat, seperti daya kerja jadi berkurang dan pergantian filter tidak normal serta harus sering ganti.

Selain itu, lanjut konsultan beberapa perusahaan migas ini, juga karena lesunya aktifitas di perkebunan karena anjloknya harga beberapa komoditi, serta industri lainnya banyak mengalami pengurangan aktifitasnya. Faktor pertumbuhan ekonomi nasional dibawah kisaran 5 persen, imbuh Yusri, berakibat loyonya aktifitas industri dan ekonomi rakyat tentu akan membawa dampak pada menurunnya konsumsi solar.

"Kalau ini terjadi, maka yang harus dipikirkan dan dilakukan oleh Pertamina, mau dibawa ke mana hasil kelebihan produksi solar tersebut? Apakah produksi kilangnya akan diturunkan? Apabila kelebihan pasokan itu diekspor, tentu harus dikaji apakah kebijakan yang dilakukan tersebut akan memberikan profit atau beban usaha? Atau, hanya malah digunakan secara keliru sebagai pencitraan, seolah-olah hal tersebut prestasi luar biasa Pertamina," kata Yusri.

Karena itu, lanjut Yusri, mengekspor kelebihan produksi solar kita yang gradenya rendah bukanlah perkara mudah. Malah, ungkapnya, bisa-bisa Pertamina akan menderita kerugian, karena hanya negara yang tidak peduli terhadap lingkungan saja yang mau membelinya, itu pun dengan harga murah.

"Kesulitan Pertamina dalam mengekspor solar dapatlah dipahami. Karena solar produk Pertamina mempunyai spesifikasi kandungan "sulfurnya berkisar 500 sampai dengan 3500 ppm dengan Cetane Number 48" cenderung tidak ramah lingkungan. Bila mengacu pada standard Euro 2, yang mempersyaratkan kandungan sulfur 100 ppm, maka kira-kira negara mana yang mau tampung solar Pertamina, ?" tandas Yusri.

Seperti diketahui, beberapa media pada Kamis (14/7/2016) menurunkan berita tentang "sukses Pertamina dalam swasembada solar," yang disampaikan oleh Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro. Bahwa penyaluran biosolar pada periode yang sama juga mengalami penurunan, jumlahnya hanya mencapai 82 persen dari rata rata normal 35.319 kiloliter perhari.

Wianda juga menyatakan, penurunan komsumsi solar juga membuat Pertamina berhasil mencatatkan swasembada solar sehingga bisa mengurangi beban anggaran negara yang selama ini dikeluarkan untuk impor solar.

Keberhasilan Pertamina tersebut juga mendapatkan apresiasi Dirjen Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmajapuja dalam pemberitaan di media CNN dengan judul "Dirjen Migas Acungin Jempol Swasembada Solar Pertamina" (14/07/2016). Dirjen Migas menilai, capaian tersebut tidak hanya mengurangi beban anggaran Negara tetapi namun juga meningkatkan nilai tambah dari pembelian minyak mentah perusahaan. “Yang jelas kita beli crude dan diolah di dalam negeri. Jadi ada nilai tambah dengan pengolahan solar di dalam negeri,” ujar Dirjen Migas. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login