IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Kunci Sukses Pengembangan Gas Blok Natuna Ada pada Instumen Fiskal

Kunci Sukses Pengembangan Gas Blok Natuna Ada pada Instumen Fiskal

Written By Indopetro portal on Tuesday, 16 August 2016 | 11:08

indoPetroNews- Pengembangan gas Blok East Natuna (dulu bernama Natuna D-Alpha) yang memiliki kandungan karbondioksida (CO2) tinggi sehingga perlu teknologi tinggi. Masalahnya terletak pada calon investor yang siap untuk berinvestasi teknologi tinggi dan harga ekonomis.


“Selama harga gasnya masuk dan marginnya bisa tercapai maka investor tentu akan masuk. Kalau tidak ya tentu tidak akan mengembangkan gas di Natuna,” kata Fabby Tumiwa, pengamat energi di JakartaKarena itu, perlu kerangka kebijakan yang komprehensif dan insentif fiskal dari pemerintah.

Investor pasti minta pengurangan pajak dan pengurangan bea masuk untuk teknologinya dan lain semacamnya. “Pada titik inilah instrumen fiskal sangat bermain untuk membuat kelayakan ekonomi sebuah lapangan,” cetus Fabby.   

Sebagai catatan, upaya mengembangkan Blok East Natuna memang membutuhkan biaya investasi yang besar. Sebab, gas yang ada di blok yang dulunya bernama Natuna D-Alpha ini memiliki kandungan karbondioksida (CO2) sebesar 72 persen. Padahal, volume gas di tempat atau Initial Gas in Place (IGIP) sebesar 222 triliun kaki kubik (tcf), dan cadangan terbuktinya 46 tcf. Agar gas itu bisa dikomersialkan maka membutuhkan teknologi pemisahan CO2. Dari sisi teknologi, sebenarnya sudah ada yang bisa memisahkan CO2 dari gas.

Diakui oleh  Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) ini bahwa kebutuhan gas domestik sangat besar. “Saat ini defisit gas sudah mencapai 800.000 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Ke depan dengan kebutuhan gas yang semakin besar maka kita perlu mengembangkan lading/sumber gas untuk memenuhi kebutuhan gas domestik,” kata Fabby.  

Karena itu, Fabby berharap, gas untuk pembangkit dikurangi. “Fokuskan saja pada gas untuk industri karena mempunyai nilai tambah yang cukup besar. Untuk listrik cukup gunakan energi terbarukan,” katanya. Dengan demikian, cadangan gas dalam negeri dapat lebih lama umurnya dan mempunyai nilai tambah yang lebih besar.

Oleh sebab itu, Fabby mengusulkan, di masa depan, target energi baru terbarukan sebesar 23% pada 2025 perlu ditingkatkan lagi. “Strategi pemerintah setelah tahun 2025 harus meningkatkan target capaian EBT,” tandasnya. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login