IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Pemerintah Harus Agresif Bangun Infrastruktur Gas

Pemerintah Harus Agresif Bangun Infrastruktur Gas

Written By Indopetro portal on Wednesday, 31 August 2016 | 08:40

indoPetroNews- Tidak terbantahkan, Indonesia mempunyai supply gas yang melebihi demand-nya. Namun, sayangnya pemerintah gamang, mana yang harus didahulukan untuk dibangun; infrastruktur, permintaan, atau supply-nya.

“Negara-negara ASEAN (Association of South East Asia Nations) akan mengalami peningkatan demand untuk LNG (liquefied natural gas). Dan diekspektasikan akan menjadi net importir di tahun 2030. ASEAN akan berubah jadi net eksportir ke net importir di 2030,” kata Direktur Gas, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Pertamina, Yenni Andayani, pada Selasa (30/8/2016) di Jakarta.

Impor untuk ASEAN \akan sama seperti India dan Korea. “Dua negara itu sudah mulai impor LNG, di mana Korea mulai impor dua dekade lalu sedangkan India mungkin baru satu dekade lagi,” tambahnya.

Dia menyatakan bahwa negara-negara ASEAN bersiap-siap untuk menjadi negara importir. Sebagian dari mereka sudah mulai membangun infrastruktur LNG. “Untuk membangun receiving terminal dengan kapasitas mencapai 70 juta ton per annum yang diharapkan beroperasi mulai 2023,” terangnya.

Menurut Yenni, ini tantangan besar bagi negeri ini. “Indonesia mungkin ada tiga infrastruktur yang akan datang seperti West Java FSRU, Lampung, dan Aceh. Ada lagi plan untuk nambah FSRU di Banten receiving terminal dan Central Java,” katanya.

Yenni berharap pemerintah harus segera agresif untuk membangun infrastruktur gas. Apalagi bila melihat Thailand. Vietnam, dan Filiphina. “Kita harus siap menghadapi kompetisi. Kalau semua negara ASEAN membangun infrastruktur gas dalam waktu bersamaan, untuk mendapatkan kontraktor adalah hal yang perlu kita pikirkan. Adalah sebuah kepentingan bagi kita untuk membangun fasilitas sendiri,” cetus Yenni sembari mengimbuhkan bahwa Indonesia adalah salah satu eksportir LNG terbesar di dunia pada era 80-an hingga 90-an.

Untuk itu, harap Yenni, pemerintah dapat menyadari dan mencari solusinya. “Harus dipikirkan cara mengoneksikan daerah di Indonesia yang supply LNG dan yang paling banyak menggunakannya. West Java dan Sumatera akan menjadi lokasi vital receiving terminal karena permintaannya yang banyak,” katanya.

Bila terlambat mengamankan energi maka akan jadi masalah. Diakui Yenni, sepanjang 2016 - 2022 Indonesia mempunyai ketersediaan gas secara global. “Tapi kita harus amankan sekarang. Tidak boleh nunggu sampai 2022 karena bisa kehilangan momentum,” tegasnya. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login